Di kontrakan.
"Dek.. sabunnya habis !!" Teriak Dyno dari dalam kamar mandi.
Dyana yang sedang memasak nasi goreng di dapur segera berlari menuju laci penyimpanan, mengambil sabun cair lalu memberikannya kepada Dyno.
Tak berapa lama kemudian, Kakak tengilnya kembali berteriak dari dalam kamar mandi.
"Guntingnya mana ?? Kok ga di buka sih sabunnya ?"
Dyana mendengus kesal. "Bentar !!!"
Ia kembali meninggalkan dapur dan mencari gunting di kamar. Membuka beberapa laci meja dan kotak penyimpanan atk dan akhirnya, ia menemukan gunting yang ia cari/cari.
Dyana memberikan gunting itu pada Dyno.
"Nih guntingnya !!!"
Dyno membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjulurkan tangannya keluar. " thanks."
Dyana masih berdiri di depan pintu kamar mandi sambil bersandar di tembok. Ia akan sigap jika si kakak cerewet itu kembali meminta sesuatu.
Baru saja Dyno menutup pintu kamar mandi, Dyno kembali berteriak. "Dek.. masakan lo angus tuh"
"Astaga !! Gue lupa !!" Sambil berlari menuju dapur.
"Hahahaha... dasar ceroboh !!" Ejek Dyno.
Seusai mandi, mereka berkumpul di meja makan dengan hidangan yang berwarna sedikit gelap di hadapan mereka. Dyno tertawa melihat nasi goreng berwarna aneh dan telur mata sapi hitam ala Dyana.
"Hahahahahaha!!! " Dyno tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah kesal sang adik.
"Ketawain aja !! Lagian ini gara-gara lo kak!! Masakan gue jadi angus semua!"
"Iya iya sorry. Yaudah.. yuk makan! Semoga aja enak."
Dyana menuangkan nasi dan meletakkan telur mata sapi di atas piring kakaknya itu. Dyno menerimanya dan menicipi sedikit. Tetapi, baru saja ia mengunyah, wajahnya berubah drastis dan ia tak mampu melanjutkan makannya.
"Muka lo merah.. lo sakit kak?"
"Uhuk.. uhuk.. ah.. minum tolong minum" ucap Dyno sambil terbatuk.
Dyana memberikan segelas air putih dan memberikannya pada Dyno. Ia menenggak habis air tersebut.
"Ahhhhh.... yah.. lumayanlah. Masakan lo.. ga ........ parah-parah banget"
"Hmmm... yakin?"
"Mmm.. yes. Of course." Ucap Dyno. Ia beranjak dari meja makan, lalu berjalan menuju kamar tamu dan mengambil barang-barangnya. Kemudian, ia melirik arloji.
"Udah jam 9. Gue mau ke kantor dulu. Oh iya.. kalau lo bosen, entar.. lo main aja ke apartement gue. Gue ga lama kok di kantor."
"Hmm.. kak.. ini kan akhir pekan. Kok .. kakak ke kantor ?"
"Yaahh.. gue... ada urusan. Yaudah.. gue pergi dulu. Bye"
Dyno berjalan menuju pintu depan dan meninggalkan Dyana di meja makannya. Dyana pun menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulut dan tiba-tiba..
"Uhuk... uhukk... asiiiiinnnn !!!!" Ia terbatuk dan segera menenggak segelas air putih sampai habis. "Pantesan kak Dyno ga mau makan..... asin banget !!" Ucapnya pada diri sendiri.
Akhirnya, ia pun tidak jadi sarapan karena rasa masakan dan kondisi masakan tersebut yang tidak lulus uji kelayakan untuk di makan. Segera ia membereskan meja makan yang berserak dan tanpa disadari waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Dyana harus bergegas ke kantor karena hari ini ia ada janji dengan Marcel untuk bertemu.
Dyana mengambil baju kerjanya di lemari dan mengoleskan sedikit make up agar tidak terlihat pucat. Kemudian, ia mencari kendaraan umum menuju kantornya.
Suasana di dalam bus tidak terlalu ramai. Mungkin para pekerja sedang menikmati akhir pekan mereka bersama keluarga.
Dyana hanya duduk dikursinya sambil menunggu bus berhenti di halte tujuan. Pikirannya berkelana jauh dan membawanya pada si boss arogan itu.
Mengapa Marcel mengajaknya bertemu di saat karyawan lainnya sedang libur?
Entahlah. Mungkin saat ini Marcel sedang merencanakan sesuatu seperti solusi untuk perusahaan mereka agar kembali normal seperti sedia kala. Who knows?.
Bus berhenti dan Dyana pun turun. Lalu, ia berjalan kaki menuju gedung kantornya.
Dari sisi jalan, terlihat sebuah mobil sedang membuntutinya. Dyana tidak menoleh. Di pikirannya, mungkin itu kak Dyno yang sedang iseng menjahilinya seperti kemarin. Tetapi, semakin ia jauh berjalan, mobil tersebut tidak membunyikan klakson atau menderukan mesin mobilnya.
Jantungnya mulai berdebar dan ia pun resah. Dyana pun memberanikan diri untuk menoleh dan tiba-tiba sesuatu mendarat tepat di wajahnya.
Bau amis dan busuk sekali. Apa ini??. Batin Dyana.
"Ahahahahaha !!! Yes tepat sasaran !! Yuhuu !!" Teriak seorang anak kecil dari dalam mobil tersebut. Anak kecil itu sedang memegang ketapel dan sebuah telur busuk di tangannya.
"Raqi.. apa yang kamu lakukan?" Tanya seorang wanita dari dalam mobil tersebut.
"Membasmi hama, tante !!"
Dyana mengenali suara anak kecil tersebut dan panggilan yang disebut oleh wanita di dalam mobil.
Raqi... yaah.. aku tau. Ini pasti.. Raquello. Anak pak Marcel. Uuh.. bau sekalii. Batin Dyana kesal.
Dyana mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengusap wajahnya dengan tisu tersebut. Sedangkan Qwe, tante Raquello, keluar dari mobil dan menghampiri Dyana.
"Omg.. aku minta maaf. Kelakuan keponakanku memang sedikit di luar batas. Aku minta maaf."
Sedikit ya.. hmmm. Batin Dyana kesal.
Ia berusaha mengulas senyuman di wajahnya yang penuh dengan kulit telur busuk. "Ya mbak. Tidak masalah. Saya .... ". Dyana terhenti saat melihat Qwe mual dan hampir muntah karena berada di dekat Dyana.
"Ooekk.. oooeekk uhhh.. bauuu sekalii. Sungguh.. maafkan saya mbak. Saya akan membawa anda ke.."
"Tidak perlu." Potong Dyana. "Saya akan membersihkannya nanti di toilet. Saya buru-buru. Permisi..."
Dyana segera berlari dan meninggalkan Qwe dan Raquello. Ia pun hampir muntah karena mencium bau busuk diwajahnya itu.
Ia meninggalkan Qwe dan Raquello begitu saja. Kali ini sikap Raquello benar-benar membuatnya marah. Bagaimana bisa anak berumur enam tahun berani menjahili orang dewasa seperti Dyana??
Mungkin, pak Marcel tidak mengajarkannya sopan santun di rumah. Batin Dyana marah.
Di sisi lain.
Qwe masuk ke dalam mobilnya, kembali duduk di samping Raqeullo dan memarahinya dengan tegas. Ia merebut ketapel yang sedang digenggamnya.
"Buang telur busuk itu Raqi !" Bentak Qwe tegas.
Raquello menurut dan membuang telur busuk itu ke luar jendela. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya.
"Kamu keterlaluan! Darimana kamu mendapatkan telur busuk itu hah ?"
"Tadi... aku ikut bibi ke pasar. Lalu, aku melihat ada telur busuk yang mau di buang oleh penjual telur ayam. Aku meminta beberapa telur dan membawanya pulang." Jawab Raquello menundukkan kepalanya.
"Hah.. untuk apa ?? Dan, kenapa kamu melemparkan telur itu kepada mbak yang tadi?"
Raquello mengangkat kepalanya dan menatap mata Qwe. "Dia itu... tante-tante yang berusaha menggoda papa, sama seperti tante Olive!"
Qwe terdiam sejenak. Kini, ia tahu. Jika wanita tadi adalah sekretaris baru Marcel yang ia ceritakan kemarin. Seperginya Olive dari perusahaan, Marcel mendapatkan assisten baru.
Qwe berusaha mencari Dyana. Namun, ia tidak menemukan Dyana di sana. Ia pun kembali memperingati Raquello.
"Raqi.. kamu tidak boleh seperti itu. Tante tadi itu cuma sekretaris papa kamu. Bukan hama atau apapun itu."
"Tapi tante, aku gak mau papa punya pacar. Kayak.... Tante Olive. Dia jahat sama aku. Dia cuma sayang sama papa dan menginginkan harta papa. Dan, aku juga yang membuat dia pergi jauh dari papa."
"Maksud kamu.... Olive jahat ???"
Raquello mengangguk. "Tante Olive bahkan pernah memarahi dan..... memukulku kalau papa ga ada di rumah"
"Apa??!!" Qwe terkejut.
*******
Dyana POV
Sabar, sabar, sabar. Aku harus sabar menghadapi bocah nakal itu. Kemarin dia membuatku malu di depan pak Marcel. Sekarang, dia juga membuatku malu di depan umum bahkan aku benar-benar terlihat buruk sekarang.
Selama aku berjalan kaki menuju kantor, semua orang yang lewat menutup hidung mereka bahkan melihatku hingga kepala mereka memutar dan hampir putus ke belakang.
Aku sendiri tidak sanggup mencium bau busuk telur ini. Ya ampun... kenapa sikap Raquello sangat tidak menyukaiku? Apa karena dia anak semata wayang dan selalu di manja sehingga dia bersikap seperti itu ??
Apapun itu, aku tidak peduli. Hal terpenting saat ini adalah aku harus segera sampai ke kantor dan membersihkan bau telur dan cairan menjijikkan ini dari wajahku. Rasanya aku ingin pingsan.
Sesampainya di kantor, aku melihat sebuah mobil milik pak Marcel terparkir di halaman depan kantor. Tetapi, aku berjalan melewatinya dan langsung masuk ke dalam sambil menutup wajahku dengan tas yang aku bawa. Perasaanku mengatakan, pak Marcel tahu jika aku melewati mobilnya.
Terdengar suara pintu mobil yang di banting dan langkah kaki yang mengikutiku dari belakang. Aku segera berlari menjauh dan pak Marcel mengejarku. Semakin aku berlari kencang, ia pun juga sama. Hingga akhirnya ia meraih lenganku dan membalikkan tubuhku.
"Uh... bau sekali !!" Jerit pak Marcel sambil menutup hidungnya.
"M..ma..maaf pak. Tadi.. ada kecelakaan kecil saat saya menuju ke kantor"
"Ooeeekk.. uuh.. siapa yang melakukan ini ??"
Aku terdiam. Aku tidak mungkin mengatakan jika anaknyalah yang melakukan hal ini padaku. Akhirnya, aku pun memilih diam dan berbohong pada pak Marcel.
"Tadi.. saya kepeleset di pasar deket kontrakan saya pak. Dan rupanya, ada telur busuk di... situ. Jadi.. kena muka saya deh.. hehe."
Wajah pak Marcel menunjukkan jika ia tidak percaya dengan cerita bohongan karyaku. Dia hanya menatap dingin sambil menutup hidungnya lalu membuang wajah.
"Bersihkan cepat. Aku tunggu kamu di luar."
"Baik, pak."
Aku meninggalkan pak Marcel dan berjalan menuju toilet. Aku segera mengusap wajahku dengan air. Sialnya, hari ini aku tidak membawa facial wash untuk membersihkan wajah. Sedangkan, bau busuk telur ini masih tercium.
Mataku mencari sesuatu. Aku harus menemukan sesuatu yang wangi untuk menghilangkan bau ini. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu benda. Sabun cuci tangan. Mau tidak mau, aku harus menggunakan itu.
Aku menuangkan sedikit sabun di telapak tanganku. Dan menggosokkannya. Tetapi, saat aku ingin mengusapkannya ke wajah, pak Marcel masuk ke toilet dan menghentikanku.
"Nih.. pakai ini saja"
Ia menyodorkan sebuah kantong plastik. Aku membukanya dan ternyata, terdapat banyak facial wash didalamnya. Semua jenis merk ia beli untukku. Aku melirik ke arah pak Marcel.
"Pakai salah satu. Aku tidak tau apa merk pencuci wajahmu. Jika aku membeli satu, aku takut kamu memiliki alergi pada sabun tertentu." Ucapnya canggung dengan tampang sombongnya.
Aku tersenyum. "Ini.. terlalu banyak pak.. tetapi.. terim....."
"Cepat cuci wajahmu!! Bau busuk kamu tercium hingga pintu keluar." Potongnya.
Ciihhh...
Baru saja aku ingin berterima kasih, tetapi sikap anehnya kembali muncul. Aku mendengus kesal dan memilih salah satu pencuci wajah yang biasa ku pakai.
Seusai memberikan barang tersebut, pak Marcel meninggalkan toilet dan kembali ke mobilnya. Aku pun segera menyelesaikan kegiatanku. Dan merasakan jika wajahku sudah tidak bau lagi.
Syukurlah..
Walaupun pak Marcel kadang terlihat sombong dan arogan, tetapi, setidaknya ia memiliki secuil hati nurani.
Yah.. hanya secuil. Tidak lebih.
*******
Marcel POV
Aku menerima telepon dari Qwe. Dia mengatakan jika Raquello membuat ulah lagi pada sekretarisku. Pantas saja jika Dyana datang dalam keadaan buruk seperti tadi.
Karena rasa bersalahku, aku membelikannya beberapa sabun pencuci wajah untuk menghilangkan bau telur di wajah Dyana.
Dari awal kemunculan Dyana di hadapan Raquello, ia tampak tidak senang dan selalu saja membuat ulah. Aku tidak tau apa penyebabnya. Tetapi, Raquello tidak akan bertingkah jika tidak ada sebab.
Aku melihat Dyana sedang berjalan menuju ke arahku. Wajahnya sudah kembali fresh dan ia membuka pintu mobil perlahan.
"Begini.. lebih baik" ucapku sedikit berdesis.
"Hmm.. iya pak. Saya sudah merasa lebih baik"
"Aku tidak meminta pendapatmu. Aku mengatakan ini untuk diriku sendiri." Balasku tanpa melihat ke arahnya.
Ia terdiam sejenak dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dyana bercerita banyak hal. Tentang sekolahnya, kuliah hingga ia bercita-cita bekerja di kantorku.
Tiba-tiba saja.. aku teringat pada hari itu. Hari dimana aku bertemu dengan seorang gadis supel yang berani mencuri hatiku, hati seorang Marcel Pratama.
*******
Author POV
Marcel membawa Dyana ke suatu tempat. Sebuah toko baju wanita. Dyana ingat sekali dengan butik ini. Butik yang pernah ia kunjungi saat menghadiri acara festival di sekolah Raquello.
"Pak.. kita.. mampir dulu?"
"Ya. Kita akan pergi rekreasi. Kamu harus menganti bajumu"
"Te..tt...tetapi pak.. baju di butik ini kan.. mahal sekali.."
Marcel menatap tajam tepat di mata Dyana. Dyana menelan ludahnya.
"Pp..paak.. ss..saya.. tidak bisa menerima hadiah terus menerus.." ucap Dyana gugup.
Marcel tidak menjawab dan segera mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil begitu saja tanpa memperdulikan ocehan gadis tersebut. Ia berjalan ke pintu samping dan membukakan pintu itu untuk Dyana.
Dyana menatap heran. Tiba-tiba saja, Marcel meraih tangan Dyana dan menggandengnya. Dyana bingung dengan sikap aneh Marcel. Wajah Marcel tidak menunjukkan reaksi apapun. Tetap dingin seperti biasa.
"P..pak.. ada apa ini??" Tanya Dyana heran sambil memicingkan mata di hadapan Marcel.
Marcel tidak menjawab dan langsung membuka pintu butik.
Beberapa pelayan menyambut Marcel dengan hangat dan senyuman manis di wajah mereka. Marcel pun membalas senyum para karyawan.
"Anda ingin membeli baju seperti apa tuan?"
"Saya dan keluarga akan pergi rekreasi. Tolong carikan baju yang sesuai untuknya."
"Wah.. pacar anda.. cantik sekali.. baiklah tuan. Saya akan mencarikan baju yang pas untuk nona...."
"Dyana." sambung Marcel.
Dyana memakai beberapa baju yang cocok dengannya dan pilihan Marcel jatuh pada baju long dress putih bertali satu dengan karet tipis di pinggang. Tubuh Dyana yang tinggi dan putih membuatnya cocok menggunakan pakaian apapun.
"Bagaimana, tuan?"
"Ini saja. Dan.. satu lagi.. tolong carikan cardigan yang cocok untuk baju ini. Saya takut, jika nanti dia kedinginan."
Dyana melongo. Ini pertama kalinya ia mendengar Marcel berbicara sangat ramah. Benar-benar berbeda dari biasanya. Lagi pula, Marcel tidak terlalu banyak bicara di kantor. Karena, selama ini ia sangat hemat jika berbicara pada karyawannya. Bahkan, ia sering mengabaikan ucapan yang menurutnya tidak penting.
Seusai membeli baju, Marcel segera mengemudikan mobilnya ke sebuah tempat. Menurut peta jalur, mereka akan menuju ke kota Bandung.
"Pak.. kita .. keluar kota??"
"Iya. Raquello dan sepupuku sudah di sana sejak satu jam yang lalu"
"Wah.. ini.. pertama kalinya saya ke Bandung."
Marcel tidak menjawab. Ia hanya diam selama perjalanan menuju Bandung. Hingga tak terasa mereka pun sampai di tujuan.
Sudah ada Qwe dan Raquello disana. Raquello berlari memeluk Marcel. Mereka pun langsung bermain di salah satu wahana di tempat tersebut. Sedangkan Qwe bersalaman dengan Dyana dan memperkenalkan diri.
"Aku Lee Qwera. Panggil saja Qwe."
"Dyana Permata. Panggil aja Dyana."
"Hmmm .. Dyana.. maaf ya kejadian tadi pagi."
"Tidak apa-apa Qwe. Aku.. tidak kesal." Hanya marah sedikit. Batin Dyana menyambung.
"Oh. Hahaha.. iya. Raqi.. sebenarnya.. bukan anak yang nakal. Dia begini karena.. ada sebabnya"
"Sebab? Maksudnya?".
"Jadi... Raqi pernah diperlakukan tidak baik oleh.. sekretaris Marcel sebelumnya. Tetapi... Marcel tidak mengetahui hal ini."
"Hah.. s.. siapa nama sekretaris yang.. kamu maksud??"