"Gue denger.. lo berhasil melancarkan aksi lo. Apa sih itu namanya.. data......"
"Data Leakage maksudnya...??"
(NB: Data leakage adalah membocorkan data rahasia baik berupa rahasia negara, rahasia perusahaan, atau data lainnya yang tidak diperuntukkan bagi umum, kepada orang lain, suatu badan atau perusahaan lain, atau negara asing.)
"Nah.. itu maksud gue"
Olive berjalan pelan menuju meja kerjanya.
"Yaahh.. bisa dibilang seperti itu sih. Tapi... gue ngelakuin ini juga karena gue dendam sama Marcel"
"BTW.... apapun itu, whatever. Tapi..ada satu hal lagi yang perlu gue kasih tau ke elo."
"Apa..??"
"Gue mau beli semua data yang ada di lo dengan bayaran yang cukup menggiurkan."
"Waw.. menggiurkan.. misalnya...??"
Dyno berjalan mendekati Olive yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Jabatan Direktur di perusahaan pusat Amerika. Gimana??"
Olive mengerutkan dahinya. "What??! Lo.. serius?? Karena apa nih ??"
"Sebuah alasan. Saat ini.. Pratama Jaya Group sedang di ambang kebangkrutan. Sebelum gue membeli seluruh saham mereka, gue mau, lo stabilkan lagi semuanya seperti semula"
"What??! Gila lo !!! Gue bisa masuk penjara!!"
"Hey hey... gue punya alesan. Adik gue.. kerja di perusahaan itu. Gue tau banget kalau.. dia emang pengen kerja di sana. Baru.. hmm hampir setengah bulan sih.. gue ga mau dia kecewa."
Olive melengos. "Hah.. urusan pribadi ternyata. Tapi.. gue bisa di tangkap, No!"
"Tenang aja. Itu gak akan terjadi. Awalnya.. gue mau pakai jalan kotor. Tetapi, gue ga mau.. kalau adik gue kecewa dan kehilangan pekerjaannya. Jadi, gue akan pilih jalan bersih."
"Tapi No, udah lama lo pengen ngancurin perusahaan itu. Kok lo jadi berubah pikiran??."
"Lo tau kan?? Pratama Jaya Group udah di pimpin oleh tiga generasi?? Pemimpin pertama Andiggra Pratama, kakek Marcel, Luckhatta Pratama, ayah Marcel, dan mendiang kakak Marcel , Refeallo Pratama."
Olive terdiam dan hanyut dalam pikirannya. Ia mengiyakan perkataan Dyno. Mereka memiliki relasi yang luas. Mungkin saja, saat ini mereka sedang meminta bantuan dari perusahaan lain untuk membantu mereka. Jika mereka mendapatkan uluran tangan dari pengusaha lain, maka, Dyno akan kehilangan kesempatannya untuk mengambil alih perusahaan tersebut. Mereka akan semakin bangkit jika banyak pengusaha lainnya yang memberi bantuan.
"Oke. Deal. Gue akan berikan semua data di Flashdisk ini ke lo. Tetapi, sesuai perjanjian kita." Sambil menunjukkan sebuah flashdisk
"Oke. Deal. Thanks a lot, baby". Sambil merebut Flashdisk tersebut dan memeluk Olive.
Olive dan Dyno berpelukan untuk beberapa saat. Di balik pelukan itu, Dyno memiliki rencana lain. Rencana yang hanya ia ketahui oleh dirinya sendiri.
Di sisi lain.
"Gracianna Olive?"
Aku mengenal kak Anna. Dia salah satu mahasiswa tercerdas di kampusku dulu. Dia selalu memenangkan juara tingkat nasional dan juga internasional. Walaupun sikapnya yang dingin dan pendiam, aku tidak menyangka jika ia memiliki sifat yang buruk di balik wajah itu.
Aku masih tidak habis pikir. Menurutku, kak Anna anak yang baik selama aku mengenalnya. Tetapi, pernah beberapa kasus menimpanya dulu sewaktu di kampus.
Waktu itu, ada salah seorang mahasiswi yang menjadi rekan lomba debat ilmiah bersama kak Anna. Anak itu sangat cerdas sama seperti dirinya. Mereka memenangkan lomba itu. Tetapi setelah hari perlombaan, aku tidak menemukan anak tersebut.
Kabar burung yang ku dengar, kak Anna menyeretnya ke atap dan menyiksa anak tersebut hingga babak belur. Tetapi, tidak ada bukti dan saksi yang kuat untuk kejadian tersebut.
Aku memilih tidak mempercayainya dan berpihak kepada kak Anna. Selama aku mengenalnya, ia adalah wanita yang sangat baik dan tidak pernah melakukan hal di luar dugaan seperti yang dikabarkan orang-orang.
"Jadi.. kamu kenal dengan Olive juga?"
"Iya kak. Aku kenal kak Anna. Itu panggilannya saat di kampus dulu."
"Hmmm..... seperti apa dia di kampus?"
"Seingatku.. dia anak yang baik dan terkenal karena ia cerdas."
Kak Qwe menghela nafasnya panjang. "Ya sudah. Yuk! Gabung dengan mereka."
"Yuk!" Aku mengikuti kak Qwe dan menyusul Raquello yang sedang bermain dengan pak Marcel.
Saat asyik bermain, aku teringat kak Dyno. Aku lupa memberinya kabar jika sekarang aku berada di luar kota.
Aku merogoh tasku dan mengambil ponsel. Tertulis nama "Dyno rese" disana dan aku menekan tombol 'panggil'.
Terdengar nada sambung dari ujung telepon. Tak berapa lama, terdengar nada berat menyahut dari seberang sana.
"Halo dek. Kenapa?? Lo mau ke apartement gue?"
"Hmm.. gak kak. Aku lagi di Bandung."
"Hah ??!!! Sama siapa??!!"
"Bos ... gu.."
"GILAAA !! LO KELUAR KOTA DENGAN BOS HAH ?? GUE SUSUL SEKARANG!!!" Teriak kak Dyno dari sana.
"Kak.. bentar .."
Tut tut tut....
Aku belum selesai berbicara dan dia sudah mematikan teleponnya. Aku menghela nafas. Kak Dyno... dia memang orang yang berlebihan dan terlalu panik.
Tanpa sadar, ternyata pak Marcel sudah berada disampingku. Dia menguping pembicaraanku bersama Kak Dyno.
"Abang kandung??"
"Hmm.. b..bb..bbuukan sih pak." Jawabku gugup.
"Abang tiri?"
"......hmmm.. kurang lebih."
Pak Marcel mengernyit. "Kurang lebih ?? Apa maksudmu??"
"Ceritanya panjang pak. Tetapi.. dia memang abang saya dari ayah tiri."
Pak Marcel mengangguk dan tidak menjawab ucapanku. Yah.. memang sulit menjelaskannya pada orang lain. Mereka tidak akan mengerti situasi ku dan keluargaku. Jadi, daripada aku repot menjelaskannya, lebih baik mengatakan singkatnya saja.
*******
Marcel POV
Aku melihat Dyana sedang menelpon seseorang. Aku tidak terlalu penasaran, hanya sekedar ingin tahu. Tetapi, saat aku berjalan menghampirinya, Dyana tidak menyadari keberadaanku.
Terdengar jelas suara dari telepon tersebut adalah suara pria. Aku hanya melihat ke arahnya dan dia tidak menyadarinya sama sekali.
Aku juga mendengar kata "Bos" saat ia berbicara dengan temannya di telepon. Sesaat aku sedang menguping, Dyana menoleh ke arahku secara tiba-tiba.
Aku langsung berpura-pura tidak tau dan memasang wajah tidak peduli. Terlihat sekali jika Dyana gugup saat mengetahui aku sedang berada di dekatnya.
Pikiranku, mungkin Dyana sedang menelpon kekasihnya. Hah....
Semoga saja, bukan.
"Oh ya.. kita akan menginap di hotel."
"APA?!!! KITA BERMALAM DI HOTEL?? MAKSUD BAPAK, SAYA DAN .....Anda......,....??" teriaknya keras hingga membuat seluruh orang melihat ke arah kami.
Aku pun melihat semua pandangan tajam meluncur ke arah ku dan Dyana. Dengan sigap, aku merangkul pundaknya dan berlagak seperti pasangan suami istri di sebuah sinetron.
"Sayang.. kok.. kamu kaget sih.. kitakan.. lagi Honey Moon.."
Dyana melongo bingung. Aku tau, dia sangat bingung melihat situasi saat ini. Tetapi, suara teriakannya membuat kami menjadi pusat perhatian.
"Ih dasar.. lelaki m***m. Masa ngajak tidur di hotel. Ih ngeres pisan...." bisik salah seorang ibu-ibu.
Aku pun menguatkan suaraku. "Sayang.. kitakan baru aja menikah. Masa kamu lupa sih?".
"Ooh.. pasutri ternyata. Cowoknya so sweet banget yaa. Kasep euy...". Bisik lagi salah seorang gadis bersama temannya.
Ah.. syukurlah. Setidaknya mereka menganggap kami ini adalah suami istri. Aku kembali melihat Dyana dengan tampangnya yang masih sama. Mulut melongo dan tatapan bingung sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Aku menutup mulut Dyana dan membawanya menjauh dari kerumunan pengunjung.
"Dyana, bisa tidak jangan berteriak di tempat umum?"
"Hah???? Dyana..... "
Glek....
Aku menelan ludahku
"Hmmm.... ada apa dengan anda, pak ? Biasanya, bapak tidak pernah memanggil nama saya. Kadang, bapak memanggil saya dengan sebutan ‘kamu’ ?"
"Ah..entahlah. Jangan membuatku... terlihat seperti orang aneh .... di depan ..... para pengunjung lainnya"
"Hmmm.. maaf. Saya.. kaget karena... bapak bilang kita akan 'menginap'." Ucapnya sambil mengangkat dua jari di udara.
Aku menjitak kepala Dyana. Kali ini, jitakanku benar-benar kesal.
"Kamu lupa jika kita tidak berdua datang ke sini?"
Dyana tampak berpikir sejenak. "Oh iya.. saya lupa. Ada Raquello dan kak Qwe. Hehe..."
Aku menghela nafas. Aku tidak tau, bagaimana bisa anak ini lulus dengan IPK sempurna?? Sedangkan otaknya masih saja tidak nyambung dan terkadang dia sangat tulalit.
"Ya sudah.. aku pergi. Kamu boleh bermain apa saja di taman bermain ini. Kita akan ke hotel jam 5 sore."
"Baik, pak!"
Aku meninggalkan Dyana dan kembali ke Raquello. Tetapi, aku baru saja ingin mencarinya, rupanya dia sedang menatap tajam ke arahku dan Dyana. Tampak sekali ia marah dan kesal melihat aku bersama Dyana.
Aku lihat dia sedang memegang ketapel dan sebuah batu. Lalu mulai menarik karet ketapel dan melepaskan batu tersebut.
Aku melihat Dyana sedang berdiri asyik bermain ponsel. Sedangkan, Sasaran Raquello adalah Dyana.
Aku segera berlari ke arah Dyana dan memeluknya.
"Ahhh.. "
"Pak Marcel....!!!"
*******
Author POV
Darah mengucur deras dari kepala bagian belakang Marcel. Sesaat setelah ia memeluk Dyana, batu lemparan Raquello mengenai kepala Marcel. Ia pun sempat memegang kepalanya yang berlumuran darah sebelum ia pingsan. Dyana syok melihat kejadian yang ada di depan matanya.
Qwe yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, segera menghampiri Marcel yang sudah tergeletak. Seluruh pengunjung panik dan berkerumun.
"Ada apa ini?" Tanya satpam yang menjaga tempat bermain tersebut.
"Tolong panggil ambulans. Saya mohon.. !" Teriak Dyana pada Satpam tersebut.
Satpam pun menuruti permintaan Dyana dan membantunya untuk membopong Marcel ke gardu depan.
Sedangkan, Qwe menggendong Raquello yang tampak syok dengan kejadian di depan matanya.
Di alam bawah sadarnya...
Marcel kembali mengingat rentetan kejadian yang ia alami sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya. Refeallo Pratama.
Kejadian tepat 6 tahun yang lalu saat dirinya masih berusia 22 tahun.
Di sisi lain.
Dyno yang panik segera menghubungi pegawai untuk menyiapkan sebuah pesawat jet pribadi miliknya. Ia akan menjemput Dyana melalui jalur udara.
Dyno sangat hafal bagaimana kondisi jalanan saat ini di Indonesia. Pasti semua jalan macet dan butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Ia khawatir, jika Marcel berbuat macam-macam kepada Dyana atau bisa saja melakukan tindakan asusila pada adik kecilnya tersebut.
Mobil sudah disiapkan. Ia pun segera menuju bandara terdekat dan terbang ke Bandung. Sebenarnya, Dyana tidak mengatakan dimana posisinya saat ini. Tetapi, Dyno mengetahui dimana pun Dyana pergi, ia akan mudah ditemukan. Karena, beberapa tahun yang lalu, Dyno pernah membelikan sebuah ponsel untuk adiknya. Ia terlihat senang saat menerima hadiah dari kakaknya.
Dyana tidak tau, jika Dyno sudah memberikan alat pelacak di ponsel yang ia berikan. Hal ini ia lakukan bukan karena bermaksud lain. Ia hanya ingin, dimana pun Dyana berada, ia akan selalu aman. Dyno hanya ingin melindungi orang yang ia sayangi. Dyana.
Akhirnya, pesawat mendarat dengan sempurna dan mobil pribadinya pun sudah disiapkan oleh para pegawai untuk menjemput adiknya. Dyno menekan pedal gas dan meninggalkan bandara menuju lokasi Dyana saat ini.
Posisi Dyana terus bergerak. Menurut gps, Dyana berada di taman rekreasi beberapa menit yang lalu. Namun, ia bergerak ke jalur utama dan menuju ke sebuah tempat.
Tidak butuh waktu lama, Dyno dapat mengejar Dyana dengan mobilnya. Tetapi, ia tidak menemukan mobil yang membawa Dyana. Hanya sebuah ambulans yang sedang membawa pasien gawat darurat.
"Hah... Dyana.. dimana sih kamu...??" Keluhnya.
Dyno berinisiatif untuk mengikuti ambulans tersebut menuju sebuah rumah sakit. Karena fellingnya mengatakan, jika Dyana ada di dalam ambulans tersebut.
Akhirnya, Ia berhenti beberapa meter dari mobil ambulans yang terparkir di halaman depan sebuah rumah sakit. Dyno melihat seorang gadis mirip Dyana keluar dari dalam ambulans.
Gadis itu terlihat sedang menangis sambil mendorong bed streacher seorang pasien pria. Matanya terbebalak saat mengetahui jika wajah pasien tersebut mirip sekali dengan Refeallo.
"Hah... Refi ??!!" Pekiknya pelan.
Badannya terlonjak saat melihat wajah pria yang berbaring di bangsal dan berlumuran darah. Jantungnya berdegup kencang.
"Apa benar.. itu.. Refi yang gue kenal?? T—tapi kan, Refi udah meninggal?!”