Jarak antara kampus dengan rumah Daisy seperti hari-hari biasanya, tak begitu jauh. Oleh sebab itu ia mencoba untuk memanfaatkan waktu yang tak begitu lama itu untuk memikirkan rencananya untuk mengahadapi orang rumah nanti.
Sang Ayah tentu saja akan berada di pihaknya. Meskipun saat ini Daisy yakin sang Ayah sedang mengkhawatirkannya di rumah. Soal Daisha Daisy tidak dapat menebaknya. Sang Adik terlalu susah untuk ditebak. Mungkin saja dia akan melaporkan yang tidak-tidak tentangnya kepada sang Mama. Dan yang paling mendorongnya untuk membuat sebuah rencana adalah sang Mama yang terlalu susah untuk ia taklukkan.
"Kira-kira pas gue sampe rumah, orang rumah udah pada bubar belum yah?"ucap Daisy bertanya-tanya, yang kemudian ia langsung mencari keberadaan ponselnya. Ia ingin tahu pukul berapa saat ini.
"Mm, sekarang jam sembilan lebih lima belas. Paling cepet, kira-kira gue sampe sana jam sepuluh kurang lima belas. Ada kemungkinan mereka masih pada di bawah sih. Gimana ya?" ucap Daisy yang mulai merasa pusing. Pusing, memikirkan alibi apa yang harus ia berikan jika ternyata mereka masih menunggu kedatangannya.
Daisy mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke sisi kemudi di sela-sela kegiatan mengemudinya. Fokusnya ia biarkan terpecah, karena syukurnya jalan raya menuju rumahnya saat ini tergolong lancar dan cukup lenggang. Mungkin dikarenakan hari yang sudah masuk waktu malam.
"Ah iya!" Daisy berseru senang saat sebuah memori beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. "Gue kan waktu hampir kepergok Daisha minta tolong Diana buat bantuin. Kayaknya gue hubungin dia dulu buat menyamakan alasan," ucap Daisy bersemangat dan mulai mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi Diana.
Daisy menunggu Diana mengangkat panggilan teleponnya dengan hati harap-harap cemas. Pasalnya sudah dering ketiga dan Diana belum juga mengangkat panggilan teleponnya.
"Ini anak ke mana sih? Kalau gue lagi ada perlu aja, suka ada aja halangannya. Ketiduran lah, lagi di kamar mandi lah. Giliran gue nya yang lagi mager buat nerima telepon, pada neleponin gue nggak berenti-berenti sampe gue angkat. Emang suka jahat sama gue," dumel Daisy kesal karena sampai akhir Diana tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Daisy tidak menyerah. Pikirnya baru juga satu kali. Setidaknya ia akan mencoba tiga kali agar ia tidak penasaran. Siapa tahu saja panggilan telepon yang kedua, atau yang ketiga, panggilan teleponnya diangkat oleh Diana.
Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga lima detik pertama panggilan teleponnya tak kunjung Diana angkat. Membuat Daisy beberapa kali mengembuskan napas panjangnya. Daisy mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dan, di detik ke sembilan.. Daisy mengucapkan kalimat syukur karena akhirnya panggilan teleponnya di angkat oleh Diana. "Alhamdulillah Ya Allah."
"Halo, Sy? Assalamu'alaikum.. Ada apa nih sampe dua kali nelepon?"
"Halo. Wa'alaikumussalam.. Akhirnya lo angkat juga panggilan telepon dari gue. Dari mana aja lo? Gue tadi hampir mau nangis tau nggak, lo nggak angkat-angkat telepon gue," jawab Daisy dengan disertai curahan hatinya.
"Uluh-uluh.. sampe segitunya telepon lo nggak gue angkat wkwk. Ada apaan sih? Sok bilang sama gue. Oh iya gue baru inget. Lo tadi ke mana dah? Gue cariin kok ngilang?!"
"Ya itu. Panjang lah ceritanya. Intinya alhamdulilah gue tadi bisa lolos. Gue nggak sabaran nelepon lo karena ada yang mau gue tanyain soal tadi. Lo ngasih alesan apa sama Daisha? Biar jawabannya sama. Ini sekarang gue lagi otw balik ke rumah."
"Oooh. Lo baru mau pulang. Gue tadi bilangnya lo lagi nugas bareng Tika. Tugas kelompok berdua gitu. Gue tadi nggak bilang spesifik sih di mana nya karena gue bilang lo buru-buru tadi, cuma bilang yang pasti kalian nugasnya di luar, jadi terserah lo mau ngasih jawaban apa. Oh iya satu lagi. Adek lo mempertanyakan soal mobil lo kenapa ditinggal di parkiran. Gue sih tadi jawabnya mungkin lo berangkat satu mobil sama Tika supaya lebih efesien bisa diskusi di mobil dan lain-lain. Baiknya yang itu disamain juga deh kayaknya."
"Ohh, oke deh. Lo sempet cerita sama Tika nggak soal itu? Takutnya orang rumah nelponin dia buat mastiin soal gue."
"Gue udah cerita juga kok sama dia. Semoga kalau pun dia di telepon juga sama orang rumah lo, dia bisa ngasih jawaban yang bikin lo aman deh. Gue takutnya nyokap lo nanya yang macem-macem sama dia."
"Aamiin, aamiin. Oke deh. Makasih ya, Beib. Gue tutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Daisy bersyukur sekali meski sedikit terlambat Diana dapat menjawab panggilan teleponnya. Ia bisa memiliki persiapan dan alasan yang cukup juga sama dengan alasan yang teman-temannya berikan.
Tringgg.. Tringgg..
Suara notifikasi pesan masuk terdengar. Tanpa menanti-nanti lagi, Daisy dengan segera langsung membuka dan membaca isinya. Takut jika ada sesuatu yang penting. Dan ternyata benar. Sebuah pesan masuk ia dapatkan dari teman dekatnya, yaitu Tika. Isinya seperti di bawah ini,
(Daisy lo lagi ngapain sih? Lo di mana? Please deh jangan bikin gue panik. Gue coba hubungin lo dari tadi kok nggak diangkat-angkat. Nyokap lo udah neror gue tau. Please langsung telepon balik gue secepatnya kalo lo udah baca isi pesan ini!)
Mengetahui hal itu tentu saja Daisy dengan segera langsung menelpon Tika balik. Daisy sangat-sangat bersyukur jalan raya yang ia lalui saat ini cukup lenggang dan sepi. Membuatnya sedikit dapat merasa tenang bisa berkendara sambil bertelepon. Tentu saja hal ini tetap tidak dapat dibenarkan, karena baiknya dalam kondisi sedang mengemudi kita tidak sambil bertelepon atau hal-hal lainnya. Namun hanya fokus mengemudi.
Tika langsung mengangkat panggilan teleponnya di dering pertama. Sepertinya teman dekatnya yang satu itu memang sedang menunggu panggilan telepon darinya.
"Assalamu'alaikum, Tik. Gimana, gimana? Tadi nyokap gue nelepon lo?"
"Daisy! Wa'alaikumussalam.. Akhirnya lo nelpon gue juga. Iyaa. Udah dua kali nyokap lo nelpon gue. Kebayang nggak tuh gimana paniknya gue?!"
Tika yang memang terkenal mudah panik di antara teman-temannya yang lain. Tentu saja Daisy dapat membayangkan bagaimana keadaan gadis itu sejak tadi. Bagaimana paniknya sang sahabat.
"Iya, iya. Sori banget ya. Lo pasti panik banget deh dari tadi. Gue tadi lagi telponan sama Diana ngebahas hal yang sama juga. Mmm, nyokap gue ngomong apa aja sampai dua kali neleponin lo? Lo jawab apa? Ngasih jawaban yang bikin gue aman kan?"
"Uuu bukan panik lagi. Panik gila! Yang pertama itu sekitar jam setengah empat sore. Nanyain lo ada di mana. Beneran lagi sama gue? Terus sempet minta ngomong sama Lo, katanya lo nggak angkat-angkat telpon dari beliau. Terus gue jawab lo lagi ada di rumah gue, kita lagi nugas bareng. Pokoknya kayak yang Diana sempet bilang sih supaya jawaban kita sama semua. Terus gue bilang pas nyokap lo pengen ngomong langsung sama lo, Lo nya lagi ke kamar mandi. Nggak tau tuh nyokap lo bakal percaya apa nggak. Gue bingung mau ngakalinnya kayak gimana. Nah gue kira udah tuh ya sekali. Eh nyokap lo barusan nelpon lagi. Nanyain lo masih di mana. Gue bilang lagi otw rumah deh. Soalnya gue takut kalau beliau pengen ngomong langsung kayak tadi, masa gue ngasih alesan yang sama? Lagi ke kamar mandi? Nanti bisa-bisa nyokap lo tambah curiga lagi. Lo sekarang udah otw pulang kan?!"
"Oke, oke. Masih aman kalau gitu. Tenang, tenang. Lo bisa tenang sekarang. Gue emang lagi otw pulang ke rumah kok sekarang. Sori banget ya, Tik. Lo pasti jadi nggak nyaman gara-gara gue. Sori udah buat lo bohong sama nyokap gue. Dan makasih untuk hari ini. Makasih udah mau bantu gue. Padahal gue yakin pasti berat banget ya hehe."
"No prob. Gue seneng kok bisa bantu lo. Nggak papa, yang penting sekarang gue udah bisa bernapas dengan lega. Udah nggak harus panik lagi deh. Akhirnya hehe. Gue doain supaya lo bisa lolos juga dari nyokap lo. Minimal cuma dimarahin bentar lah. Nggak sampe ngerembet ke mana-mana. Syukur-syukur kalau nyokap lo bisa ngertiin lo dengan baik."
"Ya Allah Aamiin.. Sekali lagi makasih ya, Beib. Bye.. Good night!"
Daisy menutup panggilan teleponnya. Ia menghela napas lega setelahnya. Sampai saat ini, rencananya dan teman-temannya bisa dibilang berjalan cukup lancar. Hasil akhirnya kita lihat bagaimana nanti, saat ia menghadapi orang-orang rumah. Namun tentu saja, Daisy menginginkan hal yang sama dengan yang Tika doakan tadi. Ia bisa lolos, dimaklumi, dan dimaafkan tanpa harus dimarahi panjang lebar terlebih dahulu.
Perasaan Daisy semakin tak menentu saat ia sudah memasuki gerbang komplek perumahan tempat rumahnya berada. Hatinya harap-harap cemas. Berharap orang-orang di rumahnya sudah pergi ke kamar masing-masing. Karena saat Daisy mencoba mengecek pukul berapa saat itu, jam di ponselnya menunjukkan pukul sepuluh kurang beberapa menit. Di hari-hari biasanya sih Daisha sudah pergi menuju kamarnya. Bahkan biasanya setelah makan malam sudah kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas, belajar, dan berbagai alasan lainnya yang sering Daisy dengar.
Jika sang Mama, seharusnya sejak pukul setengah sepuluh tadi sudah pergi ke kamarnya. Karena di jam-jam itu sinetron favoritnya sudah selesai tayang. Kalau sang Ayah, biasanya di jam-jam itu sedang asyik berkutat dengan tumpukan berkas di ruang kerjanya. Jadi Daisy sungguh berharap jika ia bisa sampai ke kamarnya dengan aman dan tanpa halangan.
"Seharusnya sih mereka udah berpencar ke tempat favorit mereka masing-masing," ucap Daisy sesampainya ia di halaman depan rumahnya, seraya memandang ke arah rumahnya yang tampak begitu bersinar itu, karena dipenuhi beberapa lampu hias yang enak dipandang.
Daisy turun dari mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Sesampainya di depan pintu rumah, Daisy mencoba membuka pintunya dengan hati-hati. Kosong dan sepi. Ia tidak menemukan siapa-siapa di ruang tamu depan.
"Alhamdulillah masih aman," ucap Daisy dalam hati seraya mulai melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kedua. Dan, alhamdulilah ia masih bisa bernapas lega. Ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Daisy pikir, sepertinya mereka memang sudah pergi ke kamar masing-masing.
Daisy semakin melangkahkan kakinya ke area dalam rumah. Kali ini langkah kakinya cukup berani dan percaya diri, karena ia pun tak mendengar suara televisi atau suara berisik lainnya.
Daisy dengan segera membekap mulutnya saat kedua matanya saling beradu tatap dengan sang Ayah. Ya, di ruang tengah ia menemukan sang Ayah sedang duduk di salah satu kursi. Daisy tebak, rupanya sang Ayah sedang menunggu nya. Keduanya sama-sama terkejut namun syukurnya tidak ada yang menghasilkan suara.
Dengan tanpa suara sang Ayah meminta Daisy agar segera naik ke lantai atas. "Ayo sana naik. Mama kamu lagi di dapur." Bukannya memarahinya atau apa, Ayah Danu justru membantunya agar segera pergi ke lantai atas.
Daisy menganggukkan kepalanya pelan disertai dengan memerlihatkan senyuman manisnya. Berterima kasih kepada sang Ayah yang begitu baik kepadanya. Setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan perlahan dan tanpa suara.
Daisy pikir dia akan berhasil lolos sampai ke ruang kamarnya. Karena sejauh ini semuanya masih dalam keadaan aman. Namun ternyata, saat ia menginjakkan kakinya di anak tangga ke tujuh. Sebuah suara menginterupsi langkahnya agar berhenti.
"Baru pulang?"
Deg! Itu suara sang Mama. Terdengar singkat dan pelan, namun terasa cukup menyeramkan. Daisy membalikkan tubuhnya takut-takut disertai dengan jawaban pelannya. "Iya, Ma."
"Sudah lah, Ma. Sudah malam. Kita bicarakan ini besok pagi aja. Biarkan Daisy istirahat di kamarnya dulu," ucap Ayah Danu memberikan saran. Namun, apakah sarannya itu akan Mama Sela dengar?