Daisy tahu betul bagaimana karakter sang Mama. Beliau menurutnya sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Tentu saja, karena keduanya memang merupakan seorang Ibu dan Anak. Terlebih saat ini kondisi sang Mama sedang marah, beliau sedang dikuasai emosi. Jadi Daisy tak yakin sang Mama akan membiarkannya lolos begitu saja meski Ayah Danu menyarankan sang Mama agar menundanya hingga esok hari.
"Kamu ke kamar aja, Sayang. Bersih-bersih terus langsung tidur. Kita ngobrolnya besok pagi aja." Melihat Daisy masih diam mematung di tempatnya, Ayah Danu memintanya untuk segera naik ke atas, ke ruang kamar tidurnya.
Namun sesaat setelah Daisy menganggukkan kepalanya pelan, dan mulai membalikkan tubuhnya kembali untuk melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua, suara Mama Sela kembali terdengar. Kali ini terdengar nyaring, tidak sepelan sebelumnya. Bahkan berhasil membuat Daisy sedikit terkejut. Daisy sedikit terperanjat di tempat berdirinya.
"Mama inginnya sekarang. Bisa-bisa malam ini Mama nggak bisa tidur gara-gara mikirin hal ini. Turun! Kita ngobrol sebentar di ruang keluarga," ucap Mama Sela dan mulai beranjak menuju sebuah ruangan yang ia maksud, ruang keluarga.
Mendengar dan melihat bagaimana sang Mama yang tentu saja masih marah terhadapnya. Bahkan ingin segera menyelesaikan apa yang hendak dibahas malam itu juga. Daisy lantas mengalihkan tatap ke arah sang Ayah. Meminta pendapat kepada sang Ayah lewat tatapan matanya.
"Nggak papa. Kamu ikutin maunya Mama kamu aja. Takutnya nanti makin marah kan. Ayah temenin. Nanti Ayah bantu," ucap Ayah Danu, seraya menatap lembut ke arah Daisy.
Daisy mulai menuruni anak tangga rumahnya. Ia mendengarkan perkataan sang Ayah untuk turun dan menemui sang Mama di ruang keluarga, yang tempatnya tak begitu jauh dari area tangga tadi.
"Duduk! Kita langsung to the point aja karena Mama juga udah ngantuk," ucap Mama Sela saat dilihatnya Daisy masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya. Meminta Daisy untuk segera duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Ayah Danu pun turut melakukan hal yang sama meski ia tahu perintah itu hanya ditujukan untuk Daisy saja.
"Kamu ke mana aja baru pulang sekarang? Bukannya Mama udah bilang buat langsung pulang karena temen-temen arisan Mama mau ke rumah?" Setelah dilihatnya Daisy sudah mengikuti perintahnya, Mama Sela langsung mempertanyakan ketidakhadiran Daisy sore tadi. Mempertanyakan ke mana perginya Daisy sampai baru pulang selarut ini.
"Mmm, bukannya Mama udah tau aku ke mana?" cicit Daisy pelan.
"Mama pengen denger dari mulut kamu sendiri."
"Tadi aku ngerjain tugas bareng Tika di rumahnya. Tugasnya nggak bisa dinanti-nanti karena waktu pengumpulannya besok pagi."
"Kalau gitu kenapa sebelumnya kamu bilang hari ini free?"
Daisy mulai gusar di tempat duduknya. Ia kini mulai meremas pelan sisi-sisi kemejanya. "Ini tugasnya dadakan, Ma. Baru kita dapet siang tadi."
"Tumben kayak gitu," komentar sang Mama seraya menatap Daisy dengan tatapan penuh curiga.
"Ngg---nggak juga kok. Kadang-kadang memang suka gitu. Daisy aja yang memang nggak cerita ke Mama. Mama selalu mengajak dan meminta Daisha untuk bercerita tentang kehidupan kuliahnya, sedangkan sama aku susah banget kayaknya untuk sekedar ngeluangin waktu. Nggak pernah kan kita ngobrol bareng soal gimana kuliah aku? Bagaimana perkembangannya? Dosennya gimana? Kuliahnya belajar apa saja? Dan lain-lain. Kita nggak pernah kayak gitu kan?" ucap Daisy yang jujur saja, di awal kalimatnya tadi ia sempat tergagap. Namun setelahnya, entah ia mendapatkan kekuatan dari mana, Daisy berubah menjadi sosok yang lebih berani. Ia bahkan berani mengeluarkan salah satu unek-uneknya yang selama ini ia pendam.
Suasana mendadak hening seketika. Rupanya ucapan Daisy tadi cukup memberikan efek yang berbekas. Mama Sela secara spontan langsung menatap Daisy dengan tatapan mata terkejut. Kemudian beralih menatap Ayah Danu yang kondisinya saat ini tak berbeda jauh dengannya.
"Ja--jangan mencoba untuk mengganti topik pembicaraan! Mama masih marah sama kamu! Kamu nggak lagi coba-coba untuk kembali menjadi anak pembangkang kan? Mama suruh pulang awal supaya bisa bantu Mama menjamu tamu-tamu Mama dengan baik, malah bablas sampai malem nggak pulang-pulang. Kamu contoh dong Daisha! Dia walaupun sibuk tapi tetep nurut sama Mama. Bahkan Mama pikir Adik kamu lebih sibuk dari pada kamu. Tapi as always selalu ngikut apa yang Mama bilang."
Daisy lagi-lagi dibuat terkejut dengan perkataan sang Mama. Kamu nggak lagi coba-coba untuk menjadi anak pembangkang katanya? Jadi selama ini Mama Sela menganggapnya sebagai anak pembangkang? Wah luar biasa. Daisy cukup terkejut karena satu kata cukup menyakitkan itu ia dengar sendiri dari mulut sang Mama. Bahkan Mama Sela masih sempat-sempatnya membandingkannya dengan Daisha.
"Susah sih kalau Mama ternyata selama ini udah mencap aku seperti itu. Mau aku beralasan apa pun pasti Mama nggak akan percaya kan? Mama pasti hanya akan menganggapnya sebagai sebuah alasan, pembelaan, dan lain-lain. Jadi kalau kita semua sama-sama tau ke mana arah ujungnya, buat apa dilanjutin nggak sih? Daisy lebih baik pamit ke kamar aja. Mau bersih-bersih terus lanjut tidur, seperti kata Ayah tadi. Assalamualaikum," ucap Daisy yang langsung bangkit berdiri dan bergegas pergi menuju kamar tidurnya. Saking terburu-burunya ia bahkan memilih untuk berlari saat melewati tangga yang cukup panjang dan melelahkan itu. Menghiraukan sang Mama yang sejak tadi menyebutkan namanya dan memintanya untuk kembali.
"Daisy! Daisy! Mau ke mana kamu? Pembicaraan kita belum selesai ya!"
Ayah Danu yang sejak tadi memilih diam dan hanya menyimak, kini menghela napas panjangnya seraya memerhatikan Mama Sela yang semakin terlihat kesal itu. "Sela.. Sudahlah. Aku rasa kita perlu bicara empat mata sekarang."
***
Sesampainya di kamar Daisy memilih untuk pergi ke area balkon. Area cukup luas yang menyajikan pemandangan yang begitu indah. Langit malam dengan taburan bintang yang bersinar terang. Juga bulan yang sama indahnya dengan warna yang menawan.
Daisy sesekali memejamkan matanya. Menikmati semilir angin malam yang cukup membuatnya saat ini ingin memeluk tubuhnya sendiri. Menghangatkan tubuh rampingnya yang begitu sangat mendambakan sebuah kehangatan.
Daisy berpikir, kenapa sang Mama terlalu memojokkannya? Jika pun ia mengaku bahwa memang sengaja tak ingin ikut hadir untuk membantu menjamu tamu-tamu sang Mama, kenapa sang Mama tidak dapat menerimanya? Bukankah itu hanya hal kecil.
Apakah sang Mama tidak memikirkan perasaannya? Padahal sang Mama tahu betul apa yang dialaminya waktu saat ia turut membantu menjamu para tamunya. Daisy ingat. Saat ia dibandingkan habis-habisan dengan sang Adik, yang tentu saja terkadang kata-kata yang mereka pilih terkadang tidak difilter hingga membuatnya merasa sakit hati dan ingin menangis, sang Mama justru bersikap biasa saja. Ia justru ikut tertawa bersama mereka saat mereka menertawakannya. Bukan justru mencoba untuk menghentikan mereka agar tak lagi melakukan hal yang sama. Agar tak membicarakan yang tidak-tidak tentang putri pertamanya.
Membuat Daisy kerap kali bertanya-tanya. Apakah sang Mama tidak merasakan apa-apa saat di depan matanya sendiri putri pertamanya di perlakukan demikian? Dibuat sakit hati dengan cara dibanding-bandingkan dengan amat luar biasa.. Apakah sang Mama tidak sakit hati juga, seperti apa yang dirasakannya?
Mengapa justru seolah-olah mendukung aksi mereka dengan tetap diam dan ikut tertawa bersama mereka? Ah, sudahlah. Bagaimana pun Daisy mencoba untuk memikirkan jawabannya, jawaban itu pasti tak kunjung ia dapatkan kecuali sang Mama sendiri yang memberikannya. Karena menebak-nebak hanya akan menghadirkan berbagai macam jawaban yang membuatnya semakin merasa tidak baik, sedangkan ia tidak mendapatkan kepuasan karena tebakanya hanya sekedar tebakan yang belum tentu jelas jawaban dan kebenarannya. Ya, meski ada kemungkinannya bahwa jawaban sang Mama merupakan salah satunya, atau bahkan lebih jahat dan kejam dari apa yang Daisy tebak.
"Gue lebih baik ngikutin apa kata Ayah tadi. Bersih-bersih terus langsung tidur. Capek banget rasanya hari ini. Mmm, tapi setidaknya gue nggak secapek harus ikut meladeni ocehan teman-teman arisannya Mama yang mulutnya pedes kayak habis makan cabai sepuluh kilo. Gue tadi justru seneng-seneng di luar selama berjam-jam. Ngelakuin salah satu wishlist gue, bisa jalan-jalan, bisa liat banyak kedai makanan yang enak-enak, plus bisa nyobain beberapa makanannya. Masih ada beberapa hal yang patut gue syukuri dari hari ini dibanding gue hanya terjebak dalam kesedihan dan rasa sakit."
Daisy menghela napas panjangnya, kemudian mulai berbalik untuk kembali masuk ke area dalam kamar tidurnya. Tak lupa setelah itu ia menutup pintu kaca yang menghubungkan ruang kamar tidurnya dengan balkon. "Oke! Saatnya mandi. Menghilangkan segala penat yang terjadi hari ini," ucap Daisy bersemangat kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi kamarnya. Ia berencana ingin berendam cukup lama di sana.
Pada akhirnya Daisy memilih untuk mencoba mengobati sakitya sendiri. Ia akan melakukan hal-hal yang membuat dirinya kembali merasa tenang dan nyaman. Seperti berendam air panas dengan larutan aromaterapi yang begitu sangat menenangkannya. Dari pada ia harus berlama-lama tenggelam dalam pikirannya, yang tentu saja hanya akan membuat dirinya merasa semakin sakit, sedih, dan terluka.
Daisy hanya berharap suatu saat nanti ia dapat mendengarkan alasan itu dari mulut sang Mama sendiri secara jujur. Meski mungkin terasa menyakitkan baginya. Juga, Daisy tentu saja sangat-sangat berharap bahwa sang Mama bisa kembali seperti dulu. Kembali menjadi Mama Sela yang tak hanya sayang dan terus menerus memerhatikan Daisha tapi mengabaikannya. Namun kembali menjadi Mama Sela yang amat sangat menyayangi juga mencintai kedua putri kembarnya, Daisy juga Daisha. Menyayangi mereka, mencintai mereka, juga memberikan mereka perhatian penuh secara adil tanpa berat sebelah, tanpa mengabaikan salah satu dari keduanya. Semoga saja harapannya ini dapat terkabul. Aamiin.