Bumi dan Chang begitu b*******h mendengar penuturan Liz, mereka bergegas bangkit.
"Hei, bukannya kalian mau melihat patung scarab ini?" protes Gamal.
"Patung ini benda mati, bisa kita teliti kapan saja. Namun, kumbang yang berbaris rapi menuju suatu tempat merupakan fenomena menarik yang langka." Bumi menjawab sambil mengenakan kemejanya, menutup t shirt tipis yang ia kenakan.
Gamal mendengkus, tetapi akhirnya ia ikut juga mengikuti rombongan kecil yang mengekor pada Liz.
Bumi menatap kagum barisan hewan berwarna hitam berukuran cukup besar itu, sementara Chang menatap dari jarak yang agak jauh. Ia selalu takut melihat jenis mahluk berbuku-buku tersebut.
"Kumbang-kumbang ini berjalan menuju Timur kelihatannya akan mencari makanan!" Seru Andrew yang berdiri sangat dekat dengan Liz.
Gamal tersenyum sinis. "Scarab biasanya menggulung kotoran dari Timur ke Barat. Jika sekarang terbalik pasti ada hal lain yang membuat mereka keluar sarang."
Liz terpesona mendengar ucapan Gamal. "Berarti ucapanku benar, mereka sepertinya sedang menuju suatu tempat!"
Gamal mengikuti arah perjalanan kumbang itu diikuti Liz dan yang lainnya. Andrew terlihat kesal karena sekarang Liz mendekati Gamal.
Kumbang-kumbang itu berbaris rapi seperti ada yang mengatur dalam satu komando. Meski takut, Chang mengabadikan fenomena itu dengan smart phonenya.
"Lihat, perjalanan kumbang itu berakhir di sini," ucap Gamal sambil menunjuk satu lubang kecil tempat kumbang itu mengakhiri perjalanan.
"Kemungkinan mereka pindah rumah karena terganggu oleh penggalian besar-besaran di sebelah sana," ucap Andrew memberi kesimpulan.
Bumi sedikit kecewa mendengar penuturan kedua rekannya itu. Ia melirik Liz yang terhenyak di tempatnya berdiri. Gadis itu sepertinya sangat kecewa.
Andrew memeluk pundak gadis itu lembut. Gamal memandangnya kesal. Bumi menghela napas. Selalu seperti ini. Cinta segitiga mereka membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia melampiaskan kekesalannya dengan mengorek-ngorek bebatuan di dekat lubang tempat para kumbang masuk dan menarik salah satu yang bentuknya unik seperti tongkat gigi mobil.
Tiba tiba tanah berpasir yang dipijaknya bergetar detik berikutnya tubuh lelaki berkulit cokelat itu seperti merosot ke dalam tanah. Chang yang berdiri di dekatnya dengan sigap menarik tangannya. Gamal kemudian datang membantu.
Ketiganya melongo memandang lubang menganga yang tadi tertutup pasir dan batu tipis. Liz menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Sepertinya aku tadi tanpa sengaja menarik batu berbentuk tongkat gigi yang kukira hanya tonjolan batu biasa," ujar Bumi sambil menunjuk batu yang tadi ia tarik.
Gamal mencoba menarik ke arah yang berlawanan. Ternyata perlahan lubang itu tertutup kembali oleh batu gamping tipis. Namun, sekarang bentuknya jelas terlihat seperti pintu, karena pasir yang menutupinya meluruh bersama terbukanya lubang.
Mereka saling berpandangan dengan wajah semangat. Dua pekan tanpa menemukan sesuatu yang berarti. Kini ada pintu misterius di depan mereka.
"Ayo buka kembali, aku tidak sabar melihat ada apa di bawah pintu itu," pinta Liz.
Gamal menurut. Ia perlahan menarik kembali tuas batu itu. Luar biasa pintu yang mungkin telah tertutup sejak ribuan tahun lalu itu kerjanya masih berfungsi sempurna.
Ternyata lubang itu menurun dengan tangga batu terjal menuju ke bawah. Bumi menyoroti pahatan batu itu. Ia berjalan mundur untuk menuruninya sambil berpegangan pada tangga batu yang telah ia lewati. Yang lain mengikutinya.
Tangga itu berakhir pada sebuah pintu yang tertutup. Mereka berdesakkan di ujung tangga. Gamal meraba pintu batu itu dan berusaha mendorongnya. Namun, pintu itu begitu kokoh.
Mereka bergantian mendorong pintu, tetapi tidak ada yang sanggup membukanya.
Mata Liz yang tajam melihat sesuatu di samping kiri pintu. Seperti gelang besi. Gadis itu berpikir gelang ini mungkin alat pembuka pintu. Ia kemudian menariknya tetapi pintu di depannya tetap tidak bergerak.
Masing-masing mencoba menarik gelang itu, tetapi tidak ada yang berhasil juga, ketika kemudian Chang mencoba memutar gelang besi itu tiba tiba terdengar bunyi berderak, pintu batu itu bergeser perlahan.
Di depan mereka terpampang sebuah ruang berukuran sekitar dua kali dua meter. Dalam ruangan itu hanya terdapat meja batu dengan dua sarkofagus kecil di atasnya, sebuah kotak dan empat buah guci di dekat kaki meja.
Mereka berlima mengelilingi meja dengan takjub. Rupanya para penjarah makam dan pemerintahan kolonial yang dulu menguasai Mesir tidak berhasil menemukan tempat ini.
"Ini mumi kumbang scarab yang langka," ujar Bumi dengan suara bergetar. "Sepertinya ini penemuan pertama mumi kumbang di daerah ini."
Dua kumbang besar scarab ditemukan dalam sarkofagus batu kapur kecil yang ditempatkan pada sarkofagus yang lebih besar. Sementara kelompok lain ditemukan di dalam sarkofagus yang lebih kecil.
Mumi scarab itu diawetkan, dibungkus dengan linen, dan ditempatkan di dalam sarkofagus batu kapur dengan tutup yang dihias.
Saat mereka sedang asyik meneliti mumi kumbang itu, diam-diam salah seorang di antara mereka membuka peti kecil. Matanya terbelalak, jimat berbentuk kumbang scarab, berbagai perhiasan dan yang paling menarik perhatiannya gulungan papyrus.menurut petunjuk yang diberikan padanya, papyrus itu memang berada di antara mumi kumbang scarab. Satu petunjuk jelas menuju kitab kematian!