Juli 2001, hokaido jepang.
Sebuah keluarga sedang berlibur kedaerah Hokaido untuk merayakan keberhasilan putri semata wayangnya yang meraih juara 1 dan jura satu umum pertamanya. Nama anak itu Akina Hikari gadis berusia 6 tahun itu. Gadis cantik tersebut sangantlah bahagia. Dia dan ibunya sedang berada didalam sebuah mobil sambil bernyanyi. Ayah Akina masih di Tokyo, karena ada rapat mendadak, ayahnya akan menyusul mereka setelah rapat selesai.
Tapi saat diperjalanan,tiba-tiba ada sebuah truk yang hilang kendali,Hana ( ibu Akina) segera memeluk Akina dan memutur duduknya sehingga hana menhadap ke kursi yang didudukinya dan membelakangi kaca depan mobil. Hana berbisik di telinga putri satu-satunya itu
"Akina, aku selalu mencintaimu dan aku akan selalu melindungimu." Hana berkata sambil tersenyum.
CKIIIIIIIIIT BRUUUUKKKK !!!!!!
Truk tersebut menabrak mobil yang dikendarai oleh Akina, ibunya beserta seorang supir tersebut. Mobil tersebut lalu dikerumuni banyak orang. Terlihat seorang wanita telah berlumuran darah dan berusaha berbicara dengan seseorang.
"Dimana Akina? Anakku," kata hana
"Dia baik-baik saja dia hanya pingsan. " kata orang itu sambil memandang kearah seorang anak perempuan yang sedang pingsan. Hana pun mengikuti pandangan orang itu lalu tersenyum
"Syukurlah"
"Kumohon tolonglah dia, segera bawa dia kerumah sakit terdekat, aku sangat mencintainya." Kata hana sambil mengerahkan seluru tenaganya untuk berbicara.
"Anda jangan dulu banyak bicara, luka anda akan semakin parah." Kata orang tersebut
"HANAAAA!!!!" Terdenggar suara teriakan seseorang yang tengah berlari menuju arah Hana terbaring
"Sayang, Akina... bawa dia kerumah sakit!"
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja." Kata Ryu melihat kearah anaknya itu
"Tolong jaga dia baik-baik, katakan padanya aku sangat menyayanginya,aku sangat mencintainya. Rawatlah dia dengan kasih sayang. Aku akan bahagia jika dia bahagia," kata Hana pada Ryu
"Kau saja yang mengatakannya sendiri! " Kata Ryu,matanya mulai berlinang. Hana menggeleng.
"Ajarkan dia beladiri, jangan pernah mengekangnya, jangan pernah menyalahkan siapa pun apalagi menyalahkan dirimu sendiri akibat kejadian ini. Dan katakan juga padanya bahwa aku akan selalu ada bersamanya." Hana pun menutup matanya dan terlelap dalam tidur panjangnya dalam rengkuhan suaminya.
Teriakan yang mengandung perasaan duka itu terdengar dengan sangat jelas oleh orang-orang disekitarnya. Hingga seorang lelaki menepuk bahunya. Laki-laki itu menggendong seorang anak perempuan yang tak sadarkan diri. Ryu mencoba menenangkan dirinya dan menggambil alih untuk menggendong anak semata wayangnya yang menjadi satu-satunya alasan agar ia dapat terus melanjutkan hidup. Setelah dia tenang dia menuju tempat putri semata wayangnya. Ryu memeluk Akina dan mencium keningnya dengan sesengukan. Ia membawa Akina kedalam mobilnya dan segera menuju kerumah sakit terdekat. Hana dibawa kerumah sakit itu dengan ambulan.
Keesokan harinya Ryu dan Akina pulang ke Tokyo untuk mempersiapkan pemakaman Hana. Walaupun masih kecil, Akina sudah tahu mengapa ibunya tidak ada bersamanya, bagaimana pun dia adalah anak yang cerdas dan dia diberkahi dengan mata yang istimewa, apapun yang dia lihat walaupun satu kali dia akan selalu ingat. Entah anugrah atau kutukan yang ia dapatkan, dengan mata itu tentu saja Akina tidak akan pernah lupa dengan kejadian yang ia dan ibunya alami di Hokaido, apalagi saat ia dipersilahkan untuk melihat wajah ibunya yang pucat untuk terakhir kalinya.
Agustus 2001
Satu bulan sudah kejadian itu dilalui. Mereka berdua berusaha merelakan kepergian Hana. Ryu memanggil Akina untuk menyampaikan pesan terakhir dari ibunya. Mereka duduk diruang keluarga. Setelah mendengar semua dari ayahnya, Akina menjadi lebih giat belajar, ia ingin ibunya bangga dangan prestasinya. Dia juga ikut karate sebagai pesan dari ibunya. Tidak ada yang banyak berubah darinya. Karena Akina tahu jika ia tidak bahagia maka ibunya juga tidak akan bahagia disana. Dia memiliki bayank teman. Sifatnya yang baik, sopan, dan ramah serta mudah tersenyum membuat banyak orang tambah menyayanginya.
Juli 2006
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat kini Akina pun sudah beranjak remaja ia akan menginjak usia 11 tahun 2 bulan lagi . Dia pun pergi ketempat yang selalu ia kunjungi ini selama 5 tahun terakhir. Ditempat peristirahatan terakhir sang ibu Akina sedang duduk, ia ditemani seorang remaja laki-laki yang juga sudah menginjak usia 15 tahun bulan depan . Laki-laki itu adalah Yasushi Toshiaki, dia adalah kakak tiri Akina. Ayah Akina sudah menikah lagi dengan ibu dari yasushi satu tahun setelah tragedi berdarah itu. Tidak seperti rumor yang beredar bahwa ibu tiri dan saudara tiri itu jahat. Keluarga baru Akina sangat menyayanginya seperti Akina adalah anak dan adik kandungnya sendiri. Ran (ibu yasushi) sangat menyayangi Akina seperti putri kandungnya sendiri . Begitu pula dengan yasushi walaupun kata orang-orang banyak mengatakan bahwa kakaknya itu sorang anak yang pendiam, cuek, dan dingin, tapi yasushi sangat berbeda dengan yang dikatakan oleh orang lain. Dia adalah orang yang sering mengajaknya mengobrol, dia begitu perhatian dan begitu hangat kepada Akina. Entah Cuma kebetulan atau apa Yasushi bernasib sama seperti Akina, ia ditinggal oleh ayahnya dalam sebuah kecelakaan disaat usianya masih sangat kecil.
Saat Akina sedang teringat oleh ibunya, ia tanpa sadar menangis. Yasushi menyanyikan sebuah lagu dengan petikan gitarnya untuk menghibur Akina.
"Saat kau sedang sedih maka aku akan selalu berusaha untuk menghiburmu, sudahlah jangan menangis lagi. Ibumu juga akan sedih jika melihatmu menangis" kata yasushi sambil memeluk adiknya.
"Terimakasih kak," kata Akina tersenyum pada kakaknya. Sejak saat itu iya mulai belajar bermain piano sebagai alat musik untuk mengiringinya bernyanyi.
Agustus 2007
"Kenapa kakak harus pergi sih? apa kakak tak sayang lagi padaku? " Tanya Akina
"Akina, kakak selalu menyayangimu, tapi kakak sudah SMA, kakak mau melanjutkan SMA di Kyoto karena disana terdapat SMA terbaik dijepang, setelah kakak tamat dari sana kakak akan masuk universitas Tokyo " kata laki-laki yang sudah berusia 16 tahun tersebut yang tak lain tak bukan adalah kakak dari Akina.
"Lagi pula kau akan masuk SMP tahun depan, " sambung Yashushi
"Jika kau terus belajar dengan giat dan lulus dengan nilai yang bagus tahun depan ibu akan membujuk ayahmu untuk mengirimmu ke Kyoto untuk melanjutkan SMP disana. Kau mau ?" tanya Ran
"Benarkah ibu ? Apa bisa aku juga bersekolah dikyoto?" tanya Akina pada Ran. Ran pun mengangguk
"Tentu saja" jawab Ran dengan senyuman.
"Baiklah kalau begitu aku mengizinkanmu bersekolah di Kyoto, tapi kau harus pulang pada ulang tahunku yang ke 12 bulan depan, dan jangan lupa membawa kado," kata Akina tersenyum pada yasushi, dibalas dengan senyuman dan anggukan
"Kalau begitu aku berangkat, sampai jumpa." Kata yasushi memeluk lalu mencium kening adiknya. Setelah itu ia memeluk ibunya. Lalu ia menaiki mobil yang sudah ada didalamnya seorang supir yang akan mengantarnya kebandara. Yasushi tidak perlu berpamitan pada ayahnya karena sekarang Ryu sedang berada di Kyoto. Yasushi sudah membuat janji dengan dengan ayahnya (Ryu) di Kyoto untuk bertemu setelah selesai dengan urusan sekolahnya yang dibantu oleh ayahnya.
16 September 2007
Yasushi menepati janjinya pada Akina, dia datang diulang tahunnya yang ke 13, dia memberikan sebuah kalung yang terbuat dari mas putih, dengan leontin kerangka bola basket dari mas putih dan ditengah terdapat sebuah batu saphire kecil yang berbentuk bulat. Tentu saja akina sangat menyukai hadiah pemberian kakaknya itu, bukan tanpa sebab Yasushi memberikan kalung berleonton kerangka basket itu, dia tahu akina sudah menyukai basket dari kecil, dia sudah bermain basket dari umur 5 tahun, karena Hana merupakan matan pemain basket yang bermain di tim nasional untuk Jepang. Akina berhenti bermain basket setelah kejadian itu tapi setelah ada Yasushi, dia kembali bermain basket diusia 8 tahun karena disemangati oleh kakaknya. Bagaimanapun Yasushi punya peran penting dalam kehidupan Akina. Yasushi juga merupakan kapten basket disalah satu SMP di tokyo dan dia berhasil membawa piala dan mendali emas tingkat nasional untuk timnya selama 2 tahun berturut-turut ketika dia menjadi kapten. Di SMA Kyoto pun dia juga telah menjadi kapten walaupun dia baru kelas satu dan kembali menorehkan prestasi nya kembali. Tidak hanya hebat dalam bidang non akademik tapi dia juga pintar dalam bidang akademik. Yasushi meraih mendali emas dalam olimpiade Fisika Internasional. Dia juga memegang juara umum disekolhanya baik SMP maupun di SMA. Dia juga menguasai berbagai alat musik, contohnya gitar, piano, biola, flute, drum.
Pintar, jenius, berbakat dalam bidang seni maupun olahraga, kaya, tampan, tinggi mungkin jika orang yang membaca biodatanya akan mengatakan dia sempurna, tapi sebenarnya tidak, sikapnya dingin dan cuek, sangat menyebalkan dimata orang-orang disekolahnya. Banyak juga orang yang mengatakan sifatnya itu wajar karena bagaimanapun dia dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah.
Setelah ulang tahun Akina, Yasushi kembali ke Kyoto untuk melanjutkan kembali sekolahnya. Akina memiliki kemampuan yang hampir sama seperti kakaknya. Entah bagaimana kedua kakak beradik ini walaupun tidak sedarah memiliki kesamaan yang benar-benar mirip. Akina diumurmya yang baru saja menginjak umur ke 13 tahun telah bisa menguasai piano, gitar, dan biola . Dia juga mendapat juara umum disekolahnya. Dia mampu menguasai 4 bahasa, yaitu jepang, inggris, korea, dan Indonesia. Akina yang sudah mulai memasuki usia remaja tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tapi lain dengan yasushi yang mempunyai sifat dingin dan cuek. Akina mempunyai sifat baik dan ramah. Bayak sekali orang yang berpikir dia gadis yang sempurna. Tapi didunia ini tidak ada yang sempurna. Dia bukan gadis yang sempurna banyak kekurangan dari akina yang belum diketahui oleh orang lain .
Kehidupan bahagia Akina akhirnya harus berakhir untuk sementara ketika Ayahnya menjodohkannya dengan anak sahabatnya sejak kecil yang juga merupakan seorang pengusaha besar dan berpengaruh didunia. Tentu saja diusianya yang masih belia dia sudah dijodohkan itu bukanlah hal yang bagus, karena emosinya yang masih labil, akhirnya dia memutuskan untuk pergi diam-diam ke Indonesia. Dia datang ke kota kampung halaman ibunya. Disana dia tinggal bersama dengan adik kandung ibunya. Dia tinggal bersama paman, bibi, dan kakak sepupu perempuannya. Disana paman-dan bibinya menjadi ayah dan ibu angkatnya. Akina akhirnya masuk SMP dikota itu, SMP Favorit disana yang berisi anak yang pintar dan juga kaya. Tapi sifatnya berubah dia mempunyai sifat dingin dan cuek, walaupun demikian tetap banyak orang yang menyukainya.
Tokyo, jepang. 20 oktober 2007
"APA KALIAN GILA!!!! " kata yasushi pada saat dia kembali ke Tokyo karena mendengar kabar buruk tentang adik kesayangannya. Dia menggunakan nada tinggi meluapkan emosinya
"Yasushi pelankan suaramu, kau kira kau sedang bicara dengan siapa " kata ayahnya sekaligus ayah Akina.
"Seharusnya kalian bicarakan dulu masalah ini denganku dan juga Akina." Yasushi sudah dapat mengontrol emosinya
"Memangnya jika masalah ini kami ceritakan pada kalian, apa ada yang akan berubah?" ucap ayahnya
"Setidaknya Akina tidak akan kabur dari rumah. " Keheningan pun kembali tercipta dalam ruang keluarga sebuah mension tersebut.
"Apa Akina sudah bisa dihubungi?" Suara sang anak sulung memecahkan keheningan.
"Belum, kami menemukan handphonenya di dalam kamarnya," jawab sang ibu
"Kalau begitu biarkan aku yang periksa kamarnya." Yasushi berjalan menuju kamar Akina dan dia menemukan kotak kalung pemberiannya bulan lalu. Dan isinya sudah kosong hanya sepucuk surat yang ada didalamnya.
"Saat kakak membaca surat ini aku tahu kakak sedang mencariku. Aku saat ini seedang berada di Indonesia. Jangan khawatir aku disini baik-baik saja. Aku sengaja meninggalkan ponselku sebagai tanda bahwa aku tidak ingin dihubungi. Aku benar-benar kecewa dengan keputusan kalian. Aku mencari ketenangan disini. Jangan menghubungiku sebelum aku menghubungi kalian. Karena disini aku merasa lebih bahagia."
Rasanya Yasushi ingin menyusul adiknya sekarang, tapi yasushi mengerti bahwa adiknya itu sedang tidak ingin diganggu.