Jakarta, Indonesia 19 oktober 2008
Sekarang Akina sedang berada dirumah pamannya, adik dari Hanna. Setelah menceritakan hal itu pada pamannya, akhirnya dia dibolehkan untuk tinggal disana, sebenarnya ada aturan keluarga, jika ada anggota keluarga yang minggat ataupun kabur dari rumah maka tempat tinggalnya adalah dirumah utama milik kakek Akina, tapi sayangnya kakeknya terlalu tua untuk mengurusnya. Memang tidak sekaya ayahnya pamannya Akina adalah seorang perwira polisi yang sudah bintang 4. rumahnya pun tergolong rumah mewah didaerah jakarta. Akina bersekolah di sekolah favorit disana yang terkenal dengan siswanya yang pintar dan juga kaya. Dia mengikuti tes seleksi masuk sekolah itu dan mendapatkan posisi pertama. Kelas pun dibagi berdasarkan hasil tes seleksi. Dan Akina berada dikelas unggulan. Dikelas 7A terkenal karena otak para siswa disana yang pintar dan diatas rata-rata dan orang tua mereka berkantung tebal, jika ingin masuk kelas disana maka kau harus memiliki dua kriteria kelas tersebut. Selanjutnya kelas 7B disana berisi dengan murid yang merupakan anak orang kaya tapi tak memiliki IQ diatas rata-rata, tapi jangan salah untuk masuk kekelas ini harus punya banyak uang dan juga punya prestasi yang memuasakan dibidang non-akademik, jadi kelas 7B bisa disebut kelas unggulan non-akademik. Selanjutnya kelas 7C, kelas ini beranggotakan sisiwa-siswi anak orang kaya tetapi mereka tidak terlalu pintar dan tidak mempunyai prestasi yang memuaskan dibidang non-akademik. Dan terakhir kelas 7 D bisa kalian tebak isinya sperti apa. Isi kelas ini adalah orang yang berprestasi dibidang akademik ataupun non-akademik tapi tidak berasal dari keluarga kaya. Awalnya Akina hanya ingin masuk kelas 7D, karena dia berbakat dibidang akademik maupun non-akademik dan juga dia tidak ingin merepotkan pamannya. Tapi pamannya ingin Akina mendapatkan fasilitas terbaik disekolah itu. Dengan alasan pamannya akan bangga jika Akina masuk kelas A maka bibi Akina pun berhasil membujuknya untuk masuk kelas A. Kalian bertanya bukan'kah kelas dibagi berdasarkan selesksi tes? Tentu saja. Ada tiga tes yang dilakukan. Tes akademik, non-akademik, dan test Adminidtrasi. Guru dikelas A minimal berpendidikan S2, dan kebanyakan gurunya adalah lulusan universitas diluar negeri. Akina agak pendiam tapi dia tidak sombomg, jika ada yang menyapanya dia akan balas dengan sapaan pula jika dia sedang sibuk dan terburu-buru maka dia akan membalasnya dengan senyum walaupu hatinya sedang sedih seakalipun. Dia mendapatkan seorang sahabat dari kelas 7D sebenarnya dia adalah murid yang pintar tapi keluarganya adalah keluarga yang tidak mampu dia bernama Alda. Menurut Akina, Alda adalah orang yang bisa mengerti perasaannya. Alda kehilangan ayahnya sejak kecil. Saat pulang sekolah ia membantu ibunya untuk membuat kue, ibunya harus berjuang membanting tulang demi menyekolahkan Alda dan juga adiknya. Keluarga Alda memiliki sebuah toko roti didepan rumahnya walau pun tidak terlalu besar, toko itu hanya berukuran 4x4 meter persegi dan berisi beberapa macam kue dan roti yang dipajang dietalase kaca toko. Tak jarang Akina membantu Alda dan keluarganya, saat Alda & ibunya memasak kue didalam maka Akina akan menjaga toko dan duduk dimeja kasir. Banyak pengalaman luar biasa diadapatnya di Indonesia yang tidak didapatkannya di Jepang. Dia mendapat sahabat yang selalu ada untuknya disaat keadaan seperti apa pun saat akina sedang membutuhkannya sahabatnya selalu ada untuknya dan ntuk pertama kalinya juga dia merasakan yang namanya jatuh cinta.
Setelah pembagian kelas, tibalah mas MOS (masa orentasi siswa) tibalah saat dimana para siswa baru masuk kekelasnya masing-masing. Dikelas A Akina merupakan yang paling awal sampai, dia memilih bangku baris kedua dari depan dan berada disebelah dinding yang ada jendelanya. Kelas ini berada di tingkat kedua. Dikelas ini juga bangkunya dipisah-pisah tidak seperti kebanyakan sekolah-sekolah di Indonesia, sekolah ini menggunakan sistem belajar sama seperti sekolah di Jepang, karena pemilik sekolah ini adalah orang kaya keturunan jepang. Akina berangkat kesekolah jam 7.30 dan pulang jam 4 sore. Disana ada loker untuk setiap siswa. Loker itu cukup besar karena bisa menyimpan seragam basketnya dan sepatu olahraganya Akina. Untuk buku pihak sekolah menyediakan buku khusus dan berada didalam loker yg ada di bawah meja dikelas A. Siswa Kelas A hanya membawa tas yang berisi leptop mereka tidak perlu membawa buku. Disekolahnya juga ada kafetaria. Tapi Akina lebih sering memakan kue atau roti yang dipesannya dari Alda dan memakannya berdua dikelas 7D. Kakak Sepupu Akina juga bersekolah disini dia kelas 9C. Setelah pulang sekolah Akina pulang kerumah dan mengganti baju setelah itu dia pergi ke toko alda untuk membantu alda. Jarak antara rumah alda dan sekolah dapat ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Dan dari rumah Akina kerumah Alda hanya 5 menit dengan sepedah. Setelah sampai di toko Alda, Akina langsung mengambil alih kasir. Alda yang mengerti pun langsung pergi ke dapur untuk membantu ibunya. Saat Akina sedang menjaga kasir ada 2 orang pembeli yang datang, dia pun pertanya kepada Akina.
"Kue ulang tahun dimana ya?" saat dia mengetahui yang menjadi kasir disana adalah Akina dia sangat terkejut, dan memandang Akina Remeh.
"Heeyyyy, bukan kah kau Akina dari kelas A" kata Fairus yang tidak lain adalah teman sekolah Akina dari kelas 7B, dan disebelahnya ada Bryan dia juga siswa dikelas 7B, Bryan Adalah orang yang disukai Akina, tapi karna Akina gengsi dia tidak mau menunujukan perasaanya. Bryan hanya diam menatap Akina, sedang'kan fairus yang merasa diabaikan kembali membuka suara.
"Bagaimana kau bisa masuk kelas A jika kau berkerja sampingan? Atau ayahmu sudah bangkrut"
"Kalau kalian mau beli silahkan, tapi jika kalian hanya ingin menghina pekerjaanku silahkan pergi karna aku sedang malas beradu mulut denganmu." Tatap Akina malas pada Fairus.
''Hey kau itu ya-" belum sempat fairus menyelesaikan perkataannya sudah dipotong oleh Bryan
"Cepat beli saja kuenya, David sudah menunggu kita" dengan nada datar dan juga mukanya yang datar.
"Kuenya disebelah sana" Akina menunjuk sebuah kulkas dengan wajah masamnya.
"Kau itu seharusnya melayani pelanggan dengan baik" Akina memutar bola matanya bosan
"Kenapa sih David menyuruh kita membeli kue disini" tanya Fairus
"Karena David teman kami" tiba-tiba Alda datang dengan membawa roti coklat yang baru selesai di panggang, setelah meletakan roti di etalase dia mengambil kue yang ada dalam kulkas yang kutunjuk dan mengeluarkannya, kue itu pun sudah dibungkus rapi, Alda pun memberikannya pada Fairus
"David sudah menghubungiku tadi dan memesan kue ulang tahun untuk adiknya," Fairus pun langsung mengambilnya.
"Ayo Bryan kita pergi, pelayanan kasirnya tidak bagus, bikin orang naik darah saja." Fairus pun meninggalkan Bryan yang masih membayar kue itu. Akina pun sudah siap marah-marah pun akhirnya dihentikan oleh Alda
"Aku minta maaf atas tingkah laku Fairus" Bryan masih tetap mempertahankan nada bicaranya yang datar
"Dan satu lagi, ini ada titipan untuk kalian berdua." Bryan memberikan 2 undangan kemudian langsung pergi menyusul Fairus
"Mereka berdua tu yah sama, bikin orang naik darah aja," kata akina
" Tapi setidaknya GEBETANMU kan sudah minta maaf," kata Alda menekan kan kata gebetan sambil tertawa
"Mana ada orang minta maaf dengan wajah dan nada yang datar begitu," balas Akina
"Setidaknya dia sudah tulus minta maaf padamu."
"Ah sudahlah jangan lagi di bahas, ngomong-ngomong pestanya?"
"Nanti Malam jam 7"
"Kau pergi? Kalau aku sih malas, pasti ada mereka lagi." kata Akina
"Aku sih juga malas, tapi tetap saja David adalah sahabat kita bagaimana pun kita harus pergi"
"Sahabat atau sahabat ?" sekarang giliran Akina yang nenjahili Alda. Yang ditanya hanya diam, Akina ingin sekali melanjutkan permainannya, tapi terhenti karna Hp Akina berbunyi
"Hallo, oh iya kak aku segera pulang" setelah menutup telponnya Akina kembali berbicara pada Alda
"Da aku pulang dulu ya, malam ini ada acara makan malam dirumah kakek titip salam pada ibu, aku usahakan datang kerumah David."
" iya, nanti aku sampaikan pada ibu" setelah berpamit pulang Akina langsung pulang kerumah. Akina baru tiba di rumah David saat jam delapan. Itu pun Akina sudah memohon pada kakeknya agar dapat pergi melewatkan makan malam keluarga.
Akina, Alda, dan David memang sudah bersahabat sejak masa pendaftaran sekolah dan test, mereka sangat mudah akrab. David berada di kelas B, karana dia adalah atlit basket sekolah, bersama fairus, Bryan dan teman-teman lainnya mereka berhasil menjuari berbagai macam turnamen baik tingkat kabupaten atau pun provinsi. Saat Akina kelas 2 SMP, Akina bahkan sudah tergabung dalam tim basket senior tingkat SMA, karna sekolah Akina mempunyai SMA. Saat Akina sudah kelas 2 SMP hubungannya dengan Bryan pun membaik bahkan mereka bisa dikatakan sangat dekat, tapi sayangnya tidak lebih dari 2 bulan Bryan dekat dengan Akina, tiba-tiba saja Brayn sudah mengumumkan bahwa dia telah berpacaran dengan salah satu seniornya. Hati Akina pun terasa sakit, seperti di sayat pisau tumpul, bagaimana pun juga Bryan adalah cinta pertama Akina, wajar saja jika Akina merasa teramat sakit dan trauma dengan yang namanya cinta, sikap Akina pada laki-laki pun berubah, dia menjadi mudah tempramen dan menganggap semua laki-laki itu sama, kecuali David dan keluaraganya. Syukurlah saat Akina sakit hati dan saat Akina merasa sangat down, ada Alda dan David yang menghiburnya dan menyemangatinya, dan juga Akina juga sedang sibuk karna dia terpilih menjadi ketua OSIS serta atlit daerah yang akan mewakili daerahnya di ajang yang sangat bergengsi pada perlombaan olahraga, jadi Akina tidak punya waktu untuk bergalau ria, ia terlalu sibuk dengan kegiatannya yang baru.
Waktu berlalu, Akina masih tetap menjadi bintang disekolahnya, ia masih tetap bersahabat dengan Alda dan David, dia juga berhasil mendapatkan mendali emas di cabang basket. Anggota OSIS yang dia pilih pun bekerja sama dengan baik, jadi hari-harinya lancar-lancar saja.
Tapi sayang kehidupannya yang lancar pun berubah menjadi rumit, bagaimana tidak ketua OSIS di SMA itu adalah anak pemilik sekolah. Akina tidak pernah sepemikiran dengan sang ketua OSIS ganteng itu, namanya adalah Rai Hideo, panggil saja Rai. Rai itu orangnya dingin dan tegas, dia selalu saja ingin menang, dia juga selalu menganggap remeh perempuan, jenius, dan juga kaya. Satu lagi yang Akina tidak suka darinya, dia adalah orang yang egois selalu saja ingin pendapatanya yang didengarkan, sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Akina yang selalu mengedepankan kerjasama tim. Saat ini pun keduanya sedang berdebat hebat tentang rencana program Study Tour yang akan diadakan sekolah.
"Menurutku kita juga harus mengajak siswa lain selain pengurus besar OSIS." kata Akina, yang langsung dibantah oleh Rai
"Tidak. Acara ini khusus untuk para OSIS saja, kita yang lebih lelah bekerja dari mereka"
"Tapi mereka juga ikut membantu, kita juga tidak akan bisa apa-apa jika tidak didukung oleh mereka" kata Akina
"Mereka hanya membantu sedikit sekali, kita para OSIS yang melakukan selebihnya, mereka cuman mau enaknya saja"
"MEREKA JUGA IKUT MEMBANTU!" kata Akina sambil menekan'kan semua kata-katanya
"Hanya SEDIKIT, bahkan urusan kebun sekolah dan halaman sekolah itu pengurus OSIS yang mengerjakan, kita bekerja mereka malah enak-enakan liburan"
"Sebagai pengurus OSIS, khususnya pengurus INTI OSIS memang tugas kita lebih banyak dari yang lain." Akina tidak mau kalah, walaupun dia adik kelas, tapi tetap saja dia harus mengedepankan kepenting bersama, sedangkan Rai tetap bulat pada pilihannya. Perdebatan pun masih berlanjut, dan semakin memanas
"JIKA KAU TIDAK MAU BEKERJA LEBIH KAU TIDAK USAH MENJADI KETUA OSIS!!!!" Bentak Akina pada Rai, semua orang terkejut karena Akina jarang sekali membentak orang, bahkan didepan guru pembina OSIS, tapi dari pihak anggota OSIS baik yang SMA atau pun yang SMP sama-sama tidak berani ikut campur dalam debat itu, karena mereka berdua mempunyai pengaruh yang besar disekolah.
"Wah-wah, kau berani sekali ya membentak'ku masih kecil saja sudah begini, apa kau tidak tau aku ha?"
"Aku tau, kau anak pemilik sekolah yang sok berkuasa dan menggunakan nama besar ayahmu untuk bisa bertindak semaunya"
"Kau benar-benar ya, apa kau tidak takut dikeluarkan ha? Atau jangan jangan kau punya orang dalam? "
"Aku tidak punya orang dalam!!"
" Rangga, kau tau siapa orang tuanya ?" tanya Rai pada wakil ketua OSIS SMA yang juga merupakan sahabatnya
"Namanya Akina Hikari, kelas 9 A, dia tinggal dengan pamannya yang merupakan Kepala kepolisian di negara ini, selain pintar dia berbakat hampir disegala bidang olahraga, dia mendapat mendali emas ditingkat nasional kelompok umur 18 tahun saat usianya masih 14 tahun, bisa memainkan alat musik piano, gitar dan biola"
"Yang aku tanya orang tuanya"
"Selain data yang aku sebutkan tadi tidak ada lagi data yang berkaitan dengannya termasuk keluarga aslinya, bahkan nama ayahnya saja tidak ada orang yang tau"
"Wah-wah ternyata kau misterius juga ya"
"Sudah cukup, kami berdua yang akan memutuskannya" kata salah satu guru pembina OSIS, kemudian mereka berbincang-bincang
"Baiklah, sudah kami putuskan yang ikut dalam study tour adalah hanya para anggota OSIS saja, ini kami berikan sebagaia reword karena kalian sudah bekerja keras demi sekolah" setelah keputusannya keluar, Rai memandang Akina dengan senyum kemenangngannya, Akina pun merasa kesal
"Selanjutnya kita akan tentukan tujuan study tour kita?" kata guru pembina
"Yah sudah jelas kita akan ke finlandia, karena kualitas pendidikannya yang terbaik di dunia"
"Apa kau GILA? Itu terlalu jauh " kata Akina
"Akina benar" kata guru pembina SMP
"Kalau begitu kita ke singapura saja atau malaysia" kata Rai
"Tidak, tetap saja itu keluar negeri, tentu saja itu akan membutuhkan biaya yang sangat besar, apa lagi acara study tournya bulan depan" bantah Akina
"Kau kan gampang, kau tinggal minta saja pada pamanmu"
"GAMPANG JIDATMU!! Kau kira pamanku penyihir yang bisa merubah daun menjadi uang, kau pikir pamanku dukun sakti yang bisa menggandakan uang, darimana pamanku bisa dapat uang yang banyak dalam waktu sebulan dan uang itu harus dikumpul sebelum kita study tour" kata Akina panjang lebar
"Pamanmu kan orang besar pasti lah dia punya uang yang sangat cukup untuk study tourmu"
"Kalau pun pamanku punya, aku tidak mau meminta uang sebanyak itu, karena merawatku saja mereka sudah mengeluarkan biaya. Baiklah kesampingkan saja aku, bagaimana dengan anggota OSIS yang berasal dari keluarga sederhana, berat bagi mereka untuk mencari uang sebanyak itu dalam waktu yang cukup singkat"
"Salahmu sendiri yang memilih para anggota OSIS yang tidak punya uang"
"Aku tidak sepertimu yang se-enaknya memilih anggota OSIS, aku memilih anggota OSIS yang mau bekerja keras bersamaku dan menjalankan tugasnya dengan ikhlas serta penuh dengan tanggung jawab. Daripada kau yang memilih anggota OSIS yang kaya raya tapi pemalas dan jangan lupa ada diantara mereka yang berlagak sok kaya raya padahal orang tua mereka hanyalah pegawai biasa" jelas Akina panjang lebar demi membela anggotanya, tentu saja para anggota OSIS SMP itu merasa bangga punya ketua OSIS seperti Akina.
"Sudah!! Yang dikatakan Akina benar, jadi kami memutuskan bahwa kita akan pergi ke jogja saja" kata guru pembina OSIS SMA. Sekarang giliran Akina yang memandang Rai dengan senyum kemenangan. Rapat pun akhirnya selesai menyisahkan Rai dan Akina karena mereka masih membereskan berkas-berkas mereka
"Ingat kita seri, jadi jangan merasa kau adalah pemenangnya " kata Rai tiba-tiba
"Baiklah kita lihat saja siapa yang akan menang di pertarungan berikutnya " kata Akina dengan wajah dinginnya lalu meninggalkan Rai begitu saja
"Awas saja kau" kata Rai, tetapi sudah tidak terdengar oleh Akina.