Pukul 19.40, Jumat. Gedung Yayasan berdiri gelap, hanya lampu lobi yang menyala.
Alga dan Renjana masuk lewat pintu samping yang Hartono biarkan tidak terkunci. Mereka mengenakan kemeja rapi, tas kerja di tangan—dua orang yang terlihat seperti pegawai yang pulang malam, bukan penyusup. Pelajaran Renjana: jangan terlihat takut, terlihatlah seperti kau berhak di sana.
Earpiece kecil di telinga Alga berderak. Suara Sekar, dari mobil Anindita di seberang jalan.
"Satpam lobi di posisi. Hartono sudah mengajaknya ngobrol soal jadwal lembur. CCTV lantai tiga mati mulai sekarang. Kalian punya lima jam. Tapi jangan pakai semuanya—keluar secepat mungkin."
"Mengerti," bisik Alga.
Mereka naik tangga, bukan lift—lift meninggalkan catatan. Tiga lantai, hening, hanya suara napas dan langkah yang ditahan. Di lantai tiga, lorong gelap membentang. Renjana menyalakan senter ponsel, telapak tangan menutupi sebagian cahaya agar tidak tampak dari luar.
Ruang ketua di ujung lorong. Pintunya terkunci, tapi Hartono sudah mengatur agar tidak. Alga memutar gagang. Terbuka.
Di dalam, ruangan luas dengan meja kayu besar, sofa kulit, dan di dinding—lukisan kapal layar yang Gunawan dan Hartono sebutkan. Alga mendekat, hatinya berdegup keras. Ia menggeser lukisan ke samping.
Brankas. Persis seperti yang dikatakan.
"Terkunci kombinasi," bisik Alga. "Kita tidak punya kodenya."
"Tidak butuh," kata Renjana. Ia menunjuk meja. "Halimah pergi gala dadakan. Lihat."
Di atas meja, terbuka, tergeletak sebuah map. Dokumen-dokumen yang sedang dikerjakan, ditinggalkan karena buru-buru ke acara. Renjana menyorot dengan senter.
Alga membaca, dan darahnya membeku.
MoU Pencairan Dana Hibah Akreditasi Internasional. Penerima: Yayasan Bumi Sentosa Sejahtera. Syarat: angka mortalitas IGD di bawah ambang yang ditetapkan. Dan di lampiran—sebuah memo, dengan tanda tangan yang jelas.
Memo internal, dari Ketua Yayasan kepada Direktur Utama. "Pastikan angka mortalitas triwulan ini sesuai target akreditasi. Gunakan mekanisme manajemen risiko statistik sebagaimana disepakati. Tidak ada toleransi untuk angka yang merusak ambang hibah."
Tanda tangan: Halimah Pranata.
"'Manajemen risiko statistik'," bisik Alga. "Itu nama sopan mereka untuk membuang pasien." Ia merasa mual dan menang sekaligus. "Ini dia. Ini yang mengikat Halimah langsung. Bukan Damar. Halimah."
"Foto," kata Renjana, sudah mengeluarkan ponselnya. "Semuanya. Cepat."
Mereka memotret halaman demi halaman, tangan mantap, cahaya layar redup. MoU. Memo. Lampiran aliran dana ke rekening yang bukan rekening rumah sakit. Setiap lembar adalah satu paku di peti mati sindikat.
"Selesai," bisik Alga, mengembalikan dokumen persis seperti semula. "Mereka tidak akan tahu kita pernah—"
Earpiece berderak. Suara Sekar, tegang. "Masalah. Satpam meninggalkan lobi. Hartono kehilangan kontrol. Dia naik tangga. SATPAM NAIK KE LANTAI TIGA. Keluar SEKARANG."
Alga dan Renjana membeku sesaat. Lalu bergerak—menggeser lukisan kembali menutupi brankas, merapikan map, mematikan senter.
Langkah kaki di lorong. Mendekat.
"Pintu darurat," bisik Renjana, menunjuk ujung lain ruangan. Tapi pintu itu mengarah ke lorong yang sama dengan satpam.
Suara dari lorong—Hartono, lebih keras dari perlu, jelas demi mereka. "Pak! Tunggu, Pak, saya butuh bantuan di lantai dua. Dokumen akreditasi saya tercecer. Bisa bantu saya sebentar? Penting sekali untuk audit—"
Langkah kaki berhenti. Ragu. Lalu, perlahan, mulai menjauh ke arah tangga, mengikuti Hartono.
Alga melepaskan napas yang ia tahan. Renjana menggenggam lengannya, memberi aba-aba. Mereka menyelinap keluar dari ruang ketua, menyusuri lorong gelap, menuruni tangga darurat di sisi berlawanan dari suara Hartono yang terus berbicara keras, menutupi mereka.
Mereka keluar ke gang samping. Mobil Anindita sudah menyala, pintu terbuka. Mereka melompat masuk. Mobil melaju tenang—tidak ngebut, tidak menarik perhatian. Pelajaran Renjana, sekali lagi.
Di kursi belakang, Alga membuka galeri ponselnya dengan tangan gemetar—bukan dari takut, dari adrenalin. Foto-foto itu ada. Tajam. Terbaca. Tanda tangan Halimah, jelas seperti vonis.
"Kita dapat," bisiknya. "Renjana, kita benar-benar dapat."
Tapi Renjana tidak tersenyum. Ia menatap kaca spion, ke arah gedung Yayasan yang menjauh di belakang mereka.
"Hartono masih di dalam," kata Renjana pelan. "Dia mengalihkan satpam dengan menyebut dokumen akreditasi yang tercecer. Untuk melindungi kita, dia harus mengaku berada di lantai tiga, mengurus sesuatu, di malam ketika CCTV lantai tiga mati." Wajahnya mengeras. "Dia baru saja menggantungkan dirinya sendiri sebagai satu-satunya orang yang bisa mematikan rekaman itu."
Alga merasa kemenangan di tangannya berubah dingin.
Di kejauhan, di gedung yang mereka tinggalkan, dr. Hartono masih bicara dengan suara terlalu keras kepada seorang satpam yang mulai menatapnya dengan curiga—seorang lelaki yang baru saja menjadi tameng, dan tahu persis berapa harga yang akan ia bayar untuk itu.