Berita itu datang sebelum kopi pertama Alga dingin.
Ia sedang mengganti perban seorang pasien luka bakar ringan ketika ponselnya bergetar di saku. Pesan dari Sekar, tiga kata tanpa basa-basi: "Hartono dipecat. Cepat."
Alga menyelesaikan simpul perban itu dengan tangan yang tetap stabil—tangan yang setahun lalu gemetar memasang infus, kini tahu betul kapan harus menahan diri. Ia menepuk bahu pasiennya, melepas sarung tangan, lalu berjalan keluar dengan langkah biasa. Di koridor, ia membaca pesan lanjutan Sekar.
Notulen pemberhentian sudah beredar. dr. Hartono Wibisono, anggota Komite Medik, diberhentikan dengan tidak hormat. Tuduhannya: mencuri rekam medis pasien dan membocorkan dokumen internal rumah sakit. Surat itu ditandatangani Pak Damar sendiri, di atas kop "Pelayanan dari Hati".
Alga menelepon Renjana. Konsulen itu menjawab di dering kedua.
"Saya sudah dengar," kata Renjana, suaranya datar tapi Alga tahu apa yang tersembunyi di baliknya. "Mereka membalik papan catur."
"Hartono yang kasih kita denah brankas Yayasan. Sekarang dia yang dituduh maling." Alga menurunkan suaranya saat seorang perawat lewat. "Mereka tahu, Dok. Mereka tahu dia sumbernya."
"Mereka menebak. Hartono ada di kantor Yayasan malam itu. Begitu kita nyaris ketahuan, dia jadi tersangka paling masuk akal." Renjana terdiam sejenak. "Tapi yang lebih berbahaya bukan pemecatannya. Dengar narasi mereka, Alga. Pencurian rekam medis. Itu bukan soal Hartono. Itu memori untuk kita."
Alga mengerti. Perutnya dingin.
Sore harinya, dugaan Renjana terbukti. Selebaran internal tersebar ke seluruh staf—dicetak rapi, distempel direksi. Isinya: peringatan tentang "oknum dokter yang menyalahgunakan akses untuk mencuri data pasien dan menyebar fitnah demi keuntungan pribadi". Tidak ada nama. Tapi semua orang di IGD tahu kepada siapa jari itu menunjuk.
"Mereka membangun cerita," kata Renjana malam itu, di sebuah warung kopi tiga blok dari rumah sakit, jauh dari mata kamera. Hartono duduk di seberang mereka, wajahnya pucat pasi, kantong matanya menghitam. Pria yang dulu disegani di Komite Medik kini tampak seperti orang yang baru kehilangan tanah pijakannya.
"Dua puluh tiga tahun saya di rumah sakit itu," kata Hartono lirih. Tangannya melingkari gelas teh yang tak ia sentuh. "Kemarin pagi satpam mengantar saya keluar seperti pencuri. Di depan perawat-perawat yang dulu menghormati saya." Ia mengangkat wajahnya. "Anak saya tanya kenapa Bapak pulang siang. Saya nggak bisa jawab."
Alga merasakan sesuatu mengetat di dadanya. Ia teringat Pak Gunawan, yang juga ditekan, juga ketakutan. Pola yang sama. Sindikat tidak membunuh dengan pisau—mereka membunuh nama, mata pencaharian, harga diri.
"Pak Hartono, dokumen yang Bapak kasih ke kami—notulen rapat 'ambang mortalitas', denah brankas—itu nggak sia-sia," kata Alga. "Itu yang mengaitkan Damar langsung."
"Tapi sekarang siapa yang percaya?" Hartono tertawa pahit, suara yang lebih dekat ke isak. "Saya sudah dilabeli pencuri. Apa pun yang saya katakan, jaksa, pers, siapa pun—mereka akan bilang saya pendendam yang dipecat."
Renjana menatapnya lurus. "Itu justru kenapa mereka melakukannya sekarang, sebelum kita bicara duluan. Mereka tahu kita pegang bukti dari brankas. Jadi mereka racuni sumurnya lebih dulu. Begitu nanti kita keluar dengan bukti, mereka tinggal bilang: 'lihat, ini ulah dokter-dokter pencuri yang sakit hati'."
Hening menggantung di antara mereka. Di luar, hujan mulai turun, mengetuk seng warung dengan irama gelisah.
"Berarti kita kalah di pengadilan opini sebelum sidang dimulai," gumam Alga.
"Belum," kata Renjana. Ia mencondongkan badan, suaranya merendah jadi bisikan yang tajam. "Tapi waktu kita habis. Sebelumnya kita bilang akan kumpulkan bukti pelan-pelan, susun rapi, baru keluar. Itu strategi yang salah sekarang. Setiap hari kita diam, mereka membangun cerita kebalikannya. Setiap hari, kita makin jadi penjahat di mata orang sebelum kita sempat buka mulut."
Alga menatap kedua orang di hadapannya—satu mentor yang dingin tapi setia, satu lagi pria patah yang menebus dosanya dengan kehilangan segalanya. Lalu ia teringat satu kalimat yang diucapkan Renjana di hari pertamanya, kalimat yang sejak itu tak pernah ia lupakan. Di sini, lima menit itu selisih antara hidup dan mati.
Kini bukan lagi lima menit untuk satu pasien. Ini lima menit untuk seluruh perlawanan.
"Jadi kita harus keluarkan bukti sekarang," kata Alga pelan. "Sebelum mereka selesai mengubur kita."
Renjana mengangguk satu kali, gerakan kecil yang terasa seperti palu jatuh. "Bukan minggu depan. Bukan setelah semuanya sempurna." Ia menatap hujan di luar jendela. "Mereka sudah menulis nama Hartono di kolom 'selesai'. Pertanyaannya sekarang—siapa nama berikutnya yang mereka coret."
Ponsel Alga bergetar lagi. Nomor tak dikenal. Hanya satu baris.
"Besok pagi datang ke Polres. Ada panggilan untuk kamu, Dok."