Ruang penyidik di Polres berbau rokok lama dan kertas lembap.
Alga duduk di kursi plastik di depan meja logam, jaket di pangkuan, jantung berdebar tapi wajah ia jaga tenang—pelajaran lama Renjana: jangan tunjukkan takut, jangan tunjukkan apa yang kamu tahu. Di seberangnya, seorang penyidik berbadan besar membaca berkas dengan kacamata melorot di hidung.
"Dugaan pencurian dokumen rumah sakit," kata penyidik itu tanpa menatapnya. "Dan pencemaran nama baik institusi. Pelapornya Rumah Sakit Bumi Sentosa. Kuasa hukumnya Pak Damar." Ia menaruh berkas. "Saudara Alga Mahendra, dokter internsip. Betul?"
"Betul, Pak."
"Saudara pernah mengakses ruang arsip B2 tanpa izin? Pernah menyalin rekam medis pasien?"
Alga menatap penyidik itu. Pertanyaan yang sudah ia duga, dan jawabannya sudah ia latih bersama Renjana. Mengakui setengah, menyangkal yang membahayakan, tidak pernah berbohong yang bisa dipatahkan rekaman.
"Saya dokter, Pak. Saya mengakses rekam medis pasien yang saya tangani, itu tugas saya. Soal ruang arsip, saya minta surat perintah dan dasar tuduhannya. Saya juga minta pengacara saya hadir sebelum saya jawab lebih jauh."
Penyidik itu mengangkat alis. "Anak baru tapi banyak omong."
Pintu terbuka. Seorang perwira muda masuk—seragam rapi, pangkat di pundak, wajah yang Alga kenal dari pertemuan diam-diam dua minggu lalu. AKP Bayu Saputra. Tapi sekarang sikapnya berbeda; ada kekakuan di rahangnya, sesuatu yang tertahan.
"Saya ambil alih pemeriksaan ini," kata Bayu pada penyidik besar itu.
Penyidik itu menatapnya lama, lalu mengangkat bahu dan keluar, menutup pintu agak keras. Begitu mereka berdua sendiri, Bayu menurunkan suaranya.
"Dok, situasinya buruk. Laporan ini didorong dari atas. Atasan saya, Kombes, main golf sama Damar. Saya diperintahkan mempercepat berkas kamu sampai P-21." Ia mengusap wajahnya. "Mereka mau kamu jadi tersangka resmi dalam dua minggu. Begitu kamu tersangka, semua bukti yang kamu pegang otomatis jadi 'barang curian'. Tak bisa dipakai di pengadilan. Dan kamu—dokter pencuri yang sedang membela diri dengan menuduh balik."
Alga merasakan jebakan itu mengatup dengan presisi yang dingin. Bukan hukum yang melindungi, melainkan hukum yang dijadikan senjata. "Pak Bayu yang mengurus kasus saya. Pak Bayu yang bantu kami selama ini. Kenapa Pak Bayu yang ditugaskan menjerat saya?"
"Karena itu cara mereka," kata Bayu pelan. "Mereka tahu saya dekat sama kasus ini. Dengan menaruh saya di kursi ini, kalau saya menolak menjerat kamu, saya yang kelihatan tidak profesional, tidak netral. Kalau saya menjerat kamu—mereka pakai tangan saya sendiri untuk menghancurkan kamu." Ia menatap Alga. "Mereka menjepit kita berdua sekaligus."
Hening di ruang sempit itu, hanya kipas angin tua yang berderit di sudut.
"Berapa lama saya bisa ulur?" tanya Alga.
"Sebagai penyidik, saya bisa minta keterangan tambahan, saksi tambahan, ahli. Saya bisa beli waktu. Sepuluh hari, mungkin dua minggu. Lebih dari itu, atasan saya akan curiga dan mengganti saya dengan orang mereka." Bayu menatapnya lurus. "Dengar, Dok. Selama ini saya selalu bilang ke kamu, bukti medis nggak cukup. Saya butuh niat, mens rea. Saya butuh kasus yang sah." Ia menelan ludah. "Tapi sekarang kalian kehabisan kemewahan untuk menunggu kasus sempurna. Mereka akan menutup pintu hukum buat kalian dalam dua minggu. Kalau bukti kalian nggak keluar sebelum saya diganti, kalian akan masuk penjara, dan mereka jalan terus."
Sore itu Alga menemui Renjana di parkir rumah sakit, di antara mobil-mobil, jauh dari pintu masuk. Ia menceritakan semuanya. Renjana mendengarkan dalam diam, tangannya bersandar di kap mobil tuanya.
"Jadi mereka menutup jalur hukum," kata Renjana akhirnya. "Bayu satu-satunya pintu kita, dan pintu itu sedang ditarik dari engselnya."
"Bayu bilang dia bisa ulur dua minggu. Tapi kalau saya jadi tersangka, semua bukti kita hangus."
Renjana menengadah ke langit yang mulai jingga. Untuk sesaat ia tampak sangat lelah—lelah yang lebih dalam dari sekadar kurang tidur. Lalu sesuatu mengeras di wajahnya, sesuatu yang Alga kenal sebagai keputusan.
"Kalau jalur hukum mereka tutup, kita buka jalur lain," kata Renjana. "Mereka membangun cerita di ruang gelap, di berkas penyidik, di selebaran internal. Kita harus pindahkan pertarungan ke tempat di mana cerita mereka nggak bisa dikontrol."
"Pers," kata Alga.
"Pers." Renjana menatapnya. "Ratna. Jurnalis yang dihubungi Anindita. Kita pakai dia sebagai perisai. Begitu kasus ini terbuka ke publik, kalau mereka menahan kamu setelah itu, semua orang akan tahu kamu ditahan karena membongkar mereka—bukan karena mencuri." Ia membuka pintu mobil. "Tahanan diam-diam itu mudah. Tapi menahan dokter yang fotonya sudah ada di koran sebagai pembongkar pembunuhan—itu jauh lebih sulit. Mereka jadi takut sama kamera, bukan kamu yang takut sama mereka."
Alga merasakan urgensi lama itu kembali, denyut yang sama seperti malam mereka menjemput Bu Sulastri. Lima menit selisih hidup-mati. Hanya saja sekarang jamnya berdetak untuk semua orang sekaligus.
"Tapi kita masih kekurangan satu hal," kata Renjana, sebelum menutup pintu. Suaranya berat. "Auditor akreditasi internasional datang minggu depan. Begitu mereka memberi cap 'sempurna' pada angka mortalitas Damar, dana hibah cair, status RS rujukan nasional turun, dan semua kejahatan ini berubah jadi 'sistem yang teruji dan diakui dunia'." Ia menatap Alga. "Kita nggak cuma balapan sama penyidik. Kita balapan sama kalender."