Wirya tidak masuk shift selama dua hari setelah malam itu.
Ketika ia akhirnya kembali, Alga nyaris tidak mengenalinya. Jas putihnya masih bersih, pantofelnya masih mengilap, tapi ada yang berbeda—mata yang dulu selalu menghitung kini sering melayang kosong, tangan yang dulu mantap kini gemetar saat menuangkan kopi di pantry. Ia tidak lagi tersenyum lebar. Ia banyak menoleh ke belakang.
Alga mengamatinya dari kejauhan, dan ia mengenali tanda-tanda itu. Bukan tanda penyakit. Tanda orang yang baru sadar dirinya berdiri di tepi jurang, dan jurang itu digali oleh tangan yang selama ini ia kira melindunginya.
Sore itu, kesempatan datang dengan cara yang tak terduga. Alga melintasi tangga darurat menuju ICU untuk menengok Rendi yang sudah membaik, ketika ia menemukan Wirya berdiri di bordes tangga, sendirian, menatap ponselnya dengan wajah pucat.
Wirya mendongak, dan untuk sesaat dua dokter itu hanya saling pandang dalam keheningan beton dan lampu temaram tangga darurat—tempat tanpa kamera, tempat di mana topeng bisa retak.
"Kamu pasti senang," kata Wirya akhirnya, suaranya serak. Tidak ada nada ramah palsu yang biasa. "Anak itu hidup. Auditor menunda keputusan. Damar marah besar." Ia tertawa pendek, getir. "Dan sekarang dia mencari siapa yang harus disalahkan."
Alga tidak menjawab segera. Ia melangkah lebih dekat, hati-hati, seperti mendekati pasien syok yang setiap gerakan mendadak bisa membuat kolaps.
"Dia mau jadikan kamu kambing hitam," kata Alga pelan. Bukan pertanyaan.
Wirya menatapnya. Dalam tatapan itu, untuk pertama kalinya, Alga tidak melihat musuh. Ia melihat orang yang ketakutan.
"Lembar status anak itu," kata Wirya, hampir berbisik. "Yang dicoret. Damar simpan. Bukan dia musnahkan—dia simpan. Tahu kenapa?" Ia tertawa lagi, suara yang nyaris pecah. "Karena di lembar itu yang menandatangani pencoretan diagnosis adalah saya. Tulisan tangan saya. Tanda tangan saya. Bukan tanda tangan dia. Selama bertahun-tahun, semua yang menyentuh stempel ungu adalah tangan saya. Damar nggak pernah menulis apa pun. Dia cuma bicara." Wirya mengusap wajahnya dengan tangan gemetar. "Kalau semua ini meledak, yang masuk penjara adalah orang yang tanda tangannya ada di kertas. Itu saya, dr. Alga. Bukan dia. Selalu saya."
Alga merasakan ini—momen yang Renjana dan Bayu bicarakan berbulan-bulan. Antagonis lapis pertama yang mulai goyah. Tapi ia tahu ia harus berhati-hati. Satu kata salah, dan Wirya akan menutup diri kembali, kembali ke pelukan Damar karena ketakutan.
"Wirya," kata Alga, menggunakan namanya tanpa gelar untuk pertama kalinya, seperti pada sesama manusia. "Kamu benar. Damar membangun dinding pembatas di antara dia dan setiap kejahatan. Setiap tanda tangan, setiap coretan, setiap stempel—semua tangan orang lain. Tangan kamu. Begitu kapal ini tenggelam, dia akan berdiri di sekoci, dan kamu yang tinggal di geladak."
"Saya tahu," desis Wirya. "Kamu pikir saya nggak tahu? Bertahun-tahun saya kira saya pintar. Saya kira saya orang dalam. Ternyata saya cuma sarung tangan yang dia pakai supaya tangannya sendiri bersih." Bahunya merosot. "Dan sekarang sarung tangan kotor itu mau dia buang."
"Ada jalan lain," kata Alga.
Wirya mendongak, waspada. "Jangan."
"Jadi saksi mahkota." Alga mengeluarkan kalimat itu dengan tenang, seperti menawarkan obat pada pasien yang takut jarum. "Ada penyidik. Bersih. Namanya AKP Bayu. Kalau kamu bicara—siapa yang memberi perintah, bagaimana kuota mortalitas ditentukan, dari mana bonus akreditasi, semua yang Damar suruh—kamu bisa dapat perlindungan. Hukuman ringan. Mungkin kamu nggak jadi orang yang berdiri sendirian di geladak. Mungkin kamu yang menarik Damar turun dari sekocinya."
Wirya tertawa, tapi suaranya patah di tengah. "Perlindungan. Kamu pikir polisi bisa melindungi saya dari Damar? Dari Yayasan? Mereka punya orang di mana-mana. Di polisi, di pengadilan, di pers. Kamu tahu apa yang terjadi sama Larasati."
Nama itu menggantung di udara dingin tangga darurat seperti hantu.
"Saya tahu," kata Alga pelan. "Tapi saya juga tahu satu hal yang berbeda sekarang dibanding zaman Larasati. Dia melawan sendirian. Kamu nggak akan sendirian. Ada saya. Ada Renjana. Ada Bayu, jurnalis, keluarga korban, dokter-dokter di luar. Dulu mereka bisa menyingkirkan satu orang dan semua tutup mulut. Sekarang sudah terlalu banyak orang yang tahu, terlalu banyak salinan, terlalu banyak mata. Mereka nggak bisa menghapus kita semua."
Wirya menatapnya lama. Sesuatu bergulat di balik mata yang dulu selalu dingin itu—naluri mempertahankan diri yang selama ini ia layani dengan setia, melawan satu kemungkinan yang ia tak berani percaya.
"Saya butuh waktu," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Saya nggak bisa—saya nggak bisa langsung. Kalau saya salah pilih, saya mati, Dok. Bukan kiasan. Mati."
"Saya nggak memaksa," kata Alga. "Tapi waktu kita sedikit. Auditor masih menunda. Damar lagi mencari tumbal. Setiap hari kamu diam, kamu makin dekat jadi tumbal itu." Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya, menuliskan satu nomor, menyerahkannya. "Nomor Bayu. Bukan nomor polisi yang lain. Cuma dia. Kalau kamu siap, telepon. Kapan saja."
Wirya menatap kertas itu seperti menatap api—sesuatu yang bisa menyelamatkannya atau membakarnya habis. Lalu, dengan gerakan cepat seperti mencuri, ia melipatnya dan memasukkannya ke saku jas, di balik stetoskop yang tergantung di lehernya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan menuruni tangga, langkahnya tergesa, gema sepatu pantofelnya memantul di dinding beton.
Tapi ia menyimpan kertas itu. Ia tidak membuangnya.
Celah itu, sekecil apa pun, kini terbuka.