Undangan itu datang lewat sekretaris, di atas kertas berkop, dengan tinta yang rapi.
"Pak Direktur mengundang dr. Alga Mahendra untuk berbincang. Pukul empat sore. Ruang Direktur Utama."
Renjana menatap undangan itu lama ketika Alga menunjukkannya. "Jangan pergi sendirian," katanya. "Atau—pergilah, tapi rekam semuanya. Dia nggak akan mengancam terbuka di ruangannya sendiri. Dia terlalu pintar. Tapi apa pun yang dia tawarkan, jangan terima di tempat. Pulang dulu, pikir, baru jawab."
"Saya nggak akan menerima apa pun, Dok."
"Saya tahu." Renjana menatapnya. "Tapi dia akan membuat penolakan kamu terasa seperti kebodohan paling besar dalam hidup kamu. Itu keahliannya. Bersiaplah untuk itu."
Ruang Direktur Utama berbeda dari seluruh rumah sakit—karpet tebal, jendela kaca dari lantai ke langit-langit menghadap kota, lukisan asli di dinding, aroma kopi mahal dan kayu. Pak Damar berdiri di balik jendela saat Alga masuk, memandang kota yang membentang di bawahnya.
"Duduk, Dokter," kata Damar, tanpa menoleh. "Kopi? Saya minta yang khusus. Dari kebun di Toraja. Bukan kopi sachet IGD."
"Terima kasih, Pak. Saya nggak haus."
Damar berbalik, tersenyum—senyum kakek yang sama dari poster. Ia duduk di kursi kulit besar, menyilangkan kaki, santai, seperti pemilik dunia yang sedang berbaik hati menerima tamu kecil.
"Saya akan jujur sama kamu, Alga. Boleh saya panggil Alga?" Ia tidak menunggu jawaban. "Saya sudah lama di rumah sakit ini. Tiga puluh dua tahun. Saya mulai dari dokter jaga, seperti kamu. Saya tahu rasanya berdiri di IGD jam tiga pagi, kelelahan, dan merasa seluruh dunia bertumpu di bahu kamu." Ia mencondongkan badan. "Dan saya tahu rasanya menyadari, perlahan, bahwa idealisme itu nggak bisa membayar tagihan listrik rumah sakit. Nggak bisa membeli ventilator baru. Nggak bisa menggaji tiga ribu pegawai yang punya anak, punya cicilan, punya orang tua sakit."
Alga diam. Di sakunya, perekam berputar.
"Kamu pikir saya jahat," lanjut Damar, suaranya lembut. "Saya mengerti kenapa kamu pikir begitu. Dari tempat kamu berdiri, di sisi ranjang satu pasien, ya, setiap nyawa adalah segalanya. Itu benar. Itu tugas kamu, dan kamu menjalankannya dengan luar biasa—anak sepsis kemarin, saya dengar, kerja yang indah." Ia menggeleng pelan, hampir sedih. "Tapi dari tempat saya duduk, saya nggak melihat satu pasien. Saya melihat ribuan. Saya melihat seluruh rumah sakit yang, kalau tutup, akan membuat seluruh kota ini nggak punya tempat berobat. Saya harus memilih, Alga. Setiap hari. Lima orang yang bisa diselamatkan dengan sumber daya yang sama dengan satu orang yang hampir pasti mati. Itu bukan kejahatan. Itu beban."
"Pak Damar," kata Alga pelan, "Bu Sulastri bisa diselamatkan. Pak Solihin bisa. Rendi bisa. Anak tujuh tahun itu nggak 'hampir pasti mati'. Dia mau pulang sehat. Yang Bapak sebut beban—itu cuma cara halus untuk bilang ada orang yang Bapak putuskan nggak layak ditolong supaya angka di laporan kelihatan bagus."
Senyum Damar tidak goyah, tapi matanya menajam. "Mari kita berhenti berdebat soal moral. Itu melelahkan, dan kita berdua tahu kita nggak akan sepakat." Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah map. "Saya mau bicara soal masa depan kamu. Masa depan yang sebenarnya bisa sangat cerah."
Ia membuka map itu. Alga melihat dokumen—surat rekomendasi, formulir beasiswa, surat pengangkatan.
"Beasiswa spesialis. Penuh. Spesialis gawat darurat, kalau itu yang kamu mau—saya tahu itu yang kamu mau. Di universitas terbaik. Lalu posisi staf tetap di sini, dengan gaji yang nggak akan pernah kamu dapat sebagai dokter biasa sampai usia empat puluh. Rumah dinas. Nama baik. Karier yang akan membuat orang tua kamu di kampung bangga sampai mati." Damar menutup map, menggesernya pelan ke arah Alga di atas meja. "Semua ini. Hari ini. Yang kamu perlu lakukan cuma satu hal."
"Diam," kata Alga.
"Bekerja sama," koreksi Damar lembut. "Lupakan yang lalu. Lupakan map ungu, lupakan B2, lupakan polisi, lupakan jurnalis. Fokus jadi dokter hebat. Jadi sumpah kamu—menyelamatkan nyawa—bisa kamu jalankan dengan tangan terbaik, sumber daya terbaik, untuk ribuan pasien selama tiga puluh tahun ke depan." Ia tersenyum. "Bukankah itu sumpah yang sebenarnya? Menyelamatkan sebanyak mungkin? Bukan menghancurkan satu rumah sakit demi membuktikan satu titik?"
Hening menggantung di ruangan mewah itu. Di luar jendela, kota berkelip mulai menyalakan lampunya, ribuan nyawa yang Damar klaim ia lindungi.
Alga teringat sesuatu—bukan kemarahan, tapi sebuah wajah. Bapak luka kepala, hari pertamanya, yang meninggal karena perdarahan otak. Takdir, kata Renjana. Tak ada yang salah di sana. Tapi ia juga teringat satu hal yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: bertahun-tahun lalu, kakeknya—lelaki yang membesarkannya sambil menggarap sawah—meninggal di sebuah IGD di kampung, dipulangkan dengan diagnosis "masuk angin", dan mati semalam kemudian di teras rumah. Dulu keluarganya menyebut itu takdir. Kini Alga tahu, mungkin, ada stempel ungu versi lain di sana juga. Itulah sebabnya ia jadi dokter.
"Pak Damar," kata Alga, dan suaranya tenang, nyaris lembut, "Bapak benar soal satu hal. Sumpah saya memang menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Tapi sumpah itu nggak pernah bilang saya boleh memilih siapa yang layak." Ia berdiri. Map itu ia biarkan tergeletak di meja, tak tersentuh. "Kakek saya meninggal dipulangkan dengan diagnosis salah. Dulu kami kira itu takdir. Saya jadi dokter supaya nggak ada keluarga lain yang harus mengubur orang yang mereka cintai karena ada orang berjas yang memutuskan dia cuma angka." Ia menatap Damar lurus. "Saya nggak bisa diam, Pak. Bukan karena saya berani. Karena saya nggak punya pilihan lain dan masih bisa bercermin."
Untuk pertama kalinya, senyum kakek itu lenyap sepenuhnya dari wajah Damar. Yang tersisa hanya wajah seorang lelaki tua yang sangat, sangat dingin.
"Sayang sekali," kata Damar, dan suaranya kehilangan semua kelembutannya. Ia menarik map itu kembali ke arahnya, menutup laci. "Saya selalu lebih suka menyelesaikan masalah dengan menawarkan jalan. Lebih bersih. Lebih murah." Ia menatap Alga. "Tapi kamu memilih jalan yang lebih sulit. Untuk saya, dan jauh lebih sulit untuk kamu."
Alga berbalik menuju pintu.
"Dokter Alga," panggil Damar di belakangnya. Alga berhenti, tidak menoleh. "Saya harap kamu hati-hati di jalan. Kota ini—jalanannya licin akhir-akhir ini. Banyak kecelakaan."
Bulu kuduk Alga berdiri. Kecelakaan. Kata yang sama yang dipakai untuk Larasati.
Ia membuka pintu dan keluar tanpa berbalik, langkahnya mantap meski jantungnya berdebar liar. Di sakunya, perekam masih berputar—dan kali ini, Damar baru saja mengucapkan ancaman yang nyaris terbuka.