Pagi datang seperti tamu yang tak diundang. Cahaya masuk lewat jendela ruang rawat kecil Harapan Kita, jatuh pada wajah-wajah yang tak tidur semalaman.
Mereka menghitung kerugian seperti dokter menghitung perdarahan. Kos Alga: habis, beserta arsip kertas yang tak sempat dipindah. Sekar: aman, tapi retak, dan keluarganya kini jadi sandera tak kasat mata. Server: bertahan, tapi lokasinya terbongkar—harus dipindah lagi, entah ke mana. Renjana: dua belas jahitan di bahu, lengan kiri digantung, dilarang Anindita mengangkat beban.
"Kita masih punya buku kulit," kata Anindita, mencoba menanam optimisme di tanah yang gersang.
"Buku kulit tanpa map asli bisa disangkal," Renjana menjawab, suaranya lelah. "Sudah kita bahas di Bab—" ia berhenti, menggeleng pelan. "Sudah lama kita bahas. Mereka akan bilang itu rekayasa. Tulisan tangan siapa? Tak bisa dibuktikan tinta resmi rumah sakit. Pengacara Yayasan akan merobeknya dalam lima menit."
Alga berdiri di dekat jendela, punggung membungkuk. Sepanjang malam ia memutar daftar nama di kepalanya—bukan korban di buku kulit, tapi korban di sekitarnya. Gunawan, koma berbulan-bulan karena kartu akses. Hartono, yang sebentar lagi akan dipecat. Sekar, yang anaknya kini diintai. Renjana, dengan darah di lengannya. Dan keluarga-keluarga yang ia tarik masuk ke dalam bahaya dengan janji keadilan yang mungkin tak pernah datang.
"Mungkin," katanya pelan, "kita salah sejak awal."
Ruangan terdiam.
"Apa kita punya hak," lanjut Alga, "menyeret orang-orang ini ke garis tembak? Bu Sulastri sudah selamat. Gunawan sudah hidup. Kalau kita berhenti sekarang, mereka berhenti memburu kita. Tidak ada lagi yang terbakar. Tidak ada lagi anak Sekar yang diintai." Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang dulu gemetar, kini gemetar lagi, tapi bukan karena takut prosedur. Karena beban. "Berapa banyak nyawa lagi yang harus jadi taruhan sebelum saya boleh mengaku ini terlalu mahal?"
Tak ada yang menjawab. Renjana menatap lantai. Bahkan ia, yang selalu punya logika dingin untuk dilemparkan, kali ini diam.
Lalu sebuah suara dari pintu.
"Saya dengar."
Bu Sulastri berdiri di sana, satu tangan di kusen pintu untuk menopang tubuh yang masih rapuh. Nayla di sampingnya. Wajah perempuan lima puluh dua tahun itu pucat, tapi matanya jernih.
"Saya dengar semuanya, Dok," kata Bu Sulastri. Ia melangkah masuk, perlahan, ke tengah ruangan. "Setahun lalu saya dipulangkan dengan diagnosis maag. Kata mereka cuma asam lambung. Saya percaya. Saya pulang. Saya hampir mati di lantai rumah saya sendiri, sambil Nayla menjerit minta tolong." Ia menempelkan tangan ke dadanya, di mana ada bekas tindakan jantung. "Kalau malam itu kalian diam—kalau kalian bilang ini terlalu mahal—saya sudah jadi satu nama lagi di buku kulit itu. Mati di luar. Tak terhitung."
Mata Alga panas.
"Kalian bertanya apakah ini sepadan." Bu Sulastri menggeleng. "Itu pertanyaan orang yang masih hidup, Dok. Orang-orang di buku itu tidak bisa bertanya lagi. Mereka tidak punya pilihan untuk menyerah. Kalian punya. Tapi mereka tidak." Ia meraih tangan Alga—tangan dokter yang gemetar—dan menggenggamnya erat. "Kami hidup karena kalian tidak diam. Jangan diam sekarang."
Nayla, di belakang ibunya, mengangguk. "Saya sudah hubungi sembilan keluarga lain, Dok," katanya. "Kemarin malam. Setelah dengar kos Dokter terbakar. Mereka tidak takut. Mereka makin marah. Mereka bilang: kalau orang sehebat dokter saja diburu, berarti yang mereka tutupi memang besar sekali."
Alga menatap genggaman tangan Bu Sulastri di tangannya. Tangan rakyat kecil yang selamat, menggenggam tangan dokter yang nyaris menyerah.
Sesuatu yang padam semalam, menyala lagi. Kecil. Tapi cukup.
"Renjana," kata Alga, suaranya berubah. "Kita pindahkan server malam ini. Tempat baru, yang cuma kita berlima yang tahu."
Renjana mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya dalam dua belas jam, ada sesuatu menyerupai senyum di sudut bibirnya. "Kukira kamu sudah pulang lewat pintu kaca itu."
"Hampir," aku Alga. "Tapi ada yang menahan tangan saya."