Server dipindah ke ruang penyimpanan obat di basement Harapan Kita—tempat terakhir yang akan dicurigai siapa pun. Anindita memasang kuncinya sendiri.
Malam itu, ketika yang lain tidur bergiliran, Renjana membuka kotak peninggalan Larasati lagi. Lengan kirinya masih digantung, jadi ia bekerja dengan satu tangan, menata isi kotak di atas meja: foto-foto lama, jam tangan, kartu nama, dan flashdisk hitam terkunci sandi yang sudah berbulan-bulan menolak dibuka.
Alga duduk di sebelahnya, kelelahan tapi tak bisa tidur.
"Larasati bukan tipe yang menaruh semua telur dalam satu keranjang," kata Renjana, lebih kepada dirinya sendiri. Jarinya menyusuri foto—Larasati muda, tersenyum di depan IGD, sebelum tempat itu jadi kuburan statistik. "Dia paling teliti yang pernah saya kenal. Kalau dia tahu dirinya diburu—dan dia tahu, beberapa minggu sebelum 'kecelakaan'—dia pasti menitipkan sesuatu di luar jangkauan mereka."
"Kita sudah periksa loker. Loker 13," kata Alga. "Cuma satu kasus lengkap dan nama kontak Kemenkes yang ternyata pensiun."
"Itu yang dia mau kita temukan. Umpan, atau cadangan kecil." Renjana mengangkat kartu nama dari kotak. "Tapi ini—" Ia membaliknya. Di belakangnya, tulisan tangan Larasati yang rapi: sebuah nama, *Notaris Hadiwijaya*, dan satu baris yang dulu mereka kira catatan administratif biasa. *Dibuka bila langit jatuh.*
Alga membeku. "Langit jatuh."
"Kami punya lelucon lama," kata Renjana pelan, dan untuk sesaat suaranya kehilangan kedinginannya. "Saat shift paling buruk, paling banyak korban, kami bilang 'langit jatuh malam ini'. Itu kode kami. Kode pribadi. Tidak ada orang lain yang tahu artinya."
"Kalau langit jatuh—kalau dia mati—"
"Maka ada yang harus dibuka." Renjana berdiri terlalu cepat, meringis menahan nyeri bahu. "Notaris Hadiwijaya. Kalau dia menitipkan dokumen di notaris dengan instruksi dibuka saat dia meninggal—"
Mereka melacak nama itu sampai pagi. Notaris Hadiwijaya ternyata pindah praktik ke kota lain dua tahun lalu—cukup jauh dari jangkauan Damar, cukup terlindung. Anindita yang menelepon, mengaku sebagai kerabat almarhumah dr. Larasati.
Suara di seberang tua dan hati-hati. "Saya menunggu telepon ini selama lebih dari setahun," kata Pak Hadiwijaya akhirnya, setelah Anindita membuktikan identitas dengan rincian yang hanya keluarga dan kolega dekat tahu. "Ibu dokter Larasati datang ke kantor saya. Menitipkan amplop tersegel. Pesannya tegas: dibuka hanya bila ia meninggal tidak wajar, dan hanya kepada orang yang menyebut tiga kata kunci."
Alga, mendengar lewat speaker, menahan napas.
"Apa tiga kata itu, Pak?" tanya Anindita.
Hening sebentar.
"Beliau bilang," kata notaris itu, "orang yang benar akan tahu. Beliau bilang itu nama tiga hal yang ia perjuangkan sampai mati."
Renjana menutup mata. Dan tanpa ragu, suaranya pecah saat ia mengucapkannya: "Pasien. Kebenaran. Larasati selalu bilang yang ketiga adalah—" ia menarik napas, "—keberanian."
Di seberang sana, suara kertas dibuka. Lalu, suara orang tua yang lega seolah baru meletakkan beban setahun dari pundaknya:
"Benar. Tiga kata itu benar." Jeda. "Amplop ini berisi salinan lengkap. Beliau bilang: 'kalau telepon ini datang, berarti mereka membunuh saya, dan berarti ada orang lain yang sudah berani. Berikan semuanya pada mereka.'"
Alga menatap Renjana. Berbulan-bulan mereka berjuang dengan bukti setengah, foto buram, buku kulit yang bisa disangkal. Dan selama ini, di sebuah kantor notaris di kota lain, tersimpan salinan utuh dan sah secara hukum—dititipkan oleh perempuan yang sudah mati, dengan instruksi untuk diberikan kepada siapa pun yang cukup berani melanjutkan.
Larasati sudah menyiapkan senjata ini sejak sebelum ia terbunuh. Ia tahu ia akan kalah. Tapi ia tidak mau perang ini ikut mati bersamanya.
"Kami akan jemput sendiri, Pak," kata Renjana, suaranya bergetar untuk pertama kalinya sepanjang yang pernah Alga dengar. "Hari ini juga."