Damar tampil tepat pukul 15.00, dan ia tampil seperti seniman.
Layar menampilkan ruangan rapat Bumi Sentosa, bersih dan terang, dengan poster di belakangnya: wajah Damar tersenyum, tangan terlipat, dan tulisan **Pelayanan dari Hati**. Ia mengenakan kemeja sederhana, bukan jas mahal—pilihan yang diperhitungkan. Rambut peraknya rapi. Wajahnya, seperti selalu, seperti kakek yang ramah.
"Saya berdiri di sini dengan hati hancur," katanya membuka, suaranya tenang dan penuh luka yang tampak tulus. "Bukan karena tuduhan terhadap saya. Tapi karena rumah sakit yang saya bangun tiga puluh tahun—rumah sakit yang melayani ratusan ribu rakyat kecil—diserang oleh fitnah."
Alga, menonton dari basement, merasa mual. Lelaki ini bagus. Terlalu bagus.
"Dua dokter muda," lanjut Damar, dan ia bahkan berhasil membuat suaranya terdengar sedih, bukan marah, "dengan masalah disiplin yang terdokumentasi. Satu dokter internsip yang menolak perintah atasan, satu konsulen dengan beban pribadi yang berat. Saya tidak menyalahkan mereka. Saya kasihan pada mereka. Tapi mereka mencuri rekam medis pasien—pelanggaran privasi yang serius—lalu memelintirnya jadi cerita horor untuk media yang haus sensasi."
Ia mengangkat selembar dokumen. "Inilah data kami yang sebenarnya. Angka kematian IGD kami salah satu terendah di provinsi. Bukan karena kami menyembunyikan—tapi karena kami bekerja keras. Apakah prestasi kini jadi bukti kejahatan?" Ia menatap kamera, langsung, hangat. "Kepada keluarga pasien yang kini ketakutan membaca berita itu: rumah sakit Anda aman. Pelayanan kami dari hati. Selalu."
Konferensi pers itu sempurna. Saat selesai, sebagian opini publik goyah. Komentar mulai terbelah. *Kasihan juga pak direkturnya.* *Jangan-jangan memang fitnah.* *Dokter internsip kan emang sering bandel.*
Sekar mematikan layar dengan tangan gemetar. "Dia membaliknya," katanya. "Dalam tujuh menit, dia membaliknya."
Hening menyelimuti basement. Bahkan Bayu tampak terguncang. "Kredibilitas," gumamnya. "Di pengadilan saya bisa menang. Tapi opini publik adalah perisai kalian. Kalau perisai itu retak sebelum sidang—mereka punya waktu menekan saksi, menyuap, mengulur. Sebagian saksi kalian bisa mundur kalau mereka pikir kalian akan kalah."
Alga menatap layar yang gelap. Wajah Damar masih terbayang—ramah, meyakinkan, tak tergoyahkan. Lelaki yang memandang nyawa sebagai angka, dan kini memandang kebenaran sebagai narasi yang bisa dibentuk ulang.
"Dia bilang angka kematian kami terendah," kata Alga pelan. Sesuatu mulai menyala di matanya. "Dia mengulanginya. Dua kali. Dia bangga padanya."
"Itu kebohongannya," kata Renjana.
"Bukan." Alga berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak kos terbakar, suaranya keras dan jernih. "Itu pengakuannya. Dia baru saja berdiri di depan jutaan orang dan membanggakan angka yang—menurut bukti kita—dipalsukan dengan memulangkan orang untuk mati di luar. Dia menjadikan angka itu pembelaannya. Berarti angka itu juga senjata kita. Karena kita bisa buktikan angka itu bohong."
Ia menatap Anindita. "Statistik. Anomali. Tampilkan grafik di sebelah grafik—angka resmi Damar versus tanggal kematian nyata dari catatan sipil yang Larasati lacak. Kasus berat naik, kematian tercatat anjlok, kematian nyata di luar melonjak. Tiga garis. Satu gambar. Yang bahkan orang awam bisa lihat tidak masuk akal."
"Dan Wirya," kata Bayu, mulai mengerti. "Damar bilang ini cuma dua dokter sakit hati. Tapi Wirya bukan dokter sakit hati. Wirya tangan kanannya. Wirya yang memegang pena. Begitu Wirya bicara di depan kamera—"
"Sidang," potong Renjana. "Bukan televisi. Damar menang di televisi karena tidak ada sumpah, tidak ada bukti yang diuji silang. Kita seret dia ke tempat di mana wajah ramah tidak berlaku—ke ruang sidang etik dan pidana. Di sana, bukti menang. Selalu."
Bayu mengangguk perlahan, sesuatu yang menyerupai harapan kembali ke wajahnya. "Auditor menahan keputusan. Itu artinya mereka ragu. Mereka tidak akan mengeluarkan akreditasi sampai ini jelas. Dana hibah tidak cair. Motif seluruh skema—mati."
"Maka kita tidak menang di televisi malam ini," kata Alga, menatap mereka semua. "Kita menang di tempat Damar paling takut. Di bawah sumpah. Dengan saksi-saksi yang dia kira sudah dibungkam."
Di luar jendela basement, malam turun lagi. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, badai bergerak ke arah mereka—bukan menjauh.