Dua proses berjalan beriringan seperti dua jalur infus ke satu nadi: Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, dan penyidikan pidana di bawah AKP Bayu dengan dukungan Tipikor.
Ruang sidang etik penuh. Di satu sisi, Alga dan Renjana—dokter internsip dan konsulen, satu muda satu lelah, keduanya tegak. Di sisi lain, deretan pengacara Yayasan dengan map tebal dan wajah yang terlatih untuk menghancurkan kesaksian. Damar duduk di belakang mereka, tenang, dengan wajah "Pelayanan dari Hati" yang sama.
Pengacara Yayasan menyerang Alga lebih dulu, seperti yang sudah Bayu peringatkan.
"Saudara dokter Alga," kata pengacara itu, suaranya halus seperti pisau yang baru diasah. "Anda dokter internsip. Hari pertama, Anda sudah menerima surat peringatan karena indisipliner. Benar?"
"Benar," jawab Alga tenang.
"Anda menolak perintah dokter senior. Anda menyalin rekam medis pasien tanpa izin. Anda menyusup ke ruang arsip terlarang tengah malam. Semua benar?"
"Benar," kata Alga lagi, dan ia merasakan tangan Renjana di bawah meja, isyarat: tenang, jangan terpancing. "Saya menolak memulangkan pasien yang akan mati kalau pulang. Saya menyalin bukti kejahatan. Saya masuk ke ruang tempat bukti itu disimpan. Saya tidak menyangkalnya. Saya bangga padanya."
"Bangga," ulang pengacara, berpaling ke majelis dengan senyum tipis. "Seorang dokter muda yang bangga melanggar aturan, mencuri data, menerobos. Majelis yang terhormat, inilah karakter saksi utama dalam tuduhan fantastis ini."
Alga merasakan ruangan goyah ke arah lawan. Lalu ia ingat—bukan kata yang akan memenangkan ini. Bukti.
"Boleh saya jawab?" kata Alga. Ketua majelis mengangguk. Alga berdiri. "Saya melanggar aturan rumah sakit, ya. Tapi saya tidak melanggar satu hal: sumpah saya. Sumpah dokter tidak bilang 'patuhi atasan'. Sumpah dokter bilang 'keselamatan pasien adalah hukum tertinggi'." Ia menatap majelis—dokter-dokter senior, orang-orang yang pernah mengucap sumpah yang sama. "Pada hari pertama saya, seorang pasien bernama Bu Sulastri dipulangkan dengan diagnosis maag. Dia mengalami STEMI inferior. Serangan jantung. Kalau saya patuh pada aturan dan diam, dia mati di lantai rumahnya. Saya tidak patuh. Dia hidup. Dia akan bersaksi di ruangan ini. Majelis yang terhormat boleh menilai sendiri: apakah ketidakpatuhan yang menyelamatkan nyawa itu pelanggaran etik—atau penegakannya?"
Hening. Salah satu anggota majelis, dokter tua dengan kacamata tebal, mencatat sesuatu.
Lalu Bayu masuk membawa berkas pidana, dan angin berbalik.
"Majelis yang terhormat," kata Bayu, "izinkan saya menyampaikan temuan forensik. Pada tanggal kejadian yang lalu, kendaraan dr. Renjana mengalami kegagalan rem. Laboratorium forensik kepolisian menyimpulkan: rem disabotase. Selang dilubangi dengan presisi, dirancang gagal pada kecepatan tinggi." Ia mengangkat dokumen. "Dan inilah yang penting. Pola sabotase ini—identik, sampai ke metodenya—dengan kecelakaan yang merenggut nyawa dr. Larasati Sekar Wening dua tahun lalu. Kecelakaan yang dulu ditutup sebagai 'kecelakaan tunggal akibat kelalaian pengemudi'."
Untuk pertama kalinya, ada gerakan kecil di wajah Damar. Sangat kecil. Hanya sekejap. Tapi Alga melihatnya.
"Saya telah mengajukan pembukaan kembali penyelidikan kematian dr. Larasati," lanjut Bayu, "sebagai dugaan pembunuhan berencana. Seorang mekanik—yang dulu memperbaiki kendaraan dr. Larasati sehari sebelum kecelakaan, dan yang dulu memilih bungkam karena diancam—telah memberikan keterangan resmi. Ia bersedia bersaksi."
Pengacara Yayasan berdiri, suaranya kehilangan kehalusannya. "Keberatan! Ini sidang etik kedokteran, bukan pengadilan pidana! Tuduhan pembunuhan tidak relevan—"
"Sangat relevan," potong Renjana, dan suaranya, yang biasanya datar, kini bergetar oleh sesuatu yang ditahan dua tahun. "Karena dr. Larasati dibunuh bukan karena alasan pribadi. Dia dibunuh karena dia menemukan apa yang sedang kami buktikan sekarang. Dia mati untuk bukti ini. Bukti yang dia titipkan—" ia menatap lurus ke arah Damar, "—pada notaris, untuk dibuka saat ia mati tidak wajar. Bukti yang sekarang ada di tangan majelis dan kepolisian. Lengkap. Sah. Tak terbantah."
Ruangan riuh. Ketua majelis mengetuk palu.
Pengacara Yayasan masih berdiri, tapi untuk pertama kalinya, mapnya yang tebal tampak tipis. Hukum mulai menjerat. Tapi di belakang mereka, Damar tetap tenang—karena dia tahu satu hal yang belum mereka mainkan: dia hanya direktur. Di atasnya, Yayasan. Di atasnya, Bu Halimah, yang namanya belum disebut sekali pun, yang berlindung di balik tembok kelembagaan yang lebih tinggi dari jangkauan satu sidang etik.
Belum.