Hari berikutnya, ruang sidang tak cukup menampung manusia. Keluarga korban datang—puluhan, lalu lebih dari seratus. Mereka berdiri di lorong, di luar pintu, memenuhi setiap sudut. Wajah-wajah yang selama bertahun-tahun menanggung "takdir", kini berkumpul di satu tempat, dengan satu kebenaran di tangan mereka.
Saksi pertama dibawa masuk dengan kursi roda.
Gunawan.
Lelaki kebersihan tua itu kurus, lebih kurus dari sebelumnya, kulitnya pucat oleh bulan-bulan koma. Tapi punggungnya, yang seumur hidup membungkuk oleh kelelahan, hari ini ditegakkan. Anindita mendorong kursinya. Selang oksigen menggantung tipis di hidungnya. Ia menolak tawaran untuk bersaksi tertulis saja.
"Saya mau bicara," katanya pada majelis, suaranya serak tapi jelas. "Saya sudah diam dua puluh tahun. Hari ini saya mau bicara dengan mulut saya sendiri."
Ia bercerita perlahan, berhenti untuk bernapas, tapi tak pernah berhenti untuk takut. Tentang ruang B2 di bawah tanah, ribuan map ungu. Tentang kartu akses yang ia berikan, lalu kartu kedua yang ia dipaksa menyerahkannya. Tentang dr. Larasati, yang dulu menyelamatkan nyawa anaknya tanpa meminta bayaran, di rumah sakit ini, ketika rumah sakit ini masih punya hati.
"Dokter Larasati pernah bilang pada saya," kata Gunawan, dan suaranya pecah, "'Pak Gun, kalau suatu hari saya hilang, jangan percaya kalau mereka bilang itu kecelakaan.'" Air mata mengalir di pipi keriputnya. "Dia tahu, Pak Hakim. Dia tahu mereka akan membunuhnya. Tapi dia tidak lari. Dia tetap mencari kebenaran. Dan saya—saya cuma tukang sapu yang ketakutan—saya berutang nyawa anak saya padanya. Hari ini saya bayar utang itu."
Ruang sidang sunyi total. Bahkan pengacara Yayasan tak bersuara.
Lalu Bu Sulastri dipanggil. Ia berjalan masuk dengan langkah hati-hati, Nayla menuntunnya. Di hadapan majelis, ia melakukan sesuatu yang tak diminta: ia membuka kancing atas bajunya cukup untuk menunjukkan bekas di dadanya—luka dari tindakan jantung yang menyelamatkannya di RS Harapan Kita, tindakan yang seharusnya ia terima di Bumi Sentosa sebelum mereka memulangkannya dengan diagnosis maag.
"Ini," katanya, menunjuk bekas itu, suaranya tenang dan kuat. "Inilah bukti yang ada di tubuh saya. Mereka bilang saya cuma sakit lambung. Mereka menyuruh saya pulang. Mati di rumah. Kalau dua dokter ini—" ia menunjuk Alga dan Renjana, "—tidak datang menjemput saya tengah malam, mempertaruhkan nyawa mereka sendiri, saya tidak akan berdiri di sini. Saya akan jadi satu nama lagi di buku itu. Mati di luar. Tidak terhitung."
Ia berbalik menatap Damar, untuk pertama kalinya, langsung.
"Anda bilang pelayanan dari hati," kata Bu Sulastri pelan. "Hati apa yang menyuruh orang sakit pulang untuk mati, supaya angka Anda bagus?"
Dan untuk pertama kalinya sepanjang seluruh persidangan—sepanjang seluruh cerita ini—wajah Damar retak.
Hanya sesaat. Rahang yang mengencang. Tangan yang mengepal di atas meja. Topeng kakek ramah yang selama tiga puluh tahun tak pernah lepas, terkelupas selama satu detik penuh, dan di baliknya tampak apa yang sebenarnya: ketakutan seorang lelaki yang baru sadar angka-angkanya akhirnya bersuara, dan suara itu menuntut.
Alga melihatnya. Renjana melihatnya. Seratus keluarga di ruangan itu melihatnya.
Ketua majelis mengetuk palu, menunda sidang. Saat orang-orang berdiri, ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada yang hanya menatap Damar dengan mata yang akhirnya tak lagi menunduk.
Di lorong, Renjana berdiri di sebelah Alga, lengannya yang dulu digantung kini bebas, jahitannya hampir sembuh.
"Larasati menggerakkan ini semua," kata Renjana pelan, menatap kerumunan keluarga korban. "Dari kuburnya, dia menggerakkan semua ini."
Alga menatap tangannya sendiri—tangan yang di hari pertamanya gemetar di pintu kaca IGD, hampir berbalik pulang. Kini tangan itu diam. Mantap.
"Belum selesai," kata Alga. "Damar cuma direktur. Di atasnya masih ada Yayasan. Halimah belum kita sentuh."
"Tidak," setuju Renjana. Tapi ada sesuatu di matanya yang belum pernah ada sebelumnya—bukan harapan kosong, tapi keyakinan yang sudah dibayar dengan darah, kebakaran, dan kesabaran dua tahun. "Tapi untuk pertama kalinya, Alga—mereka yang ketakutan. Bukan kita."
Di ruang sidang yang mulai kosong, kursi roda Gunawan didorong perlahan keluar, melewati barisan keluarga yang berdiri untuk menghormatinya. Lelaki tua yang memulai semuanya dengan satu kartu akses, lewat di antara orang-orang yang ia bantu bebaskan dari kebohongan.
Ia tersenyum lemah. Lalu, untuk alasan yang belum mereka tahu, ia menekan tangannya ke dada, di atas jantungnya.