Pagi itu langit di atas RS Bumi Sentosa kelabu seperti seragam besi. Alga berdiri di tepi area parkir, jaket lab masih ia kenakan, jantungnya berdegup bukan oleh takut—melainkan oleh sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: hampir lega.
Tiga mobil tanpa pelat khusus masuk melalui gerbang samping. AKP Bayu Saputra turun pertama, rompi penyidik di balik kemejanya, didampingi tim Tipikor dan dua perwira Propam dari luar wilayah—orang-orang yang tak terjangkau tangan Damar.
"Surat penangkapannya sah," kata Bayu pelan saat melewati Alga. "Sudah ditandatangani. Tidak ada yang bisa menahannya lagi."
Mereka menemukan Wirya di ruang dokter, jas putihnya bersih seperti biasa, pantofel mengilap. Tapi tangannya gemetar saat Bayu menyebut namanya. Wirya tak melawan. Ia sudah menjadi saksi; penangkapannya hanya formalitas perlindungan. Saat digiring, matanya bertemu mata Alga sepersekian detik—dan untuk pertama kalinya, di sana tak ada keangkuhan. Hanya seorang lelaki yang akhirnya kalah oleh dirinya sendiri.
Lalu mereka naik ke lantai direksi.
Pak Damar berdiri di balik mejanya, di belakangnya poster lama itu masih tergantung: wajah ramahnya, senyum kakek, tulisan "Pelayanan dari Hati". Ia tidak terkejut. Ia menuangkan teh, perlahan, seolah punya semua waktu di dunia.
"Dokter Mahendra," sapanya tenang. "Akhirnya."
Bayu membacakan pasal-pasalnya dengan suara datar: pembunuhan berencana atas dr. Larasati, percobaan pembunuhan, penggelapan dana hibah, pemalsuan dokumen medis sistematis. Setiap kata jatuh seperti batu ke air dalam.
Damar tersenyum tipis. "Kalian pikir ini menghentikan apa pun?" Ia memandang Alga. "Aku menyelamatkan rumah sakit ini. Ribuan pasien dirawat tiap tahun karena angka kami bagus, karena dana kami cair. Beberapa nyawa untuk ribuan nyawa. Itu bukan kejahatan, Nak. Itu aritmetika."
Alga mendekat, suaranya tak gemetar. "Bu Sulastri bukan angka. Pak Solihin bukan angka. Larasati bukan angka." Ia menelan ludah. "Hari pertama saya di sini, Pak, saya hampir berbalik pulang di pintu kaca itu. Sekarang saya senang tidak."
Damar membiarkan dirinya diborgol. Wajahnya tetap tenang—tapi Alga melihatnya: otot rahang yang berkedut, satu kali, mengkhianati keretakan di balik topeng.
Saat Damar dibawa keluar, koridor RS penuh. Perawat, dokter muda, petugas—mereka berdiri diam, menonton lelaki yang selama bertahun-tahun memerintah dengan senyum digiring melewati lantai yang ia kuasai. Sekar berdiri di antara mereka, air matanya jatuh tanpa suara. Renjana hanya menatap, wajah datarnya retak oleh sesuatu yang menyerupai kedamaian.
Tapi belum selesai.
Ponsel Bayu berdering. Ia mengangkat, mendengarkan, lalu wajahnya mengeras. "Yayasan," katanya pada Alga sambil menutup telepon. "Bu Halimah tahu. Sejak satu jam lalu mobilnya keluar dari rumah. Ada laporan truk dokumen dibawa keluar dari kantor Yayasan."
Alga merasa dingin menjalar di tengkuknya. "Dia menghapus jejak."
"Dana hibah itu mengalir ke rekening pribadinya," kata Renjana cepat. "Memo target mortalitas, MoU—semua di brankas kedua. Kalau dia bakar malam ini—"
"—maka Damar yang akan menanggung semuanya sendiri," Alga menyambung, "dan sistemnya tetap hidup. Kepala diganti, badannya jalan terus."
Bayu sudah bergerak menuju pintu. "Aku butuh bukti aliran dana itu sebelum dia hilang. Tanpa itu, Halimah lolos dengan tangan bersih."
Alga menatap Renjana. Tak ada kata. Hanya anggukan—anggukan yang sama seperti tengah malam di ruang B2 dulu, ketika mereka memutuskan tak akan diam.
"Flashdisk Larasati," bisik Alga. "Salinan memo brankas ada di sana. Kita masih punya satu kartu."
Di luar, sirene meraung. Damar telah jatuh. Tapi dalang sesungguhnya sedang melarikan diri ke dalam asap dokumen yang terbakar—dan malam belum berakhir.