Kantor Yayasan Bumi Sentosa berdiri di lantai delapan sebuah gedung kaca di pusat kota. Pukul sembilan malam, hampir seluruh lampu padam. Hampir.
Di lantai delapan, satu jendela masih menyala.
Alga dan Renjana keluar dari lift bersama Bayu dan dua penyidik. Bau asap menyengat sebelum pintu terbuka—bau kertas terbakar, tajam dan getir. Di ruang utama, sebuah pemusnah dokumen berderak tanpa henti, dan di sampingnya, sebuah tong logam memuntahkan api kecil yang melahap lembar demi lembar.
Bu Halimah berdiri di tengahnya. Tidak panik. Mengenakan blazer rapi, rambut tersanggul, ia memasukkan setumpuk berkas ke dalam api dengan ketenangan seorang yang membakar surat cinta lama.
"Berhenti," kata Bayu. "Yayasan Bumi Sentosa, Anda ditahan."
Halimah tak menoleh. "Atas dasar apa?" Suaranya halus, terlatih. "Saya hanya membereskan arsip kedaluwarsa. Tidak ada yang ilegal soal merapikan kantor."
Alga melangkah maju, matanya terpaku pada tong api. Setiap lembar yang terbakar adalah nama. Adalah keluarga yang menangis. Adalah Larasati.
"MoU dana hibah lima ratus miliar," kata Alga. "Memo target mortalitas dengan tanda tangan Anda. Aliran dana ke rekening pribadi Anda di tiga bank. Itu yang Anda bakar."
Untuk pertama kalinya, Halimah menoleh. Matanya menyapu Alga dari ujung kepala ke kaki, dingin dan menilai, seolah ia hanya barang murah. "Dokter internsip," katanya pelan, hampir geli. "Kau tahu berapa banyak orang lebih pintar darimu yang sudah kucoba dan gagal? Larasati pintar. Dia juga keras kepala. Lihat ke mana itu membawanya."
Renjana melangkah ke depan, wajahnya pucat oleh amarah yang ditahan bertahun-tahun. "Sebut namanya sekali lagi."
Halimah hanya tersenyum dan memasukkan lembar berikutnya ke api.
Tapi Bayu sudah mengangkat tabletnya. "Anda terlambat, Bu." Layar menyala—dokumen demi dokumen tergulir. "Setiap memo yang Anda bakar, kami sudah punya salinannya. Bukan dari brankas Anda. Dari arsip yang dititipkan dr. Larasati pada notaris di luar kota dua tahun lalu, dibuka atas perintahnya kalau ia mati." Ia memandang Halimah tepat di mata. "Dia tahu Anda akan membunuhnya. Dia menyiapkan ini sebelum Anda sempat."
Tangan Halimah berhenti di udara, satu lembar tergantung di antara jari-jarinya.
"Aliran dana ke rekening Anda," lanjut Bayu, "tanggal, nominal, nomor referensi—semua cocok dengan catatan flashdisk. Kami sudah serahkan ke PPATK pagi tadi. Rekening Anda dibekukan dua jam lalu."
Lembar itu jatuh dari tangan Halimah, melayang ke lantai, tak jadi terbakar. Alga membungkuk dan memungutnya. Tinta belum hangus. Sebuah memo: "Ambang mortalitas IGD harus di bawah 1,2% sebelum audit. Lakukan apa pun yang perlu." Dan di bawahnya, tanda tangan itu—jelas, percaya diri, tak terbantahkan.
Halimah menatap kertas di tangan Alga. Topeng ketenangannya, yang lebih tebal bahkan dari milik Damar, akhirnya retak. Bukan menjadi takut. Menjadi marah.
"Kalian menghancurkan rumah sakit terbaik di provinsi ini," desisnya.
"Tidak," kata Alga, suaranya tenang sekarang, mantap seperti tangannya yang dulu gemetar. "Anda yang menghancurkannya. Kami cuma menyalakan lampu."
Penyidik memborgol Halimah. Saat ia digiring keluar, Renjana memadamkan api di tong logam dengan jas labnya sendiri, menyelamatkan lembar-lembar yang masih bisa dibaca—nama-nama yang nyaris hilang untuk kedua kalinya.
Alga berdiri di tengah ruangan yang berbau abu, memegang memo bertanda tangan itu. Dalang sesungguhnya telah jatuh.
Tapi ketika ponselnya bergetar—pesan dari Anindita di RS Harapan Kita—dadanya mencelos. Hanya tiga kata. "Gunawan drop. Cepat."