Mereka tiba di RS Harapan Kita pukul sebelas malam, masih berbau asap, masih membawa memo bertanda tangan di tas Alga. Di koridor, dr. Anindita menyongsong mereka, wajahnya sudah memberitahu segalanya sebelum mulutnya bicara.
"Tekanan darahnya jatuh tiba-tiba," kata Anindita cepat sambil berjalan. "Kami pikir aritmia. EKG menunjukkan iskemia luas. Jantungnya, Ren—luka lama dari koma kemarin, ototnya tak pernah benar-benar pulih."
Pintu kamar terbuka. Gunawan terbaring di sana, kurus, tua, dadanya naik-turun susah payah. Monitor di sampingnya berdenting tak beraturan. Lelaki yang dua puluh tahun menyapu lantai rumah sakit, yang menyelipkan kartu akses ke ruang B2, yang memulai semuanya.
Matanya terbuka saat melihat Alga. Bibirnya bergerak. Alga membungkuk mendekat.
"Sudah... sudah selesai?" bisik Gunawan.
"Sudah, Pak," kata Alga, suaranya nyaris pecah. "Damar ditangkap. Yayasan juga. Bu Halimah. Semua. Kesaksian Bapak kemarin—itu yang menjatuhkan mereka. Bapak yang menjatuhkan mereka."
Sesuatu seperti senyum melintas di wajah keriput itu. "Bu Dokter Larasati..." katanya. "Bilang ke dia... kalau ketemu... saya nggak diam lagi."
"Bapak akan bilang sendiri—"
Monitor menjerit. Garis itu—garis datar yang Alga benci sepanjang hidupnya—menyebar di layar.
"Kode biru!" teriak Renjana, dan tahun-tahun pelatihan mengambil alih tubuh mereka semua sekaligus.
Alga sudah di atas dada Gunawan, tumit telapaknya menekan tulang dada, lengan lurus, beban tubuh turun. Satu. Dua. Tiga. Lagu dalam kepalanya, ritme seratus per menit yang sudah ribuan kali ia hitung. Renjana memompa ambu bag. Anindita menyiapkan epinefrin. Sekar—yang menyusul tadi—membaca dosis dengan suara bergetar.
"Epi satu miligram, masuk!"
Alga menekan. Iganya sendiri seakan ikut sakit. Keringat menetes ke seprai. "Ayo, Pak," bisiknya di antara kompresi. "Ayo. Bapak yang mulai ini. Bapak harus lihat akhirnya."
Dua menit. Cek ritme. Asistol. Lanjut.
Empat menit. Epi kedua. Lanjut. Tangan Alga mati rasa tapi tak berhenti. Lima menit. Lima menit—selisih hidup dan mati, kalimat yang Renjana ajarkan di hari pertama. Tapi malam ini lima menit berlalu, lalu sepuluh, dan garis itu tetap datar.
"Alga." Suara Renjana, pelan. "Alga."
"Belum." Ia menekan lebih keras. "Belum cukup—"
"Alga." Tangan Renjana di bahunya. Lembut, tapi tegas. "Sudah dua puluh menit. Jantungnya sudah habis. Kita... sudah kalah."
Alga berhenti. Tangannya menggantung di udara, gemetar—gemetar seperti hari pertama, gemetar seperti seorang anak yang baru paham bahwa tidak semua bisa diselamatkan.
Anindita mematikan alarm. Hening menelan ruangan.
Renjana melihat jam dinding, suaranya nyaris tak terdengar. "Waktu kematian, dua puluh tiga lewat empat puluh satu."
Alga jatuh berlutut di sisi ranjang. Untuk waktu yang lama tak ada yang bergerak. Lalu ia menggenggam tangan tua Gunawan yang masih hangat, dan menundukkan kepala.
"Dia tidak mati dibuang," kata Renjana, dan untuk pertama kalinya Alga melihat air mata di wajah datar mentornya. "Dengar aku. Dia tidak pulang untuk mati di luar tembok seperti yang mereka rencanakan. Dia mati di sini, di ranjang, dengan namanya bersih, sebagai saksi yang menumbangkan mereka." Renjana menutup mata Gunawan dengan lembut. "Dia menang, Alga. Dia menang."
Di luar jendela, kota terus berdenyut, tak tahu bahwa seorang penyapu lantai baru saja menyelesaikan pekerjaan terbesar dalam hidupnya.