Pintu kaca IGD RS Bumi Sentosa membuka dengan desis yang sama seperti setahun lalu. Tapi segala yang ada di baliknya telah berubah.
Alga melangkah masuk pukul 06.30, jaket lab di lengannya. Di dinding lobi, poster lama "Pelayanan dari Hati" sudah turun. Di tempatnya, papan kaca bening menampilkan satu angka yang diperbarui tiap hari: angka mortalitas IGD bulan ini, diverifikasi auditor independen, dapat diakses publik. Tak ada lagi yang disembunyikan. Tak ada lagi yang dipoles.
"Selamat pagi, Dok!" Sekar menyapanya dari meja triase, kini dengan tanda pengenal baru: Kepala Perawat IGD. Promosi yang sudah lama ia layak terima. Di belakangnya, papan jadwal menampilkan protokol baru yang ditempel besar-besar di dinding: SETIAP DIAGNOSIS DIVERIFIKASI DUA DOKTER. SETIAP PEMULANGAN PASIEN BERAT DITINJAU KOMITE. PELAPOR DILINDUNGI HUKUM.
Di ruang dokter, Alga berpapasan dengan dr. Hartono, yang kini mengenakan tanda pengawas reformasi. Lelaki itu—yang dulu menandatangani diagnosis palsu karena takut—kini memimpin audit yang memastikan tak ada lagi diagnosis palsu yang lolos. Penebusan, Alga belajar, bukan dihapuskannya kesalahan. Penebusan adalah berdiri di tempat yang sama dan memilih berbeda.
"Sistemnya jalan?" tanya Alga.
Hartono mengangguk, menyerahkan map. "Bulan ini tiga pasien berat yang dulu pasti 'distempel'—STEMI, stroke besar, sepsis. Ketiganya dirawat penuh. Dua selamat. Satu meninggal." Ia menatap Alga. "Tapi yang meninggal itu—catatannya jujur. Penyebabnya jujur. Keluarganya tahu persis apa yang terjadi dan apa yang kami coba. Tidak ada yang disembunyikan. Itu bedanya."
Alga membaca catatan itu. Dulu, "lima menit" adalah selisih yang Damar gunakan untuk memastikan pasien mati di luar tembok, di luar statistik. Sekarang, di papan triase baru, ada protokol respons: target lima menit untuk EKG pertama pada nyeri dada. Lima menit yang sama. Dipakai untuk menyelamatkan, bukan menyembunyikan.
Di IGD, pagi mulai sibuk. Ambulans pertama masuk—kecelakaan motor, remaja, cedera kepala. Alga bergerak, tangannya mantap, memimpin tim dengan tenang. Sekar membaca tanda vital, perawat junior menyiapkan jalur infus, dr. Hartono memantau dari belakang tanpa campur tangan. Mesin yang dulu dibangun untuk membuang pasien, kini bekerja untuk merawatnya.
Saat pasien stabil dan dibawa ke CT-scan, Alga berdiri sejenak di tengah IGD, memandang sekeliling. Monitor berdenting teratur. Perawat bergerak cekatan. Tak ada bau busuk rahasia di udara—hanya antiseptik dan kerja keras yang jujur.
Renjana muncul di sisinya, secangkir kopi di tangan, menyodorkan satu untuk Alga. "Aneh ya," kata Renjana, memandang ruangan yang sama tempat ia selama bertahun-tahun menjadi penjaga gerbang yang sepi dan ketakutan.
"Apanya?"
"Dulu aku menyelamatkan pasien stempel ungu sendirian, diam-diam, takut ketahuan. Tiap satu pasien rasanya seperti mencuri." Renjana menyeruput kopinya. "Sekarang aku tidak perlu mencuri. Menyelamatkan pasien adalah tugasnya. Itu yang seharusnya selalu begitu." Ia memandang Alga. "Butuh seorang dokter internsip yang terlalu jujur untuk mengingatkan kita."
Alga tersenyum. Di luar pintu kaca, langit pagi mulai terang. Sebuah ambulans lain mendekat, sirenenya meninggi.
Ia meletakkan kopi, mengencangkan jaket lab, dan bergerak menuju pintu. Tangan yang setahun lalu gemetar di ambang itu kini tak ragu sama sekali.