Perang dengan Garda mereda jadi gencatan sunyi; modul prediksi harga untuk timur akhirnya rilis; tim makin solid setelah Reza memilih tinggal. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ada satu malam yang tidak menuntut apa-apa dari Arman. Dan entah bagaimana, kakinya membawanya ke tempat yang sama seperti selalu.
Trotoar depan Kafe Tanduk.
Ia tidak merencanakannya. Ia hanya butuh udara setelah seharian rapat, dan ketika sadar, ia sudah di sana, di bawah lampu jalan kuning yang sama. Lalu ponselnya bergetar—pesan dari Nadia. "Kamu di mana?" Ia mengetik balasan, dan tak lama, sosok berjaket denim itu muncul dari ujung jalan, membawa dua bungkus nasi kucing dan dua es teh, seolah mereka sudah berjanji tanpa kata.
"Aku nebak kamu di sini," kata Nadia, duduk di sampingnya di trotoar. "Tiap kamu capek, kamu selalu balik ke tempat ini."
"Kamu juga dateng," balas Arman.
"Aku juga capek."
Mereka makan dalam diam yang nyaman, diam yang sudah lama tidak mereka rasakan sejak pertengkaran soal Garda. Lampu jalan menyiram keduanya dengan cahaya hangat yang sama seperti malam bertahun-tahun lalu, malam ketika kalimat Arman terpotong oleh undangan raksasa.
"Inget malam itu?" tanya Nadia tiba-tiba, seolah membaca pikirannya. "Di sini juga. Kamu mau ngomong sesuatu, terus hape kamu bunyi. Garda. Eh, bukan Garda. Yang dulu—undangan dari raksasa pertama."
Arman tersenyum, jantungnya mulai berdetak dengan cara yang ia kenal. "Inget."
"Kamu nggak pernah nyelesain kalimatnya."
Hening turun. Es teh berkeringat di tangan mereka. Di kejauhan, suara motor melintas, lalu sunyi lagi. Dan Arman menyadari, inilah momen yang sudah bertahun-tahun ia hindari—bukan karena ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan, tapi justru karena ia tahu persis.
"Nad," katanya pelan. "Kalau aku selesain kalimat itu sekarang, kamu nggak takut semuanya berubah?"
Nadia tidak menjawab langsung. Ia menatap jalan kosong di depan mereka. "Itu yang aku takutin," akunya akhirnya. "Bukan kalimatnya. Tapi yang habis itu. Kita ini partner, Man. Kita bangun semua ini bareng. Kalau kita... terus ada apa-apa, terus nggak jalan, kita nggak cuma kehilangan satu sama lain. Kita kehilangan Stok Pintar. Kehilangan Reza, Sinta. Kehilangan semua yang kita perjuangin." Ia menoleh, matanya berkaca. "Itu taruhan yang gede banget buat satu kalimat."
Arman menelan. Ia tahu Nadia benar. Itulah persis ketakutan yang membuatnya menelan kalimat itu berkali-kali selama bertahun-tahun—di ruko, di pasar, di malam-malam lelah ketika Nadia menyandarkan kepala ke bahunya. Ketakutan bahwa mengakui perasaan akan merusak satu-satunya hal yang membuat semua ini berdiri: kemitraan mereka.
"Jadi kita diemin aja terus?" tanya Arman, suaranya hampir berbisik. "Sampai kapan, Nad? Kita udah bertahun-tahun. Tiap kali aku mau ngomong, ada yang motong—Pak Wira, StokJaya, Garda, Bayu. Selalu ada alasan buat nunda. Dan aku capek nunda."
Nadia menutup matanya sejenak. "Aku juga capek, Man. Tapi aku lebih takut nyesel."
"Nyesel ngomong, atau nyesel nggak ngomong?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, lebih berat daripada semua tawaran miliaran yang pernah mereka tolak. Untuk sesaat, tangan Arman bergerak, hampir meraih tangan Nadia yang menggenggam es teh. Lalu ponsel Nadia bergetar di pangkuannya.
Keduanya membeku. Lalu tertawa—tawa getir, tawa orang yang nasibnya seperti terus dipermainkan oleh dering di saat yang paling salah.
"Jangan diangkat," kata Arman cepat.
Tapi Nadia sudah melirik layar, dan senyumnya memudar. "Ini Bu Linda. Malem-malem gini." Ia menatap Arman, ada kecemasan baru di matanya. "Bu Linda nggak pernah telpon malem kecuali ada yang serius."
Arman menghela napas, dan untuk yang kesekian kali dalam hidupnya, kalimat yang hampir terucap kembali tenggelam, tertunda oleh sesuatu yang lebih besar dan lebih mendesak. Nadia mengangkat telepon.
"Halo, Bu... iya... apa?" Wajah Nadia berubah. Ia menegakkan badan, dan tangannya yang tadi hampir Arman raih kini mencengkeram ponsel erat-erat. "Pak Wira? Beli saham siapa?"
Arman merasakan tengkuknya dingin. Di trotoar yang sama, di bawah lampu yang sama, di tengah kalimat cinta yang lagi-lagi terpotong, satu nama dari masa lalu kembali muncul. Pak Damar pernah memperingatkannya: hati-hati di belakang kalian, bukan di depan. Ada pemain lama yang mengumpulkan kekuatan diam-diam.
Hantu itu, ternyata, sudah selesai mengumpulkan.
Nadia menurunkan ponselnya, wajahnya pucat di bawah cahaya kuning. "Man," katanya pelan, "kayaknya malam tenang kita baru aja habis."