Pagi itu Arman datang ke ruko paling awal, seperti biasa, tapi kepalanya tidak di tempat. Ia menyalakan komputer, menatap layar, lalu menyadari kursornya berkedip di dokumen kosong sudah lima menit penuh. Bukan kode yang berputar di kepalanya. Melainkan kalimat yang akhirnya, semalam, ia ucapkan di trotoar depan Kafe Tanduk.
"Aku suka kamu, Nad. Udah lama. Dan aku capek pura-pura nggak."
Nadia tidak langsung menjawab waktu itu. Ia menatap es teh di tangannya seperti benda itu tiba-tiba paling menarik di dunia. Lalu ia berkata, pelan, "Aku tahu. Aku juga." Dan tidak ada pelukan, tidak ada ciuman seperti di film. Hanya dua orang yang duduk berdampingan di trotoar, terlalu lelah dan terlalu takut untuk merusak satu-satunya hal yang mereka punya selain perasaan itu: perusahaan yang mereka bangun dari nol.
Pintu ruko terbuka. Nadia masuk, rambut diikat asal seperti hari pertama mereka bertemu, jaket denim yang sudah pudar. Mata mereka bertemu, lalu sama-sama buru-buru menunduk. Reza yang sedang menyeruput kopi di pojok mengangkat alis, merasakan ada yang aneh, tapi memilih diam dan kembali ke layarnya.
Sepanjang pagi mereka bekerja seperti biasa, tapi tidak biasa. Setiap kali tangan mereka hampir bersentuhan saat mengambil dokumen yang sama, keduanya menarik diri. Setiap kali Nadia memanggil "Man", suaranya satu nada lebih lembut, dan Arman merasa telinganya panas.
Saat makan siang, mereka akhirnya bicara berdua di gang sempit belakang ruko, di antara tumpukan dus bekas dan jemuran tetangga.
"Kita harus ngomongin ini," kata Nadia, menyilangkan tangan. "Sebelum jadi kacau."
"Aku tahu." Arman bersandar ke tembok. "Aku nggak mau ini ngerusak Stok Pintar, Nad. Atau ngerusak tim. Bayangin kalau kita berantem terus gara-gara hubungan pribadi, terus Reza sama Sinta bingung harus ikut siapa."
"Persis yang aku takutin." Nadia menghela napas. "Kita berdua punya hak veto satu sama lain di perusahaan. Keputusan dibagi dua, inget? Gimana kalau suatu hari kita beda pendapat soal bisnis, terus salah satu dari kita ngalah cuma karena... ya, karena ini." Ia menunjuk ruang di antara mereka. "Itu bahaya. Buat perusahaan, buat pedagang yang gantungin hidup ke kita."
Arman terdiam. Ia tahu Nadia benar, dan justru karena perempuan itu memikirkan perusahaan lebih dulu daripada perasaannya sendiri, ia makin yakin pilihannya tidak salah.
"Jadi gimana?" tanyanya. "Kita pura-pura nggak ada apa-apa?"
"Nggak." Nadia menggeleng. "Aku capek pura-pura, sama kayak kamu. Tapi kita harus bikin garis yang jelas. Di kantor, kita co-founder. Profesional. Keputusan bisnis tetap berdasar data dan pedagang, bukan perasaan. Kalau kita beda pendapat, kita debat kayak biasa, nggak ada yang ngalah cuma buat nyenengin yang lain." Ia menatap Arman lurus. "Di luar kantor... ya, kita lihat aja. Pelan-pelan. Aku nggak mau buru-buru terus jatuh, Man. Aku udah pernah lihat tim bubar gara-gara founder-nya pacaran terus putus. Aku nggak mau Stok Pintar mati gara-gara hati kita."
Garis itu kabur, dan keduanya tahu. Tidak ada garis yang benar-benar memisahkan urusan kantor dari urusan hati ketika dua orang menghabiskan enam belas jam sehari bersama, makan nasi kucing yang sama, dan menanggung mimpi yang sama. Tapi mereka sepakat mencoba.
"Deal?" Nadia mengulurkan tangan, seperti hari pertama di Kafe Tanduk.
Arman menatap tangan itu, lalu tertawa kecil. "Kita selalu mulai semuanya pakai jabat tangan, ya."
"Itu yang bikin kita waras." Nadia tersenyum.
Arman menjabat tangannya, dan kali ini ia tidak buru-buru melepas. Hanya sedetik lebih lama dari yang seharusnya, tapi cukup untuk membuat keduanya menunduk lagi, malu seperti anak SMA.
Sore harinya, Sinta datang dari lapangan dengan kabar dari komunitas pedagang. Reza menemukan satu bug kecil dan langsung melapor, tanpa rasa takut, tanpa rahasia — kebiasaan yang Arman bangun susah payah setelah luka Bayu. Semuanya berjalan seperti biasa. Tim tidak tahu apa-apa, dan untuk sementara itu baik.
Malamnya, saat semua sudah pulang, Arman mengunci ruko sendirian. Ia berhenti sejenak di depan papan tulis tempat mereka mencoret-coret rencana, tempat tulisan "milik pedagang selamanya" masih tertera di sudut, setengah terhapus. Ia mengeluarkan ponsel, ragu sebentar, lalu mengetik pesan ke Nadia.
"Udah sampai rumah?"
Balasan datang cepat. "Belum. Masih di angkot. Kenapa?"
Arman menatap layar lama. Lalu ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya cuma satu kalimat. "Nggak apa-apa. Hati-hati di jalan."
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Lalu: "Kamu juga. Dan Man — makasih udah jujur kemarin. Aku tahu itu nggak gampang buat kamu."
Arman tersenyum sendirian di ruko gelap. Ia mematikan lampu, mengunci pintu, dan berjalan pulang dengan perasaan yang asing — ringan dan berat sekaligus. Ia tidak tahu garis yang mereka tarik hari ini akan bertahan berapa lama. Tapi untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasa punya alasan lain selain warung kecil untuk bangun tiap pagi. Dan itu, pikirnya, juga sesuatu yang patut dijaga.