Kabar itu datang lewat Pak Haji, dari semua orang.
Suatu sore, pria tua itu datang ke ruko membawa pisang goreng dalam kantong kertas yang sudah berminyak, kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan. Tapi kali ini wajahnya tidak cerah seperti biasa.
"Le," katanya, duduk di kursi plastik di depan meja Arman, "Bapak dengar dari temen pasar. Yang punya StokJaya itu — yang gratisan dulu — katanya udah dijual. Habis-habisan. Pak Wira lepas semua sahamnya."
Arman menegakkan badan. Nadia, yang sedang menata layar di meja sebelah, ikut menoleh.
"Dijual ke siapa, Pak?" tanya Arman.
Pak Haji menggeleng. "Bapak nggak tahu. Cuma denger StokJaya sekarang pemiliknya orang lain. Tapi yang bikin Bapak nggak enak, Le —" ia menurunkan suara, seolah dinding ruko punya telinga, "— kata orang, Pak Wira itu nggak bener-bener pergi. Dia jual StokJaya karena udah jadi bangkai. Tapi uangnya dia pakai buat beli yang lain. Beli di tempat-tempat yang nggak keliatan."
Setelah Pak Haji pulang, Arman dan Nadia duduk lama di meja yang sama, menatap kantong pisang goreng yang belum tersentuh.
"Aku nggak suka ini," kata Nadia. "Pak Wira lepas StokJaya, oke, itu masuk akal — perusahaan itu udah sekarat. Tapi orang kayak dia nggak bakar uang tanpa rencana. Kalau dia jual yang gagal, berarti dia lagi nyiapin yang baru."
Arman membuka laptop dan mulai mencari. Berita bisnis, pengumuman perusahaan, apa pun yang menyebut nama Pak Wira atau perusahaan modal venturanya. Sebagian besar hanya kabar lama — penarikan dukungan dari StokJaya, beberapa proyek properti, satu wawancara basa-basi di mana Pak Wira bicara soal "masa depan ekonomi digital Indonesia" dengan senyum yang Arman kenal betul. Senyum yang dulu membungkus kontrak halaman tujuh.
Tapi satu hal menarik perhatiannya. Dalam wawancara itu, Pak Wira tidak sekali pun menyebut StokJaya. Seolah perusahaan yang ia banggakan dulu tidak pernah ada. Orang seperti Pak Wira tidak menyesali kegagalan; ia menguburnya dan berjalan terus, lebih licin, lebih hati-hati.
"Dia belajar," gumam Arman. "Dulu dia serang kita terang-terangan. Beli Bayu, bikin StokJaya, gugat kita. Semua keliatan. Dan semua gagal." Ia mengetukkan jari ke meja. "Kali ini dia bakal main beda. Dari bawah tanah."
"Pertanyaannya, dari mana?" Nadia menyilangkan tangan. "Produk? Dia udah coba, kalah. Hukum? Udah coba, gugatannya runtuh gara-gara kesaksian Bayu. Apa lagi yang tersisa?"
Arman menatap papan tulis di dinding, ke tulisan "milik pedagang selamanya" yang setengah terhapus. Lalu matanya bergeser ke selembar kertas yang ditempel di sebelahnya — struktur kepemilikan perusahaan, cap table yang mereka susun rapi setelah dana investor sosial masuk. Siapa memegang berapa persen. Arman, Nadia, Bu Linda mewakili investor sosial, sedikit untuk Reza dan Sinta sebagai bagian dari tim awal, dan — ia menelan ludah — sisa kecil yang dulu milik Bayu, yang belum sepenuhnya beres.
"Nad," katanya pelan. "Dulu Pak Wira nggak bisa beli perusahaan kita karena kita tolak. Terus dia nggak bisa hancurin lewat produk karena kita lari ke lapangan yang dia nggak mau masuk. Terus dia nggak bisa menang di pengadilan karena Bayu jujur." Ia menatap cap table itu. "Tapi ada satu cara yang belum pernah dia coba. Kalau dia nggak bisa ngalahin kita dari luar... dia bisa coba masuk dari dalam. Lewat saham."
Nadia mengikuti arah tatapannya, dan wajahnya memucat.
"Tapi sahamnya kita pegang sendiri," katanya. "Sama Bu Linda. Bu Linda nggak akan jual ke Pak Wira. Dia investor sosial, dia justru milih kita karena kita nolak Pak Wira."
"Bu Linda nggak akan jual," Arman setuju. "Tapi investor sosial itu lembaga, Nad. Bukan satu orang. Ada banyak orang di belakang Bu Linda yang naro uang. Dan orang naro uang, suatu hari, mau ambil uangnya balik." Ia menutup laptop pelan. "Pak Wira nggak perlu beli dari kita. Dia cukup beli dari orang yang punya saham di tempat yang naro uang ke kita. Lewat pintu belakang. Lewat pintu yang kita nggak jaga."
Ruko itu hening. Di luar, suara klakson angkot dan teriakan pedagang kaki lima terus berjalan seperti biasa, dunia yang tidak tahu bahwa di sebuah ruko sempit, dua orang baru saja menyadari arah serangan berikutnya.
"Kita harus ngomong sama Bu Linda," kata Nadia akhirnya. "Sekarang."
Arman sudah meraih ponselnya. Tapi sebelum ia sempat menelepon, layar menyala lebih dulu. Bu Linda. Seolah perempuan itu membaca pikiran mereka dari jauh.
Arman mengangkat. "Bu Linda."
Suara di seberang tenang, tapi ada ketegangan di baliknya yang Arman kenali. "Arman. Kamu sama Nadia ada waktu sekarang? Ada yang harus kita bicarakan. Soal saham. Ada pihak yang menawar — dan saya nggak suka caranya."