Bu Linda datang ke ruko malam itu juga, tidak mau bicara lewat telepon. Ia perempuan paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan cara bicara yang tenang tapi tegas, tipe orang yang sudah lama berurusan dengan uang besar tanpa kehilangan hati nuraninya. Ia duduk di kursi plastik yang sama tempat Pak Haji duduk sore tadi, menolak kopi sachet yang ditawarkan Sinta, dan langsung ke inti.
"Tiga hari lalu," katanya, "ada perusahaan investasi yang menghubungi lembaga kami. Mereka mau membeli sebagian besar porsi dana yang kami tanam di beberapa startup, termasuk Stok Pintar. Mereka tawar mahal. Jauh di atas harga wajar."
"Siapa?" tanya Arman.
Bu Linda mengeluarkan map tipis dari tasnya dan menggeser selembar dokumen ke meja. "Itu masalahnya. Namanya perusahaan baru. Bersih di atas kertas. Tapi saya minta tim saya menelusuri, dan di balik perusahaan itu ada perusahaan lain, dan di balik itu ada perusahaan lain lagi. Berlapis-lapis." Ia menatap Arman lewat kacamatanya. "Saya belum bisa buktikan. Tapi saya sudah cukup lama di dunia ini untuk tahu, orang yang menyembunyikan diri di balik tiga lapis perusahaan biasanya punya alasan yang nggak baik."
Nadia mengambil dokumen itu, membacanya, lalu mendorongnya ke Arman. Nama-nama perusahaan yang asing, alamat kantor virtual, susunan direksi yang terdengar seperti nama-nama pinjaman.
"Pak Wira," kata Arman pelan, tanpa ragu.
Bu Linda tidak langsung membenarkan. "Saya nggak bisa nuduh tanpa bukti, Arman. Tapi pola ini — beli dari pintu belakang, sembunyi di balik perusahaan boneka, bayar mahal buat sesuatu yang sebenarnya nggak terlalu menguntungkan secara finansial — ini bukan pola investor yang cari untung. Ini pola orang yang cari kendali. Atau dendam."
Sinta, yang sejak tadi berdiri di belakang sambil mendengarkan, akhirnya bersuara. "Maaf, Bu, aku junior soal ginian. Tapi kalau mereka beli saham dari lembaga Bu Linda, itu artinya apa buat kita? Mereka jadi bos kita?"
Bu Linda menoleh, dan ekspresinya melembut sedikit pada gadis muda itu. "Pertanyaan bagus. Begini. Lembaga kami menanam dana di Stok Pintar dengan kontrak yang bersih — nggak ada veto, nggak ada jebakan. Itu janji saya ke Arman dan Nadia waktu kita teken dulu. Tapi kalau orang lain membeli posisi kami di lembaga, mereka secara nggak langsung jadi pemilik sebagian kecil hak kami di sini. Mereka belum bisa nyetir perusahaan dari situ. Tapi mereka dapat satu kaki di pintu. Mereka bisa lihat laporan keuangan kalian. Mereka bisa hadir di rapat tertentu. Dan pelan-pelan, mereka bisa cari celah buat masuk lebih dalam."
"Satu kaki di pintu," ulang Arman. Kalimat itu menghantamnya. Dulu Pak Wira menawarkan satu miliar untuk empat puluh persen plus veto — pintu lebar yang mereka tolak. Sekarang ia mencoba menyelipkan satu jari lewat celah pintu, perlahan, sabar, dari arah yang tidak mereka jaga.
"Apa yang Bu Linda lakuin?" tanya Nadia.
"Saya tolak tawarannya," kata Bu Linda tegas. "Atas nama lembaga, saya tolak. Tapi —" ia berhenti, dan untuk pertama kalinya wajahnya menunjukkan kekhawatiran sungguhan, "— saya nggak sendiri di lembaga itu, Nadia. Ada dewan. Ada orang-orang yang menanam uang dan punya suara. Sebagian dari mereka idealis seperti saya. Tapi sebagian cuma lihat angka. Dan angka yang ditawarkan pihak ini... besar. Cukup besar buat bikin sebagian dewan mulai bertanya kenapa kita nggak ambil aja keuntungan ini."
Ruko itu hening. Di luar, gerimis mulai turun, menyentuh seng tetangga dengan suara yang Arman kenali dari malam-malam di kosnya dulu.
"Jadi keputusannya nggak sepenuhnya di tangan Bu Linda," kata Arman.
"Nggak." Bu Linda jujur. "Saya bisa tahan beberapa bulan, mungkin. Saya bisa yakinkan sebagian dewan kalau kalian aset jangka panjang yang nilainya lebih dari sekadar uang cepat. Tapi kalau pihak ini terus naikkan tawaran, dan kalau ada satu-dua dewan yang goyah, saya nggak bisa janji bisa nahan selamanya." Ia menatap mereka berdua bergantian. "Saya cuma satu suara. Dan saya datang malam ini supaya kalian tahu — sebelum kalian dengar dari orang lain dengan versi yang lebih menakutkan."
Nadia menggenggam pinggiran meja. "Berapa lama kita punya waktu?"
"Beberapa bulan. Mungkin kurang." Bu Linda mengembalikan dokumen ke mapnya. "Tapi kalau kalian tanya saran saya — dan saya nggak akan kasih ini sebagai investor, tapi sebagai orang yang udah lihat banyak founder hancur dari dalam — jangan tunggu sampai mereka serang. Kalian harus benerin pertahanan kalian sendiri. Saham kalian. Struktur kalian. Pastikan, apa pun yang terjadi di lembaga saya, mereka nggak akan pernah bisa bajak perusahaan kalian dari dalam."
Arman teringat Bayu. Teringat akses penuh ke kode inti yang ia berikan tanpa berpikir, pintu yang ia buka lebar-lebar dan ia sesali seumur hidup. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukan dengan kode, dan bukan dengan saham.
"Bu Linda," katanya, "makasih udah dateng malem-malem. Saya janji, kali ini kami nggak akan kasih pintu kebuka buat dia. Nggak akan lagi."