Selama dua minggu berikutnya, ruko itu berubah menjadi ruang perang. Bukan perang produk seperti dulu, melainkan perang yang lebih sunyi dan asing bagi Arman: perang kepemilikan.
Pak Gunawan, pengacara muda yang dulu membantu mereka melawan gugatan Pak Wira, datang setiap dua hari sekali membawa setumpuk dokumen dan istilah-istilah yang membuat kepala Arman pening. Vesting. Right of first refusal. Drag-along, tag-along. Dilusi. Arman, yang biasa nyaman dengan baris kode yang logis dan pasti, merasa seperti orang asing di negerinya sendiri.
"Gini, Man," kata Pak Gunawan suatu siang, menggambar diagram di papan tulis menutupi tulisan lama mereka. "Cap table itu kayak daftar siapa pegang kunci rumah kalian. Sekarang kuncinya ada di kamu, Nadia, Bu Linda lewat lembaganya, sedikit di Reza sama Sinta, dan —" ia mengetuk satu kotak kecil, "— sisa kunci yang dulu kalian kasih ke Bayu, yang belum pernah benar-benar ditarik balik."
Arman menatap kotak kecil itu. Saham Bayu. Setelah semua yang terjadi — pengkhianatan, gugatan, kesaksian jujur Bayu yang menyelamatkan mereka — sisa kepemilikan kecil itu masih menggantung, tidak pernah dibereskan karena selalu ada urusan yang lebih mendesak. Sekarang ia jadi celah.
"Kalau Pak Wira mau masuk lewat saham," lanjut Pak Gunawan, "ada beberapa pintu. Pintu pertama, beli posisi lembaga Bu Linda dari belakang — tapi Bu Linda udah tolak, jadi itu pintu yang berat buat dia. Pintu kedua, lebih licik. Saham Bayu."
"Bayu nggak akan jual ke Pak Wira," kata Arman cepat, lalu berhenti. Ia tidak benar-benar yakin. Bayu sudah berubah, sudah bersaksi jujur dengan risiko besar, sudah memulai hidup baru yang jujur. Tapi Bayu juga punya istri dan anak, dan Pak Wira tahu betul cara menemukan titik lemah seseorang.
"Mungkin nggak," kata Pak Gunawan hati-hati. "Tapi sahamnya yang menggantung itu masalah. Kalau ada sengketa, kalau ada celah hukum, orang seperti Pak Wira bisa pakai itu buat bikin keributan. Saran saya: bereskan. Ajak Bayu bicara baik-baik. Beli balik sahamnya dengan harga wajar, atau atur ulang supaya jelas dan nggak bisa dipakai siapa pun buat masuk."
Nadia, yang sejak tadi mendengarkan dengan tangan disilangkan, akhirnya bicara. "Jadi kita harus nemuin Bayu lagi."
Ruangan hening. Nama itu selalu membawa beban. Tapi kali ini berbeda dari dulu — Bayu sudah menebus, sebagiannya, lewat kesaksiannya di pengadilan. Arman bahkan sudah menawarinya jalan kerja jujur di tempat lain, sebuah penutup pahit-manis yang ia kira sudah selesai.
"Biar aku yang temuin dia," kata Arman pelan. "Tapi nanti. Sekarang ada yang lebih penting." Ia menoleh ke Pak Gunawan. "Pintu ketiga apa?"
Pak Gunawan tersenyum tipis, senyum pengacara yang menghargai klien yang bertanya hal yang tepat. "Pintu ketiga, yang paling berbahaya: masa depan. Kalian masih kecil. Suatu hari kalian butuh dana lagi buat tumbuh. Setiap kali ada investor baru masuk, porsi kalian mengecil — itu namanya dilusi. Kalau kalian nggak hati-hati, lima putaran pendanaan dari sekarang, kalian berdua bisa jadi pemilik minoritas di perusahaan kalian sendiri. Dan begitu kalian minoritas, orang dengan uang banyak — kayak Pak Wira — bisa beli cukup saham di sana-sini sampai dia yang nyetir."
Itu yang membuat Arman benar-benar dingin. Bukan ancaman hari ini, tapi ancaman bertahun-tahun ke depan. Pak Wira tidak buru-buru. Ia bisa menunggu, sabar seperti laba-laba, menunggu mereka kehabisan napas dan terpaksa menjual sedikit demi sedikit kendali demi bertahan hidup.
Maka mereka membangun benteng. Dengan Pak Gunawan, mereka menulis ulang perjanjian pemegang saham. Mereka memasukkan klausul yang melindungi pendiri — bukan klausul jahat seperti halaman tujuh Pak Wira dulu, tapi klausul yang adil: hak menolak pertama jika ada saham yang mau dijual, sehingga tidak ada saham yang bisa pindah tangan ke pihak luar tanpa sepengetahuan dan persetujuan mereka. Mereka menyepakati dengan Bu Linda struktur suara yang memastikan, apa pun yang terjadi di lembaganya, keputusan tentang harga produk untuk pedagang tetap di tangan pendiri.
Itu poin yang Arman tekankan paling keras. "Apa pun yang kita ubah," katanya pada Pak Gunawan dan Nadia, "satu hal nggak boleh bisa diganggu gugat siapa pun. Harga buat pedagang. Itu jantungnya. Kalau suatu hari Pak Wira atau siapa pun masuk dan coba naikin harga, harus ada tembok hukum yang bikin itu mustahil. Tulis itu sekuat-kuatnya."
Pak Gunawan mencatat, lalu menatap Arman. "Kamu tahu, Man, kebanyakan founder minta perlindungan buat saham mereka. Buat uang mereka. Kamu malah minta perlindungan buat harga yang dibayar pelangganmu." Ia tersenyum. "Baru kali ini aku nulis klausul kayak gini."
"Karena itu yang kita janjiin," kata Arman. "Milik pedagang selamanya. Bukan sampai kita kepepet uang."
Malam terakhir minggu kedua, ketika semua dokumen sudah ditandatangani dan benteng cap table mereka berdiri — tidak sempurna, tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya — Arman dan Nadia duduk di ruko yang sepi. Di papan tulis, di antara diagram kepemilikan, tulisan "milik pedagang selamanya" masih bertahan di sudut, kini digarisbawahi ulang oleh tangan Nadia dengan spidol baru.
"Kita belajar dari Bayu," kata Nadia pelan. "Dulu kamu kasih akses penuh tanpa pagar. Sekarang kita pasang pagar di mana-mana."
"Bukan karena kita curiga sama semua orang," kata Arman. "Tapi karena kita tahu satu orang aja yang punya niat jahat bisa hancurin semua yang dipercaya banyak orang. Pagar ini bukan buat orang baik, Nad. Pagar ini buat yang satu itu." Ia menatap ke luar jendela, ke kota yang gelap. "Dan dia masih di luar sana."