Citra datang ke ruko pada hari Jumat sore, membawa laptop di tas selempang dan kantung mata yang dalam, tanda berhari-hari kurang tidur. Jurnalis muda yang dulu menulis kisah viral mereka itu kini tidak lagi terlihat seperti pemula. Ada ketajaman baru di matanya, ketajaman orang yang sudah terlalu sering melihat sisi gelap dunia yang ditulisnya.
"Aku nggak bisa tinggal lama," katanya, menolak duduk. "Tapi aku mau kalian dengar ini dari aku langsung, bukan dari internet. Aku mau terbitin investigasi soal Pak Wira."
Arman dan Nadia saling pandang.
"Investigasi apa?" tanya Nadia.
Citra membuka laptopnya dan memutarnya ke arah mereka. Layar penuh dengan tangkapan dokumen, bagan hubungan perusahaan, dan kutipan wawancara. "Aku udah ngendus ini berbulan-bulan, sejak gugatan dia ke kalian dulu yang aneh banget. Aku kejar terus. StokJaya yang dia tinggalin sekarat. Perusahaan-perusahaan boneka yang dia pakai buat sembunyi. Pola dia ngedanai startup, ngejebak founder pakai kontrak, terus ambil alih kalau mereka gagal." Ia menggulir layar. "Kalian bukan korban pertama, dan bukan satu-satunya. Ada lima startup lain dalam empat tahun terakhir yang ceritanya mirip kalian — tapi yang lain nggak seberuntung kalian. Mereka tanda tangan kontrak halaman tujuh itu. Dan sekarang perusahaan mereka jadi milik Pak Wira, foundernya entah ke mana."
Arman merasa perutnya dingin. Ia selalu tahu Pak Wira berbahaya, tapi melihatnya tertulis hitam di atas putih — pola yang berulang, korban demi korban — membuat ancaman itu terasa jauh lebih besar dari sekadar dendam pribadi pada mereka berdua.
"Kenapa kamu kasih tahu kami dulu?" tanya Arman.
"Karena kalau aku terbitin ini," kata Citra, menatapnya serius, "Pak Wira bakal balas. Dan target paling gampang buat dia balas adalah kalian — sumber paling vokal, paling dikenal, paling gampang diserang. Aku nggak mau nulis sesuatu yang bikin kalian kena getahnya tanpa kalian siap." Ia menutup laptop. "Aku butuh kalian sebagai narasumber. Cerita kalian — kontrak halaman tujuh, Bayu yang dibeli, gugatan yang berbalik — itu tulang punggung tulisanku. Tapi kalau kalian bilang nggak, kalau ini terlalu berbahaya buat kalian, aku cari cara lain."
Nadia menarik kursi dan duduk, isyarat agar Citra ikut duduk. "Kamu udah punya bukti yang kuat? Bukan cuma kecurigaan?"
"Sebagian kuat. Dokumen pengadilan kasus kalian itu publik, bisa kupakai. Kesaksian Bayu tercatat resmi. Dua dari lima founder lain mau bicara, walaupun takut. Tapi —" Citra ragu, "— jejak ke Pak Wira sendiri tetap licin. Dia selalu pakai orang lain buat tanda tangan. Dia selalu satu lapis di belakang. Aku bisa buktiin polanya, aku bisa buktiin perusahaan-perusahaannya saling terhubung, tapi buat nyeret nama dia langsung ke pengadilan — itu masih susah."
Arman teringat kata Bu Linda. Berlapis-lapis. Orang yang sembunyi di balik tiga lapis perusahaan biasanya punya alasan yang nggak baik.
"Jadi tulisan kamu nggak bakal masukin dia penjara," kata Arman.
"Belum," Citra mengakui. "Tapi tulisan ini ngelakuin sesuatu yang kadang lebih penting dari penjara, Man. Dia ngerusak reputasi Pak Wira. Selama ini dia bisa terus jalan karena nggak ada yang berani nyebut namanya. Founder yang dia hancurin malu, takut, atau udah tanda tangan perjanjian diam. Investor lain nggak tahu — atau pura-pura nggak tahu — karena Pak Wira masih keliatan terhormat, masih diundang ke acara-acara besar, masih punya senyum hangat itu." Ia menatap mereka. "Begitu tulisan ini keluar, semua orang di dunia startup bakal baca nama dia di samping kata 'jebakan kontrak' dan 'merampas perusahaan founder'. Investor yang waras bakal mikir dua kali sebelum kerja sama. Founder bakal waspada. Pintu-pintu mulai ketutup buat dia."
Nadia dan Arman bertukar pandang lagi. Mereka tidak perlu bicara untuk tahu apa yang dipikirkan masing-masing. Risikonya nyata: Pak Wira akan membalas, dan mereka jadi sasaran. Tapi diam juga punya harga — membiarkan pria itu terus berburu founder berikutnya, terus tersenyum hangat sambil menyodorkan kail.
"Kami ikut," kata Arman akhirnya. Nadia mengangguk di sebelahnya, tanpa ragu. "Tapi satu syarat, Citra. Tulis yang benar. Jangan dibesar-besarin biar viral. Cerita kami apa adanya, termasuk kesalahan kami sendiri — aku yang kasih Bayu akses penuh tanpa mikir. Kalau kita lawan kebohongan pakai kebohongan, kita sama aja kayak dia."
Citra tersenyum, lelah tapi tulus. "Itu sebabnya aku dateng ke kalian. Karena aku tahu kalian bakal bilang gitu."
Tiga minggu kemudian, tulisan itu terbit. Bukan judul sensasi murahan, tapi judul yang dingin dan tajam: "Sang Pemberi Madu: Bagaimana Seorang Investor Memburu Mimpi Anak Muda." Tulisan itu menyebar, tidak secepat kisah viral mereka dulu, tapi lebih dalam — dibaca oleh orang-orang yang penting, oleh investor, oleh founder, oleh komunitas teknologi.
Pak Wira tidak berkomentar. Tidak ada bantahan, tidak ada gugatan pencemaran nama — yang justru membuat Arman lebih waspada, karena diamnya orang seperti Pak Wira bukan tanda kalah, melainkan tanda ia sedang menghitung.
Tapi sesuatu berubah. Beberapa hari setelah tulisan terbit, seorang founder muda yang tidak mereka kenal mengirim pesan ke Arman. "Mas, makasih udah berani cerita. Saya hampir tanda tangan kontrak dari orang itu minggu lalu. Sekarang saya batalin." Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.
Reputasi, ternyata, adalah mata uang yang Pak Wira tidak bisa cetak ulang dengan uangnya. Dan untuk pertama kalinya, Arman merasa mereka memukul balik — bukan dengan kekuatan, tapi dengan kebenaran.