"Kita libur," kata Arman keesokan paginya, berdiri di depan tim yang berkumpul dengan ekspresi bingung.
"Libur?" Reza mengernyit. "Man, kita lagi perang. StokJaya tiap hari nyerang. Kalau kita berhenti—"
"Dua hari," potong Arman tegas. "Aku, Nadia, kamu, Sinta. Kita matiin laptop. Kita keluar dari ruko ini. Nggak ada grafik, nggak ada StokJaya, nggak ada Pak Wira. Dua hari."
Sinta menatap Nadia, lalu menatap Arman, mencoba membaca apa yang terjadi. Nadia hanya tersenyum kecil, matanya masih sedikit bengkak dari semalam, tapi ada ketenangan baru di wajahnya.
"Tapi pedagang—" Sinta mulai.
"Pedagang udah bertahan bertahun-tahun sebelum kita libur dua hari," kata Arman. "Mereka nggak akan ke mana-mana cuma gara-gara kita istirahat. Tapi kalau kita terus kerja tanpa berhenti sampai salah satu dari kita ambruk beneran—" ia menatap Nadia sekilas, dan Nadia mengangguk pelan, mengizinkannya, "—baru pedagang kehilangan kita. Bukan kehilangan dua hari. Kehilangan selamanya."
Reza membuka mulut untuk membantah lagi, lalu menutupnya. Ia menatap Nadia, dan untuk pertama kalinya benar-benar melihat — kantung mata, bahu yang turun, kelelahan yang selama ini tersembunyi di balik ketegaran. Ia mengerti tanpa perlu dijelaskan.
"Oke," kata Reza akhirnya. "Dua hari. Tapi kalau StokJaya nge-hack server kita pas kita libur, jangan salahin aku."
"Server kita jalan sendiri, Za," kata Arman, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada tawa di ruko itu.
Mereka tidak pergi jauh. Tidak ada uang untuk liburan mewah, dan itu bukan poinnya. Mereka hanya naik kereta ekonomi ke sebuah pantai kecil di selatan kota, tempat para nelayan menjual ikan bakar di gubuk-gubuk sederhana dan ombak datang tanpa peduli pada grafik atau runway atau Pak Wira.
Hari pertama terasa aneh. Tangan-tangan mereka gatal ingin meraih ponsel, mengecek angka pengguna, membaca pesan. Arman menangkap Reza diam-diam membuka grafik di balik punggung Sinta, dan merampas ponselnya sambil tertawa. "Nggak boleh. Itu aturannya."
Tapi pelan-pelan, sesuatu mengendur. Mereka makan ikan bakar dengan tangan, nasi hangat, sambal yang membakar lidah. Sinta bercerita tentang kampungnya, tentang ibunya yang juga punya warung kecil — alasan diam-diam mengapa ia memilih bergabung dengan Stok Pintar daripada perusahaan besar yang menawarinya gaji lebih tinggi. Reza menceritakan kenapa ia tidak pernah tergoda waktu Garda dulu mendekatinya dengan tawaran gaji besar; bukan karena ia tidak butuh uang, tapi karena di sini, untuk pertama kalinya, ia merasa kodenya berarti.
"Aku dulu kerja di startup yang bikin aplikasi buat orang kaya pesen kopi," kata Reza, menatap ombak. "Gaji gede. Tapi tiap malam aku pulang ngerasa kosong. Di sini gaji pas-pasan, kerja gila-gilaan, tapi tiap kali Sinta cerita ada pedagang yang nggak jadi bangkrut gara-gara kita... itu nggak bisa dibeli, Man."
Arman mendengarkan, dan menyadari betapa sedikit ia tahu tentang orang-orang yang setiap hari bekerja di sampingnya. Selama ini ia begitu sibuk membangun, melawan, bertahan, sampai lupa bahwa perusahaan bukan kode dan grafik — perusahaan adalah orang-orang ini, dengan cerita dan luka dan alasan masing-masing.
Malam kedua, Arman dan Nadia berjalan menyusuri pantai berdua, sementara Reza dan Sinta tertidur di gubuk kekenyangan ikan bakar. Bulan menggantung di atas laut, dan untuk pertama kalinya sejak entah kapan, tidak ada yang mendesak.
"Makasih," kata Nadia pelan. "Buat kemarin. Buat ini."
"Ini bukan buat kamu doang," kata Arman. "Ini buat aku juga. Aku baru sadar aku juga capek, cuma aku terlalu sibuk buat ngakuinnya." Ia menatap laut. "Dulu pas kita mulai semua ini, aku pikir menang itu artinya ngalahin Pak Wira, gede, kaya, terkenal. Sekarang aku mikir, mungkin menang itu artinya... kayak gini. Bisa berhenti sebentar tanpa semuanya runtuh. Bisa makan ikan bakar sama orang-orang yang kita peduliin."
Nadia tersenyum. Mereka berjalan dalam diam, bahu hampir bersentuhan, garis profesional yang mereka tarik dulu terasa jauh dan tidak penting di bawah bulan ini. Tapi tidak ada yang terburu-buru. Mereka punya sesuatu yang lebih langka dari momen romantis: rasa nyaman dua orang yang sudah melewati neraka bersama dan masih saling memilih.
"Man," kata Nadia akhirnya, "kalau kita selamat dari semua ini — Pak Wira, perang tarif, semuanya — janji satu hal sama aku."
"Apa?"
"Jangan pernah lagi kita lupa berhenti. Jangan pernah lagi kita perlakuin diri kita sendiri kayak mesin. Karena kalau kita bangun perusahaan yang ngerusak orang-orang yang bangun perusahaan itu — kita nggak beda sama Pak Wira yang ngerusak pedagang demi angka."
Arman berhenti, menatapnya. Kalimat itu sederhana, tapi benar sampai ke tulang. "Aku janji," katanya.
Mereka kembali ke kota keesokan harinya dengan kulit terbakar matahari, perut kenyang, dan sesuatu yang tidak terukur di grafik mana pun: napas yang kembali. Perang tarif masih ada. Pak Wira masih mengintai. Tapi untuk pertama kalinya, mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang nyaris patah — melainkan sebagai manusia yang ingat kenapa mereka memulai semua ini.