Tekanan itu tidak pergi. Ia hanya pindah tempat — dari grafik di layar ke pundak orang-orang yang menatapnya setiap hari.
Arman pertama kali menyadari ada yang salah pada Nadia di sebuah pagi yang biasa. Nadia datang terlambat, untuk pertama kalinya sejak Arman mengenalnya — Nadia yang selalu tepat waktu, yang dulu memberinya tepat sepuluh menit di Kafe Tanduk. Matanya bengkak, dan ketika Reza bertanya soal desain layar baru, Nadia menjawab dengan nada yang lebih tajam dari biasanya, lalu meminta maaf dengan cara yang justru membuat semua orang tahu ada yang tidak beres.
Selama perang tarif, Nadia menanggung beban paling berat. Ia yang memimpin lapangan, yang menatap mata pedagang yang goyah, yang harus meyakinkan tanpa berbohong, yang pulang setiap malam dengan suara serak dan kaki bengkak. Ia juga yang merancang ulang setiap pesan, setiap kampanye sunyi, setiap cara menjelaskan kenapa Stok Pintar tidak gratis tanpa terdengar membela diri. Beban menjaga kepercayaan ratusan orang ada di pundaknya, dan tidak ada yang benar-benar melihat seberapa berat itu.
Sampai suatu malam, ketika semua sudah pulang dan tinggal mereka berdua di ruko, Arman menemukan Nadia menangis di pojok, di balik rak server kecil, berusaha tidak terlihat.
"Nad." Arman mendekat, ragu. Garis yang mereka tarik dulu — profesional di kantor — terasa konyol di momen ini. "Kamu kenapa?"
Nadia mengusap wajahnya cepat. "Nggak apa-apa. Cuma capek. Besok juga baik."
"Kamu nggak pernah bohong sama aku," kata Arman pelan, duduk di lantai di sampingnya, persis seperti malam ketika Bayu mengkhianati mereka dan Nadia menemaninya di lantai kos. Sekarang giliran ia yang menemani. "Jangan mulai sekarang."
Nadia diam lama. Lalu pertahanannya runtuh. "Aku capek, Man. Bukan capek badan. Capek yang nggak bisa diistirahatin sama tidur." Suaranya bergetar. "Tiap hari aku ke pasar, aku liat pedagang yang goyah, dan aku harus yakinin mereka. Tiap kali ada yang pindah ke StokJaya, aku ngerasa itu salahku, kayak aku kurang bisa ngeyakinin mereka. Tiap pagi aku liat grafik mendatar dan aku mikir, gimana kalau ini gara-gara aku nggak cukup pinter, nggak cukup keras, nggak cukup—" Ia menggigit bibir. "Aku nggak bisa berhenti mikir. Tidur cuma tiga jam. Makan lupa. Dan aku takut, Man. Aku takut kalau aku berhenti sebentar aja, semuanya runtuh."
Arman merasakan sesuatu yang dingin di dadanya. Bukan karena perang tarif. Tapi karena ia menyadari, selama berminggu-minggu ini, ia sibuk menatap grafik, menatap angka pengguna, menatap runway — dan ia tidak menatap orang yang paling penting di seluruh perusahaan itu. Ia memperlakukan Nadia seperti mesin yang kuat dan tak terkalahkan, lupa bahwa di balik ketegaran itu ada manusia yang bisa patah.
"Nad," katanya, "kapan terakhir kamu libur? Bener-bener libur, bukan kerja dari rumah."
Nadia menatap langit-langit, mencoba mengingat, dan tidak bisa. Itu jawabannya.
Arman teringat sesuatu. Dulu, ketika Bayu pergi, Nadia yang menariknya bangun dari lantai. "Dia cuma bawa kodenya, Man. Dia nggak bawa kepala kamu." Nadia yang selalu menjadi tiang ketika ia roboh. Tapi tiang pun bisa retak kalau terus dibebani tanpa pernah diperhatikan.
"Aku salah," kata Arman pelan. "Selama ini aku mikir, selama grafiknya nggak turun, kita baik-baik aja. Selama perusahaan hidup, kita menang. Aku lupa nanyain orangnya. Aku lupa nanyain kamu." Ia menatap Nadia. "Kalau kamu burnout, kalau kamu patah — grafik naik pun nggak ada artinya. Perusahaan ini bukan grafik, Nad. Perusahaan ini kamu, aku, Reza, Sinta, pedagang-pedagang itu. Kalau kita rusak, semuanya rusak."
Nadia menatapnya, matanya basah, tapi ada sesuatu seperti lega di sana — lega karena akhirnya ada yang melihat.
"Aku takut keliatan lemah," bisiknya. "Aku co-founder. Aku harus kuat. Kalau aku ambruk, tim ikut ambruk."
"Justru sebaliknya," kata Arman. "Kalau kamu pura-pura kuat sampai patah, baru tim ambruk beneran. Kekuatan itu bukan nggak pernah capek. Kekuatan itu berani ngaku capek pas emang capek." Ia tersenyum tipis. "Itu yang dulu kamu ajarin ke aku, inget? Pas aku ambruk gara-gara Bayu. Kamu nggak nyuruh aku langsung kuat. Kamu cuma nemenin aku di lantai."
Nadia tertawa kecil di sela tangisnya. "Sekarang kamu mau bales nemenin aku di lantai?"
"Aku udah duduk di lantai dari tadi," kata Arman, dan mereka berdua tertawa, tawa yang lelah tapi tulus, di ruko gelap yang dikelilingi sisa-sisa perang.
Malam itu Arman tidak membahas grafik, tidak membahas StokJaya, tidak membahas Pak Wira. Ia hanya duduk di sana, menemani, sampai napas Nadia kembali tenang. Dan saat ia mengantar Nadia ke angkot, ia membuat satu keputusan yang ia tahu akan mengganggu setiap insting bisnisnya, tapi yang ia tahu lebih benar daripada angka mana pun.
Besok, ia akan menghentikan semuanya. Sebentar. Untuk semua orang. Karena menjaga manusia, akhirnya ia mengerti, lebih penting daripada menjaga grafik.