Hari-hari berikutnya adalah ujian paling sunyi sekaligus paling melelahkan yang pernah mereka hadapi. Tidak ada drama besar, tidak ada konfrontasi di ruang kaca lantai dua puluh. Hanya kaki-kaki yang pegal berjalan dari pasar ke pasar, dari gang ke gang, dari satu warung ke warung berikutnya, melawan tim StokJaya yang berseragam rapi membagikan pulsa dan janji.
Arman ikut turun ke lapangan, sesuatu yang jarang ia lakukan karena ia lebih nyaman di balik layar. Tapi kali ini ia merasa harus melihat sendiri. Ia ingin tahu, dengan matanya, apakah benteng yang mereka bangun dari kepercayaan cukup kuat.
Di Pasar Kliwon, ia bertemu Pak Haji yang sedang menjaga warungnya di ujung gang. Di depan warung sebelah, dua anak muda berseragam StokJaya sedang menjelaskan sesuatu pada penjaga warung itu dengan penuh semangat, sambil menyodorkan ponsel.
"Le," kata Pak Haji ketika melihat Arman, "duduk sini. Bapak ceritain." Ia menuangkan teh dari termos butut. "Kemarin orang StokJaya dateng ke Bapak. Bawa pulsa lima puluh ribu, bawa minyak goreng dua liter. Bilang, Pak Haji, pindah ke kami, gratis selamanya, Bapak dapet ini semua."
Arman menahan napas. "Terus, Pak?"
Pak Haji tertawa, tawa orang tua yang sudah kenyang ditipu dunia. "Bapak bilang, Nak, dulu Bapak udah pernah ketipu yang kayak gini. Gratis enam bulan, Bapak pindah, terus pas habis gratisnya, mereka minta bayar mahal, dan aplikasi Bapak udah penuh data, susah pindah balik. Untung waktu itu Arman sama Nadia maafin Bapak, terima Bapak balik." Ia menyeruput tehnya. "Bapak udah tua, Le. Tapi Bapak nggak mau dibodohin dua kali sama trik yang sama. Yang gratis-gratis itu pasti ada maunya. Kalau mereka kasih Bapak minyak goreng sekarang, suatu hari mereka bakal minta balik sepuluh kali lipat."
Arman merasa matanya panas. Bukan karena haru murahan, tapi karena di depannya duduk seorang pedagang tua yang dulu pernah meninggalkan mereka karena godaan gratis — dan kini menjadi benteng paling kokoh, justru karena ia pernah merasakan sakitnya jebakan itu.
"Tapi nggak semua kayak Bapak, Le," lanjut Pak Haji, menunjuk dagunya ke warung sebelah. "Yang itu, baru buka tahun lalu. Masih muda. Belum pernah ketipu. Dia tergiur. Bapak nggak nyalahin dia. Orang lapar mah liat gratis ya senang."
Benar. Ketika Arman dan tim menelusuri data minggu-minggu berikutnya, pola itu jelas. Pedagang lama — yang sudah bertahun-tahun bersama Stok Pintar, yang pernah merasakan jebakan StokJaya pertama, yang dikenal nama dan keluarganya oleh Sinta — sebagian besar bertahan. Mereka tidak tergoyahkan, bukan karena buta pada godaan, tapi karena mereka sudah belajar dengan harga yang mahal.
Tapi pedagang baru, yang belum punya ikatan, banyak yang pindah. Angka pengguna baru Stok Pintar nyaris berhenti tumbuh; sebagian malah turun. Setiap pagi Reza memperbarui grafik, dan setiap pagi garisnya mendatar, kadang menurun. Itu menyakitkan. Setelah bertahun-tahun tumbuh, melihat angka diam adalah siksaan tersendiri bagi orang-orang yang mengukur hidup mereka dari grafik itu.
"Kita nggak kalah," kata Nadia suatu malam, menatap grafik yang sama, "tapi kita juga nggak menang. Kita cuma... bertahan."
"Bertahan itu kemenangan, dalam perang kayak gini," sahut Bu Linda lewat telepon. "Pak Wira atau siapa pun di belakang StokJaya itu lagi bakar uang banyak banget. Setiap bulan kalian masih berdiri, itu sebulan lagi uang mereka kebakar tanpa hasil. Pertanyaannya cuma: siapa yang napasnya lebih panjang. Mereka punya uang lebih banyak. Tapi kalian punya pengeluaran yang jauh lebih kecil, dan pedagang yang nggak perlu dibayar buat setia."
Itu yang menjadi kekuatan diam-diam mereka. StokJaya membakar miliaran setiap bulan untuk pulsa, sembako, dan tim bayaran. Stok Pintar berjalan ramping, seperti mesin yang dulu Arman tulis ulang agar muat di ponsel murah — sedikit makan, tahan lama, dibangun untuk bertahan di tanah yang keras.
Suatu sore, Sinta kembali dari lapangan dengan cerita yang membuat seluruh tim diam.
"Aku ketemu ibu penjual sayur di Pasar Legi," katanya. "Dia pindah ke StokJaya bulan lalu, gara-gara gratis. Tapi minggu kemarin dia balik ke kita. Aku tanya kenapa. Dia bilang —" Sinta menahan suaranya yang bergetar, "— dia bilang, 'Mbak, yang StokJaya itu pinter banget aplikasinya, tapi nggak ada yang dateng nanyain saya. Saya cuma angka buat mereka. Kalau aplikasi error, saya bingung sendiri. Tapi kalau Mbak Sinta, tiap minggu dateng, nanyain anak saya yang sakit, ngajarin saya pelan-pelan. Saya nggak peduli gratis apa nggak. Saya mau yang ngerti saya.'"
Ruko itu hening. Arman menatap papan tulis, ke tulisan "milik pedagang selamanya", dan merasa untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, garis yang mendatar di grafik tidak lagi terasa seperti kekalahan. Mereka tidak menang dengan harga. Mereka tidak akan pernah bisa. Tapi mereka bertahan dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh kantong terdalam sekalipun — dan itu, untuk sekarang, cukup.