Surel itu masuk pada Selasa pagi, di sela kopi sachet pertama Arman dan suara mesin printer Sinta yang bandel di pojok kantor. Pengirimnya bukan investor, bukan pula nama besar yang biasa membuat dada berdebar. Hanya sebuah lembaga pemerintah—sebuah kementerian yang mengurus usaha mikro dan kecil—dengan logo garuda kecil di sudut atas dan bahasa yang kaku, penuh frasa "dalam rangka" dan "guna mendukung".
Arman membacanya dua kali sebelum percaya. Lembaga itu ingin bertemu. Mereka sedang merancang program pendampingan UMKM nasional, dan nama Stok Pintar muncul berkali-kali dalam riset internal mereka sebagai contoh produk yang benar-benar dipakai pedagang kecil, bukan sekadar laku di brosur.
"Nad," panggil Arman, memutar layar laptop. "Coba baca ini."
Nadia mendekat sambil menggulung lengan baju. Ia membaca cepat, alisnya naik. "Program UMKM nasional. Mereka mau gandeng kita?"
"Kelihatannya begitu. Mereka pengin Stok Pintar jadi alat resmi buat program pendampingan. Bayangin, Nad—bukan dua ratus, bukan lima ribu warung. Tapi puluhan ribu, mungkin ratusan ribu, lewat satu pintu pemerintah."
Reza, yang sedang membungkuk di depan tiga layar, ikut mendengarkan. "Itu kabar bagus, kan, Mas?" tanyanya, hati-hati seperti biasa. Sejak ia menolak tawaran besar dari Garda dulu, ada keterbukaan jujur dalam dirinya yang membuat Arman selalu lega mendengar suaranya.
"Bagus," kata Arman. "Tapi bagus yang bikin saya gugup."
Sinta yang biasanya paling bersemangat justru diam dulu. Ia lulusan baru yang paling sering turun ke pasar, paling sering mendengar keluhan asli pedagang. "Mas, kalau lewat pemerintah, nanti pedagang yang daftar lewat program itu bayarnya gimana? Tetap murah kayak janji kita, atau ikut aturan mereka?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap rokok di warung kopi. Justru pertanyaan paling sederhana, dan paling tajam.
Mereka sepakat bertemu, tapi dengan kepala dingin. Bu Linda, perwakilan investor sosial yang kini jadi penasihat dewan, ikut diajak lewat panggilan video malam itu. Wajahnya muncul di layar, ramah tapi tegas seperti biasa, dengan kacamata baca tergantung di lehernya.
"Pemerintah itu pisau bermata dua," kata Bu Linda. "Sekali kalian masuk program nasional, jangkauan kalian bisa meledak. Tapi kalian juga masuk ke ruangan penuh kepentingan yang kalian nggak kenal. Tender, anggaran, subkontraktor, pejabat yang bergonta-ganti. Banyak startup baik yang masuk niat tulus, keluar jadi alat orang lain."
"Kami nggak akan jual prinsip, Bu," kata Arman.
"Saya tahu kalian nggak akan jual," balas Bu Linda. "Yang saya khawatirkan, kadang prinsip itu bukan dijual. Tapi dikikis pelan-pelan, sampai kalian sendiri nggak sadar sudah berubah."
Arman menatap buku catatan lusuh yang selalu ia simpan di laci meja. Sampul yang sudah lecek, tulisan tangan dari malam pertama: bantu warung kecil jangan rugi, mulai dari nol. Ia tidak membukanya, tapi keberadaannya saja sudah cukup mengingatkan.
Malam itu, setelah yang lain pulang, Arman dan Nadia tinggal terakhir di kantor ruko kecil mereka. Lampu jalan menyelinap lewat jendela, menerangi dinding penuh tempelan foto pedagang—wajah-wajah yang sudah jadi alasan mereka bangun tiap pagi.
"Kamu takut?" tanya Nadia, duduk di meja, kakinya menggantung.
"Bukan takut," kata Arman pelan. "Lebih ke... waspada. Kamu inget Pak Wira datang juga dulu dengan senyum dan angka besar. Sekarang yang datang lebih besar lagi, dan dia bawa stempel negara. Kalau dia jahat, kita nggak bisa lawan kayak lawan satu orang."
Nadia mengangguk. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang ia jaga tetap tenang, "Tapi kita nggak boleh nolak cuma karena takut, Man. Coba pikir. Berapa banyak ibu kayak ibu kamu di luar sana yang warungnya bakal tutup tahun depan karena nggak ada yang ngajarin? Kalau pintu ini beneran tulus, kita lari dari mereka."
Arman terdiam lama. Ia tahu Nadia benar. Itu yang selalu ia hormati dari perempuan itu: ia tidak pernah membiarkan ketakutan jadi alasan untuk meninggalkan orang kecil.
"Jadi kita masuk," kata Arman akhirnya. "Tapi dengan mata terbuka. Baca tiap baris. Tanya tiap pasal. Begitu ada satu hal yang minta kita naikin harga ke pedagang, atau serahin kendali, kita angkat kaki."
"Setuju," kata Nadia. Ia mengulurkan tangan, dan Arman menjabatnya—jabat tangan yang dulu kaku karena benci, kini hangat karena terlalu banyak yang sudah mereka lewati bersama.
Mereka belum tahu apa yang menanti di balik gedung kementerian itu. Tapi malam itu, di kantor sempit yang berbau kopi dan tinta printer, mereka memutuskan satu hal: mereka akan melangkah masuk seperti orang yang sudah pernah dikhianati. Hati-hati, tapi tidak gentar.