Gedung kementerian itu jauh lebih besar dari kantor Pak Wira, dan jauh lebih dingin. Bukan dingin AC mahal, tapi dingin lorong panjang dengan lantai keramik mengilap, papan nama berlapis-lapis, dan pegawai yang lalu-lalang membawa map cokelat. Arman dan Nadia menunggu setengah jam di ruang tamu sebelum dipanggil, dan dalam setengah jam itu Arman menghitung sudah ada tiga kali pejabat berbeda lewat tanpa menyapa.
Mereka akhirnya diterima oleh seorang pejabat madya bernama Pak Hartono, pria berkemeja batik dengan suara yang sabar. Di sampingnya duduk dua staf muda yang sibuk mencatat. Pertemuan dimulai dengan ramah. Pak Hartono memuji kisah viral mereka, menyebut Stok Pintar sebagai "bukti anak bangsa bisa berkarya tanpa modal asing".
Tapi begitu masuk ke detail, suasana berubah jadi labirin.
"Jadi begini," kata Pak Hartono, membuka map tebal. "Program ini namanya Pendampingan Digital UMKM. Kami sediakan anggaran untuk membantu pedagang kecil melek digital. Stok Pintar bisa jadi salah satu mitra penyedia aplikasi. Tapi tentu ada mekanismenya. Ada proses pengadaan, ada standar, ada laporan berkala."
Nadia mencatat tiap kata. "Pak, soal harga. Aplikasi kami prinsipnya murah, sekali bayar ringan, milik pedagang selamanya. Itu nggak bisa kami ubah. Apakah itu cocok dengan mekanisme Bapak?"
Pak Hartono mengangguk-angguk, tapi ada jeda yang membuat Arman waspada. "Soal harga... begini. Dalam program ini, anggaran negara yang bayar lisensi penggunaan ke penyedia. Jadi pedagang nggak bayar sama sekali. Gratis buat mereka."
"Gratis," ulang Arman pelan.
Kata itu, bagi telinga Arman, sudah seperti alarm. Gratis adalah jebakan StokJaya dulu. Gratis yang membuat pedagang lupa cara menilai, lalu terjerat ketika harga dinaikkan.
"Pak," kata Arman hati-hati, "kalau pedagang dapat gratis dari negara, lalu suatu hari anggaran habis atau program berhenti, gimana? Pedagang yang sudah bergantung, tiba-tiba alatnya mati. Itu yang kami takutkan. Prinsip kami justru biar pedagang merasa memiliki, bukan menumpang."
Pak Hartono tersenyum, tapi senyum birokrat yang sudah ribuan kali bernegosiasi. "Itu urusan teknis, Mas Arman. Yang penting program jalan, target tercapai, laporan rapi. Soal lima tahun ke depan, itu pemerintahan berikutnya yang urus."
Di mobil pulang—mobil pinjaman teman, karena mereka belum mampu beli sendiri—Arman dan Nadia diam panjang. Jalanan macet, klakson bersahut-sahutan.
"Aku nggak suka ini, Man," kata Nadia akhirnya. "Mereka pengin angka besar buat laporan. Mereka pengin foto pedagang senyum buat seremoni. Tapi mereka nggak peduli setelah seremoni selesai."
"Tapi kalau kita nolak total," balas Arman, "kita kehilangan kesempatan nyentuh ratusan ribu pedagang yang nggak akan pernah kita jangkau sendiri. Itu juga salah, kan?"
Itulah simpul yang mengikat mereka berhari-hari. Antara dampak luas yang ditawarkan pemerintah dan kemurnian misi yang mereka jaga mati-matian. Antara menyentuh banyak orang dengan cara yang sedikit kotor, atau menyentuh sedikit orang dengan cara yang benar-benar bersih.
Mereka kembali ke kantor, mengumpulkan tim. Reza menulis di papan tulis dua kolom: keuntungan dan risiko. Sinta menambahkan dari sisi pedagang. Bu Linda ikut lewat telepon, menimbang dari sisi tata kelola.
"Kita nggak harus terima semua syarat mereka," kata Bu Linda. "Negosiasi itu dua arah. Kalian punya yang mereka butuh—produk yang beneran dipakai. Itu kartu kalian. Pakai."
Arman mendengarkan, lalu menulis di bawah dua kolom Reza sebuah kalimat sederhana: kita masuk, tapi dengan syarat kita yang pegang prinsip harga, bukan mereka. Ia menggarisbawahinya, persis seperti ia dulu menggarisbawahi "mulai dari nol".
"Kita ajukan model sendiri," kata Arman. "Bukan gratis yang bikin ketergantungan. Tapi bayar ringan yang sebagian disubsidi sementara, lalu pedagang teruskan sendiri dengan harga murah. Biar pas program berhenti, mereka nggak jatuh. Mereka tetap punya alatnya."
"Mereka mungkin nolak," kata Nadia.
"Mungkin," kata Arman. "Tapi setidaknya kita masuk sebagai diri kita sendiri, bukan jadi versi yang mereka mau."
Malam itu mereka menyusun proposal balasan sampai larut, dengan kopi sachet dan mie instan seperti hari-hari awal. Di luar dugaan, kerja itu terasa menyenangkan—bukan karena mudah, tapi karena mereka tahu mereka sedang membela sesuatu. Arman menatap timnya yang lelah tapi menyala, dan untuk sesaat ia merasa, mungkin idealisme memang bisa berbicara dengan birokrasi, asal yang berbicara tidak gentar.
Yang tidak mereka tahu, di balik tumpukan map cokelat di gedung kementerian itu, ada nama yang sengaja disembunyikan di lampiran subkontraktor—nama yang seharusnya membuat seluruh kewaspadaan mereka menyala merah.