Reza yang pertama menemukannya. Ia tipe orang yang membaca lampiran sampai halaman terakhir, kebiasaan yang kadang membuat orang lain tidak sabar, tapi malam itu menyelamatkan mereka.
Pemerintah mengirim dokumen tebal berisi kerangka acuan program Pendampingan Digital UMKM—ratusan halaman, lengkap dengan struktur kerja sama, daftar penyedia, dan—di bagian paling belakang, dicetak kecil—daftar perusahaan pendukung teknis dan subkontraktor pengelola data nasional.
"Mas Arman," panggil Reza, suaranya datar tapi ada ketegangan yang jarang muncul. "Coba lihat halaman dua ratus tujuh belas."
Arman mendekat. Nadia ikut. Reza menunjuk satu baris di tabel subkontraktor. Sebuah perusahaan yang namanya asing—PT Sentra Data Nusantara—tercantum sebagai pengelola pusat data UMKM nasional. Di sebelahnya, kolom kecil mencantumkan struktur kepemilikan, dan di sana, terselip di antara nama-nama yang tak dikenal, ada satu yang membuat darah Arman dingin.
Salah satu pemegang saham mayoritas perusahaan itu adalah entitas modal ventura yang dulu mendanai StokJaya. Entitas milik Pak Wira.
Ruangan jadi sunyi. Hanya suara kipas laptop dan dengung lampu.
"Dia masuk lewat pintu belakang," bisik Nadia. "Bukan jadi mitra aplikasi. Tapi jadi pengelola datanya. Pengumpul semua data UMKM yang ikut program."
Arman menarik kursi dan duduk pelan, otaknya berputar cepat. Ia tahu persis apa artinya. Aplikasi seperti Stok Pintar hanya alat. Tapi yang benar-benar berharga di era ini bukan alatnya—melainkan datanya. Pola belanja jutaan pedagang kecil. Apa yang laku di mana, kapan, berapa. Siapa yang punya peta itu, punya kuasa untuk menebak pasar seluruh negeri.
"Kalau program ini jalan," kata Arman pelan, "semua data pedagang yang ikut akan mengalir ke pusat data itu. Ke perusahaan yang dikuasai Pak Wira. Dia nggak perlu lagi nyolong kode kita kayak dulu lewat Bayu. Sekarang dia mau ambil yang lebih besar—data seluruh UMKM nasional. Dengan restu negara."
Nadia menutup wajahnya sejenak dengan kedua tangan, lalu menurunkannya. "Ini lebih licik dari semua yang dia lakuin selama ini. Dia nggak nyerang kita langsung. Dia bikin kita jadi alat buat ngumpulin data ke kandang dia."
Sinta, yang mendengar dari mejanya, datang dengan wajah pucat. "Mas, kalau begitu... tiap pedagang yang kita ajak masuk program, sebenernya kita serahin datanya ke orang yang paling pengin meras mereka?"
Kalimat polos Sinta itu menghantam paling keras. Karena benar. Niat baik mereka, jika diteruskan tanpa hati-hati, akan jadi pengkhianatan terbesar terhadap pedagang yang mempercayai mereka.
Arman berdiri, berjalan ke jendela. Lampu kota berkedip di luar. Ia teringat halaman tujuh kontrak Pak Wira dulu—klausul jahat yang dikubur kecil-kecil di tengah pasal yang membosankan. Pak Wira tidak berubah. Ia hanya naik kelas. Dulu ia menjebak satu startup. Sekarang ia menjebak sebuah program nasional, dengan jebakan yang dikubur di halaman dua ratus tujuh belas.
"Kita harus yakin dulu," kata Arman, berbalik. "Reza, telusuri struktur perusahaan itu. Cari tahu siapa di belakangnya, sampai ke akar. Jangan asal nuduh. Kita pernah dituduh tanpa bukti sama Pak Wira di pengadilan, dan kita tahu rasanya. Kita nggak boleh main tuduh juga."
Reza mengangguk. "Saya butuh waktu. Dokumen perusahaan ini berlapis. Mereka sengaja bikin susah dilacak."
"Sambil itu," kata Nadia, "kita nggak boleh tanda tangan apa pun. Kita ulur. Kita pura-pura masih mempelajari. Kalau kita mundur tiba-tiba, mereka curiga dan kita kehilangan akses ke dokumen."
Malam itu mereka tidak pulang. Mereka duduk mengelilingi satu meja, di bawah lampu temaram, seperti dulu di kos sempit. Tapi taruhannya sudah berbeda. Dulu yang dipertaruhkan hanya mimpi dua anak muda. Sekarang yang dipertaruhkan adalah data jutaan pedagang yang tidak tahu apa-apa, yang hanya ingin warung mereka tidak rugi.
Arman membuka buku catatan lusuhnya, dan menulis satu baris baru di bawah tulisan lamanya: "Jaga mereka, bahkan dari niat baik yang salah arah." Ia menatap tulisan itu lama. Lalu ia menutup buku, dan dalam dirinya tumbuh keyakinan yang dingin: Pak Wira sudah kembali. Bukan sebagai bayangan kali ini. Tapi sebagai sesuatu yang mengintai di balik stempel negara, jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya.