Citra datang ke kantor dengan ransel berat dan mata yang menyala. Jurnalis muda yang dulu menulis kisah viral mereka itu kini lebih matang, lebih hati-hati, tapi api ingin tahunya tidak pernah padam. Arman meneleponnya dua hari setelah penemuan Reza, dan Citra langsung membatalkan jadwalnya begitu mendengar nama Pak Wira dan kata "data nasional".
"Ini bukan cerita warung lagi," kata Citra, menaruh laptopnya di meja. "Ini cerita yang bisa nentuin nasib jutaan UMKM. Kalau benar, ini gede banget. Tapi justru karena gede, aku nggak akan nulis satu huruf pun sebelum buktinya kuat. Wartawan yang main asal tuduh sama orang sekuat Pak Wira itu cari mati."
Pak Gunawan, pengacara muda yang dulu membantu mereka melawan gugatan Pak Wira, juga bergabung. Ia masih sama: kemeja lengan digulung, map plastik bekas, dan kebiasaan menulis di kertas daur ulang. Tapi ada ketenangan baru dalam dirinya, ketenangan orang yang sudah pernah menang melawan yang kuat.
"Kita harus pisahkan dua hal," kata Pak Gunawan, menggambar dua kotak di kertas. "Pertama, fakta hukum: siapa pemilik PT Sentra Data Nusantara, dan apa benar terhubung ke Pak Wira. Kedua, niat: apa benar mereka mau menyalahgunakan data UMKM. Yang pertama bisa kita buktikan dari dokumen resmi. Yang kedua, jauh lebih susah—niat jahat itu nggak ditulis di akta."
Maka mereka membagi tugas seperti tim kecil yang sudah terlatih oleh berkali-kali badai. Reza menelusuri jejak digital perusahaan—dokumen pendirian, perubahan kepemilikan, alamat kantor yang ternyata cuma ruko kosong. Pak Gunawan mengurus jalur resmi, meminta salinan akta dari lembaga terkait. Citra mengejar narasumber—mantan pegawai, pesaing, siapa pun yang pernah berurusan dengan Sentra Data.
Hari-hari berikutnya melelahkan. Banyak jalan buntu. Banyak pintu yang tertutup. Beberapa narasumber Citra mendadak menolak bicara setelah awalnya bersedia, seolah ada yang menakut-nakuti mereka.
"Ada yang nutupin," kata Citra suatu sore, frustrasi. "Dua orang yang udah janji ngomong, tiba-tiba bilang 'maaf, saya nggak mau terlibat'. Mereka ketakutan. Itu justru bikin aku makin yakin ada sesuatu."
Lalu Reza menemukan benang yang menyambung. Ia melacak salah satu direktur Sentra Data ke sebuah perusahaan lama—perusahaan yang dulu jadi cangkang ketika StokJaya dibangun. Orang yang sama, perusahaan yang berganti baju, pola yang berulang.
"Lihat ini," kata Reza, menyusun layar-layar penuh diagram. "Mereka pakai lapisan perusahaan biar nggak kelihatan. Tapi orang-orangnya itu-itu juga. Ini bukan kebetulan, Mas. Ini desain. Pak Wira merancang ini biar kelihatan bersih dari luar."
Arman menatap diagram itu, dan ia merasakan kembali sensasi yang sama seperti malam ketika ia menemukan log unduhan Bayu di server. Dingin, mual, marah. Tapi kali ini ia tidak hancur. Ia sudah belajar. Marah tanpa bukti hanya bahan bakar yang terbuang.
"Kita kumpulkan semua," kata Arman. "Tiap dokumen, tiap diagram, tiap nama. Kita susun jadi satu cerita yang nggak bisa dibantah. Tapi kita belum bongkar ke publik. Belum waktunya."
"Kenapa belum?" tanya Nadia. "Kalau kita diam terus, program jalan, data mengalir ke dia."
"Karena kalau kita bongkar sekarang dengan bukti setengah matang," kata Pak Gunawan menimpali, "Pak Wira tinggal bilang itu fitnah, dan dia balik nuntut kita pencemaran nama baik. Dia punya pengacara mahal, kita punya saya." Ia tersenyum tipis. "Sekali kita bongkar, harus sekali jadi. Nggak boleh ada celah."
Mereka bekerja seperti orang menyusun teka-teki di ruang gelap. Pelan, hati-hati, tiap potongan diperiksa berkali-kali. Pertaruhannya tidak lagi soal warung di gang sempit. Ini sudah jadi pertaruhan nasional: data jutaan pedagang melawan satu orang yang ingin memilikinya semua.
Suatu malam, ketika yang lain sudah pulang, Citra masih duduk di kantor, menatap papan penuh tempelan benang merah yang menghubungkan satu nama ke nama lain. Arman membawakannya kopi.
"Kamu yakin mau nulis ini?" tanya Arman. "Sekali keluar, kamu jadi musuh orang yang sangat berkuasa."
Citra menyeruput kopinya, lalu tersenyum lelah. "Aku jadi wartawan bukan buat nulis berita aman, Mas. Aku nulis cerita kalian dulu karena percaya kebaikan kecil bisa menang. Sekarang aku mau buktiin itu lagi. Cuma kali ini, taruhannya jauh lebih besar."
Arman mengangguk. Di papan itu, di antara benang-benang merah, satu kotak masih kosong—satu mata rantai yang belum mereka punya buktinya. Mata rantai yang akan menentukan apakah seluruh skema ini bisa dibongkar tuntas, atau hanya jadi tudingan yang menguap.
Dan tanpa mereka tahu, kunci untuk mengisi kotak kosong itu ada di tangan seseorang yang dulu paling mereka benci.