Keputusan itu diambil pada rapat paling tegang yang pernah mereka adakan. Semua hadir: Arman, Nadia, Reza, Sinta, Bu Linda lewat layar, Citra, dan Pak Gunawan. Di tengah meja, tumpukan dokumen setinggi sejengkal—hasil berminggu-minggu menggali.
"Bukti kita sudah kuat," kata Pak Gunawan, menepuk tumpukan itu. "Kita bisa buktikan PT Sentra Data Nusantara dikendalikan oleh entitas Pak Wira. Kita bisa buktikan mereka dirancang jadi pengumpul data UMKM nasional. Yang belum kita punya cuma satu: bukti niat. Surat, perintah, atau saksi yang bisa nunjukin mereka memang berniat menyalahgunakan data itu, bukan sekadar mengelola."
"Tanpa itu," kata Bu Linda dari layar, "mereka bisa bilang semuanya legal. 'Kami cuma pengelola data resmi yang ditunjuk negara.' Dan secara hukum, mereka benar."
Hening menggantung. Arman menatap dokumen-dokumen itu, lalu menatap timnya satu per satu.
"Jadi kita punya dua pilihan," kata Arman pelan. "Satu, kita diam dan tunggu sampai dapat bukti niat. Tapi sambil nunggu, program mungkin sudah jalan, data sudah mengalir, dan kita kehilangan kesempatan. Dua, kita bongkar sekarang dengan yang kita punya, walaupun belum lengkap. Risikonya, kita bisa kalah, dituduh fitnah, dan kehilangan proyek pemerintah selamanya."
"Dan reputasi kita," tambah Nadia. "Sekali kita tuduh orang sekuat dia dan gagal buktiin, nama Stok Pintar jatuh. Pedagang bisa ragu. Investor bisa lari. Bertahun-tahun kerja kita bisa runtuh dalam satu artikel yang salah."
Sinta menggigit bibir. "Tapi kalau kita diam, Mas, terus ternyata datanya beneran disalahgunakan... berarti kita ikut bersalah. Kita tahu, tapi diam."
Arman menutup mata sejenak. Inilah harga sebuah prinsip yang selalu menghantuinya—bahwa berbuat benar tidak pernah gratis. Dulu ia menolak satu miliar dan kehilangan kenyamanan. Sekarang, jika ia membongkar skema ini, ia bisa kehilangan reputasi yang telah ia bangun dengan susah payah, dan dengan itu, kepercayaan pedagang yang jadi nyawa perusahaannya.
Ia teringat ibunya. Teringat warung yang tutup karena tak ada yang membela orang kecil. Teringat tulisan di buku lusuhnya: bantu warung kecil jangan rugi.
"Kita bongkar," kata Arman akhirnya, suaranya tenang tapi tak bisa ditawar. "Tapi dengan cara yang benar. Kita nggak akan nuduh apa yang nggak bisa kita buktikan. Citra nulis fakta: siapa pemilik perusahaan itu, hubungannya ke StokJaya, perannya sebagai pengumpul data. Kita ajukan pertanyaan, bukan vonis. Biar publik dan pedagang yang nilai. Kalau kita jujur soal apa yang kita tahu dan apa yang kita belum tahu, itu kekuatan kita, bukan kelemahan."
Pak Gunawan mengangguk perlahan. "Itu lebih aman secara hukum. Menyajikan fakta dan mengajukan pertanyaan beda dengan menuduh. Tapi tetap, Pak Wira nggak akan tinggal diam."
"Aku tahu," kata Arman. "Tapi kita nggak bisa terus main aman terus. Kadang membela yang benar berarti berani kehilangan."
Nadia menatapnya lama. Lalu ia tersenyum—senyum yang dulu tidak pernah ia berikan, senyum penuh keyakinan pada orang di sebelahnya. "Gila bareng lagi, ya, Man?"
"Gila bareng lagi," jawab Arman.
Mereka menghabiskan tiga hari menyusun artikel itu bersama Citra. Tiap kalimat ditimbang. Tiap klaim diberi sumber. Tidak ada kata yang berlebihan, tidak ada drama yang dibuat-buat. Hanya fakta, disusun rapi, dengan pertanyaan-pertanyaan tajam di akhir: mengapa perusahaan yang dikendalikan pendukung StokJaya ditunjuk mengelola data UMKM nasional? Siapa yang akan mengawasi penggunaan data jutaan pedagang itu? Apa jaminan data itu tidak dipakai untuk kepentingan komersial pihak tertentu?
Sebelum artikel terbit, Arman mengumpulkan tim sekali lagi. "Begitu ini keluar, hidup kita berubah. Mungkin lebih berat. Mungkin ada yang nyerang kita. Kalau ada yang mau mundur, sekarang waktunya. Nggak ada yang akan saya salahin."
Tak satu pun beranjak. Reza mengangkat kepalanya dari layar. Sinta menggeleng. Citra sudah menyiapkan jarinya di atas keyboard.
"Kita di sini bukan karena gampang, Mas," kata Reza. "Kita di sini karena ini benar."
Arman menatap mereka, dan untuk sesaat ia hampir tak percaya betapa jauh ia telah datang—dari programmer kos-kosan yang sendirian, kini dikelilingi orang-orang yang ia percaya, orang-orang yang memilih tinggal. Bukan seperti Bayu dulu. Bukan seperti siapa pun yang pergi.
"Terbitkan," kata Arman.
Citra menekan tombol. Artikel itu lepas ke dunia. Dan di suatu gedung kaca di jantung kota, telepon mulai berdering.