Artikel itu menyebar seperti api di rumput kering. Bukan viral euforia seperti kisah mereka menolak satu miliar dulu, tapi sesuatu yang lebih berat—diskusi serius, pertanyaan dari sesama pelaku UMKM, sorotan dari beberapa pengamat kebijakan. Tagar tentang data UMKM mulai muncul. Beberapa anggota komunitas pedagang yang dibina Sinta membagikannya dengan tambahan kalimat sederhana: "kami nggak mau data kami dijual."
Tiga hari setelah artikel terbit, ponsel Arman berdering dari nomor tak dikenal. Ia tahu sebelum mengangkat. Firasatnya jarang salah soal ini.
"Anak muda," kata suara di seberang. Hangat, terlalu hangat, persis seperti dua tahun lalu. "Lama tidak bicara."
Arman menahan napas sejenak. "Pak Wira."
"Saya rasa kita perlu bertemu," kata Pak Wira. "Bukan lewat artikel sembunyi-sembunyi. Tatap muka. Seperti laki-laki. Saya kirim alamatnya."
Kali ini bukan di lantai dua puluh yang dulu. Pak Wira memilih sebuah restoran mahal di rooftop hotel, tempat di mana kekuasaan dipamerkan tanpa malu. Arman datang bersama Nadia. Mereka memakai pakaian sederhana seperti biasa, dan di tengah ruangan penuh jas dan gaun, mereka tampak seperti dua pedagang yang tersesat. Tapi punggung mereka tegak.
Pak Wira sudah menunggu di meja terbaik, menghadap pemandangan kota. Ia lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu, rambutnya lebih putih, tapi matanya sama tajamnya. Ia berdiri, tersenyum lebar, mengulurkan tangan seolah mereka teman lama.
Arman tidak menjabatnya. Ia hanya duduk. Nadia mengikuti.
Senyum Pak Wira tidak goyah. "Masih keras kepala seperti dulu. Bagus. Saya suka lawan yang punya tulang punggung." Ia menuang anggur untuk dirinya sendiri, tidak menawarkan. "Artikel kalian lumayan. Mengusik beberapa orang penting. Tapi kalian tahu apa masalahnya dengan artikel? Artikel itu cuma kata-kata. Dan kata-kata bisa dibantah, bisa ditarik, bisa dikubur."
"Itu bukan cuma kata-kata, Pak," kata Arman tenang. "Itu fakta. Perusahaan Bapak ditunjuk ngumpulin data jutaan pedagang. Bapak punya rekam jejak. Orang berhak tahu."
Pak Wira tertawa pelan, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Data," ulangnya, seolah menikmati kata itu. "Kalian masih mikir kecil. Dunia sudah berubah, Nak. Yang menguasai data, menguasai masa depan. Saya cuma melakukan apa yang setiap orang pintar lakukan. Kalian mau menghalangi kemajuan demi sentimen tentang warung-warung kecil itu."
"Warung-warung kecil itu," potong Nadia, suaranya dingin, "yang Bapak sebut sentimen, itu hidup orang. Itu ibu-ibu yang nabung receh. Bapak nggak pernah ngerti itu, dan Bapak nggak akan pernah ngerti."
Untuk pertama kalinya, ada kilatan di mata Pak Wira. Bukan lagi pura-pura ramah. Ia mencondongkan badan, suaranya turun jadi berbahaya. "Dengar baik-baik. Saya datang bukan untuk ngajak kalian gabung lagi. Itu sudah lewat. Saya datang untuk kasih tahu satu hal: kalian sudah mengganggu sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kalian bayangkan. Ada orang-orang di belakang proyek ini yang punya kuasa untuk membuat hidup kalian sangat, sangat sulit. Izin kalian, mitra kalian, investor kalian—semua bisa saya sentuh."
Ia bersandar lagi, topeng ramah kembali ke wajahnya seperti sakelar dimatikan. "Tapi saya orang yang adil. Saya kasih kalian jalan keluar. Tarik artikel itu. Klarifikasi bahwa kalian salah paham. Lalu kita lupakan semua ini, dan saya pastikan Stok Pintar tetap punya tempat di program nasional. Tempat yang baik."
Arman menatap pria di hadapannya. Ia teringat semua yang Pak Wira ambil dari mereka—kepercayaan, Bayu, motor yang ia jual, malam-malam di lantai dingin. Tapi ia juga teringat semua yang Pak Wira tidak pernah bisa ambil: prinsip, tim, dan harga diri.
"Pak Wira," kata Arman, berdiri perlahan. "Dua tahun lalu Bapak bilang kami akan belajar bahwa idealisme nggak bisa dimakan. Tapi kami masih di sini. Masih makan, masih kerja, masih bangun pagi buat orang yang Bapak sebut sentimen. Bapak yang nggak belajar—bukan kami."
Ia meletakkan beberapa lembar uang di meja, cukup untuk air mineral yang mereka pesan, lalu menatap Pak Wira langsung. "Artikel itu nggak akan kami tarik. Dan kalau Bapak mau perang, kali ini kami nggak akan sembunyi. Kami juga nggak akan."
Pak Wira tidak lagi tersenyum. Ia menatap kedua anak muda itu berjalan keluar, punggung tegak di antara meja-meja mewah, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ada sesuatu di matanya yang belum pernah ada sebelumnya saat berhadapan dengan mereka.
Kekhawatiran.