Serangan balasan Pak Wira tidak datang sebagai ledakan. Ia datang seperti air yang merembes—pelan, dari segala arah, sampai tahu-tahu rumah sudah banjir.
Mulai dari hal kecil. Izin operasional Stok Pintar yang biasanya lancar, mendadak diperiksa ulang. Surat yang dulu cukup seminggu, sekarang menggantung berbulan tanpa kabar. Seorang petugas datang ke kantor ruko mereka, memeriksa kelengkapan administrasi dengan teliti yang tidak wajar, menulis catatan panjang tentang hal-hal sepele.
"Ini bukan pemeriksaan biasa, Mas," bisik Sinta setelah petugas itu pergi. "Mereka nyari-nyari kesalahan."
Lalu giliran mitra. Beberapa koperasi pedagang yang sudah sepakat bekerja sama dengan Stok Pintar tiba-tiba menunda, beralasan "menunggu situasi lebih jelas". Salah satu ketua koperasi, dengan suara penuh sesal, menelepon Arman langsung.
"Le, maaf banget," katanya, suaranya mirip Pak Haji dulu ketika pamit pindah ke StokJaya. "Ada yang datang ke saya. Bilang kalau saya kerja sama sama Stok Pintar, koperasi saya bisa kena masalah perizinan. Saya orang kecil, Le. Saya nggak berani lawan."
Arman menutup telepon dengan dada sesak. Pola itu terlalu jelas. Pak Wira tidak menyerang Stok Pintar langsung—ia memutus akar-akarnya, satu per satu, menakuti orang-orang kecil yang tidak punya kuasa untuk melawan.
Investor pun digoyang. Bu Linda menelepon dengan suara serius. "Arman, ada beberapa pihak yang mulai bertanya-tanya ke jaringan kami. Menyebarkan keraguan. Bilang Stok Pintar 'terlalu berani', 'cari ribut sama yang berkuasa', 'risiko reputasi'. Saya pribadi tetap di belakang kalian. Tapi saya nggak bisa jamin semua orang di lingkaran investor sekuat itu."
Tekanan datang dari segala arah sampai Arman merasa seperti kembali ke masa-masa terburuk—masa ketika StokJaya muncul dan semua pengguna pindah, ketika tabungannya nol dan Nadia menjual laptop. Tapi kali ini ada perbedaan. Kali ini ia tidak sendirian, dan ia tidak hancur. Ia marah, tapi marah yang terkendali.
Suatu malam, tim berkumpul lagi, lelah dan tegang. Reza menatap layar dengan mata merah. Sinta tampak akan menangis. Bahkan Nadia, yang biasanya jadi sumber semangat, terlihat letih sampai ke tulang.
"Dia mau bikin kita capek," kata Arman, berdiri di depan tim. "Itu strateginya. Dia nggak akan lawan kita di tempat yang adil—di produk, di kepercayaan pedagang—karena di situ dia kalah. Dia lawan kita di tempat yang dia kuasai: birokrasi, koneksi, ketakutan. Dia mau kita lelah sampai nyerah sendiri."
"Terus kita gimana, Mas?" tanya Sinta lirih. "Tiap hari ada aja yang nakut-nakutin. Pedagang mulai ragu. Aku capek nguatin mereka padahal aku sendiri takut."
Arman menatap gadis itu, dan hatinya pedih. Ia teringat bagaimana Nadia hampir burnout beberapa bulan lalu, bagaimana ia belajar bahwa menjaga manusia lebih penting daripada menjaga grafik.
"Sinta," kata Arman pelan, "kamu boleh takut. Kita semua boleh takut. Takut itu wajar. Yang nggak boleh, kita biarin takut itu yang nyetir. Kita lawan ini bukan dengan jadi pemberani palsu. Kita lawan dengan jujur soal apa yang kita rasain, terus tetap jalan walaupun takut."
Ia berbalik ke seluruh tim. "Kita nggak bisa lawan Pak Wira di lapangan birokrasinya. Tapi kita punya satu hal yang dia nggak punya—kepercayaan. Pedagang percaya sama kita karena kita nggak pernah bohong. Mitra yang masih bertahan, bertahan karena mereka kenal kita. Itu senjata kita. Kita rawat itu. Kita nggak boleh kehilangan satu orang pun karena lalai."
Kata terakhir itu menggema di kepalanya sendiri. Kita nggak boleh kehilangan satu orang pun. Bayangan Bayu melintas—orang yang dulu ia kehilangan karena lalai, karena membiarkan tekanan dan kebutuhan membeli kesetiaan. Arman bersumpah dalam hati: tidak lagi. Ia tidak akan membiarkan tim ini retak dari dalam seperti dulu.
Malam itu mereka tidak menyelesaikan masalah apa pun. Tapi mereka pulang sedikit lebih tegak. Karena kadang, di tengah tekanan dari segala arah, yang paling dibutuhkan bukan jawaban—melainkan seseorang yang berdiri di depan dan berkata: kita hadapi ini bareng.
Yang Arman belum tahu, malam itu juga, di kantor lain di kota yang sama, satu nama dalam timnya sedang menerima telepon yang akan menguji segalanya.