Goyahnya datang dari arah yang paling Arman takutkan, dan paling tidak ia duga sekaligus.
Reza yang menemuinya pagi itu, sebelum yang lain datang. Ia berdiri di ambang pintu kantor dengan wajah yang tidak biasa—pucat, gelisah, seperti orang yang semalaman tidak tidur.
"Mas Arman," katanya, suaranya berat. "Saya harus ngomong sesuatu. Dan saya mau ngomong sekarang, sebelum saya berubah pikiran."
Arman merasakan dadanya mendingin. Bayangan Bayu kembali, tajam dan menyakitkan. Ia menarik kursi. "Duduk, Za. Ngomong aja."
Reza duduk, menggenggam tangannya sendiri. "Kemarin malam saya ditelepon. Orang yang ngaku dari perusahaan teknologi besar—bukan Garda, yang lain. Mereka nawarin saya kerja. Gaji tiga kali lipat dari sini. Posisi tinggi. Mereka bilang... mereka bilang Stok Pintar lagi sekarat, sebentar lagi habis dilindas Pak Wira, dan saya mending pindah selagi sempat."
Arman diam. Setiap serat dalam dirinya ingin curiga, ingin marah, ingin mengingat Bayu dan menutup diri. Tapi ia menahan. Ia sudah belajar—dengan susah payah—bahwa kecurigaan yang membabi buta justru yang dulu membuatnya kehilangan kemampuan memimpin.
"Terus?" tanya Arman pelan.
Reza mengangkat kepalanya, menatap Arman langsung. "Terus saya nggak bisa tidur. Bukan karena saya tergoda gajinya—maksud saya, siapa yang nggak tergoda. Tapi karena saya inget cerita Mas Bayu. Saya inget gimana Mas pernah cerita soal kepercayaan yang Mas kasih ke dia, terus dia bawa lari. Dan saya nggak mau jadi orang itu, Mas. Saya nggak mau Mas ngerasain itu dua kali. Makanya saya datang. Saya cerita semuanya. Saya nggak ambil tawaran itu."
Selama beberapa detik, Arman tidak bisa bicara. Bukan karena marah. Karena haru. Inilah yang ia perjuangkan sejak ia belajar memaafkan Bayu—membangun tim yang ketika digoda, datang dan bicara, bukan menghilang di malam hari.
"Reza," kata Arman akhirnya, suaranya serak, "kamu tahu kenapa saya percaya sama kamu?"
Reza menggeleng.
"Bukan karena kamu nggak pernah tergoda. Tapi karena kamu datang ke saya pas kamu tergoda. Itu bedanya kamu sama Bayu. Bayu ngilang. Kamu duduk di depan saya." Arman menepuk bahu anak muda itu. "Terima kasih. Beneran. Kamu nggak tahu seberapa berarti ini buat saya."
Tapi godaan terhadap Reza hanyalah satu retakan. Di tempat lain, tekanan Pak Wira mulai memakan korban. Salah satu mitra koperasi terbesar mereka di luar kota memutuskan mundur sepenuhnya, takut izinnya dicabut. Dua pegawai paruh waktu yang membantu pelatihan pedagang mengundurkan diri, beralasan keluarga mereka khawatir. Sinta menangis di toilet setelah seorang pedagang yang ia dampingi bertahun-tahun memutuskan berhenti pakai Stok Pintar karena "takut kena masalah".
Suasana kantor menggantung berat. Arman tahu, inilah ujian sebenarnya—bukan apakah mereka bisa mengalahkan Pak Wira, tapi apakah tim ini bisa bertahan utuh di bawah tekanan yang dirancang untuk meretakkannya.
Ia mengumpulkan semua orang sore itu. Tidak ada presentasi, tidak ada strategi. Hanya kursi-kursi yang ditata melingkar, dan kejujuran.
"Saya nggak akan bohong," kata Arman, menatap mereka satu per satu. "Kita lagi di posisi sulit. Beberapa mitra pergi. Beberapa pedagang takut. Mungkin akan ada lagi yang pergi. Dan saya nggak punya jaminan kita bakal menang."
Ia berhenti, menarik napas. "Tapi saya punya satu janji. Saya nggak akan kehilangan kalian seperti saya pernah kehilangan teman saya dulu—karena saya lalai, karena saya nggak jujur, karena saya nutup diri. Kalau kalian takut, datang ke saya. Kalau ada yang nawarin kalian sesuatu, cerita ke saya, kayak Reza tadi pagi. Kita nggak harus pura-pura kuat. Kita cuma harus jujur satu sama lain."
Sinta menyeka air matanya. Nadia, di sebelah Arman, menggenggam tangannya di bawah meja—diam-diam, kuat. Reza mengangguk, dan satu per satu yang lain mengikuti.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Tapi ketika rapat itu bubar, sesuatu telah mengeras kembali di antara mereka—bukan keyakinan bahwa mereka akan menang, tapi keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama, dan tidak akan ada lagi yang menghilang di tengah malam.
Yang tidak Arman duga, justru ketika timnya mulai solid, badai berikutnya sudah disiapkan Pak Wira—badai yang akan menyerang bukan orang-orangnya, tapi bukti-bukti yang mereka kumpulkan dengan susah payah.