Pagi itu Reza datang lebih awal dari siapa pun, dan ketika Arman tiba, ia menemukan anak muda itu berdiri di depan layar dengan wajah pasi.
"Mas," kata Reza, suaranya nyaris tak terdengar. "Arsip kita... sebagian hilang."
Arman bergegas mendekat. Folder bukti yang mereka kumpulkan berminggu-minggu—dokumen kepemilikan PT Sentra Data, diagram benang merah, salinan akta—beberapa di antaranya rusak, beberapa raib sama sekali dari penyimpanan cadangan mereka.
"Diretas?" tanya Arman.
"Saya belum yakin," kata Reza, jarinya menari di keyboard, memeriksa log. "Tapi ada akses dari luar dini hari tadi. Mereka tahu persis folder mana yang mau dihapus. Ini bukan kerusakan acak, Mas. Ini ditargetkan."
Arman merasakan kembali sensasi lama itu—log akses mencurigakan, dini hari, jejak orang yang masuk ke tempat yang seharusnya aman. Persis seperti malam ketika ia menemukan unduhan Bayu. Tapi kali ini bukan teman yang berkhianat. Kali ini musuh dari luar.
Lebih buruk lagi, bukan hanya berkas digital yang raib. Pak Gunawan menelepon siang itu dengan kabar yang sama mengkhawatirkan. Salah satu narasumber kunci Citra—seorang mantan pegawai Sentra Data yang sudah bersedia memberi keterangan—mendadak tidak bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif, alamatnya kosong, seolah orang itu menguap dari muka bumi.
"Dia ketakutan, atau dia disuruh hilang," kata Pak Gunawan lewat telepon, suaranya tegang. "Tanpa kesaksian dia, dan tanpa dokumen yang tadinya kita pegang, kasus kita melemah drastis. Yang tersisa cuma fakta yang bisa mereka bilang 'legal'. Bukti niat jahatnya... kita kehilangan tulang punggungnya."
Sore itu kantor terasa seperti rumah duka. Mereka sudah berjuang sejauh ini, mengorbankan kenyamanan, menghadapi tekanan dari segala arah, dan kini, di saat paling genting, tanah seakan ditarik dari bawah kaki mereka.
"Kita masih punya salinan, kan?" tanya Nadia, mencoba tetap tenang. "Kita kan selalu bikin cadangan."
Reza menggeleng pahit. "Cadangan utama yang kena. Kita punya beberapa potongan tercecer, tapi nggak utuh. Dan dokumen aslinya, yang kertas, sebagian saya simpan di brankas kantor—tapi yang paling penting, yang dari Pak Gunawan, ada di kantor dia, dan dia bilang kantornya didatangi 'petugas' kemarin yang ngacak-ngacak berkas."
Hening yang menyesakkan. Sinta menunduk. Bahkan Citra, yang biasanya penuh semangat, menatap papan penuh benang merah yang kini sebagian kosong dengan tatapan kosong.
Arman berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang acuh tak acuh di luar. Untuk sesaat, keputusasaan lama mencoba menyusup kembali—suara kecil yang dulu berbisik di kos sempit, mungkin Pak Wira benar, mungkin kamu terlalu naif buat dunia ini. Orang seperti Pak Wira selalu punya cara. Selalu selangkah di depan. Punya uang untuk menghapus bukti, punya kuasa untuk menghilangkan saksi.
Tapi Arman sudah bukan anak muda yang duduk hancur di lantai kos itu. Ia berbalik, dan ketika ia bicara, suaranya tenang.
"Dia menghapus bukti karena dia takut," kata Arman. "Orang nggak repot-repot ngehapus sesuatu yang nggak berbahaya buat dia. Fakta bahwa dia sampai harus ngancurin arsip kita dan ngilangin saksi—itu justru bukti bahwa yang kita pegang tadinya benar-benar mematikan buat dia."
"Tapi kita kehilangan buktinya, Man," kata Nadia. "Kebenaran yang nggak bisa dibuktikan, di mata hukum, sama aja kayak nggak ada."
"Aku tahu," kata Arman. Ia menatap timnya. "Tapi kita pernah kehilangan segalanya sebelumnya, dan kita bangun lagi dari nol. Kita cari jalan lain. Selalu ada jejak yang nggak bisa dihapus sepenuhnya. Selalu ada orang yang tahu sesuatu."
Malam itu, ketika yang lain pulang dengan langkah lesu, Arman tinggal sendirian di kantor. Ia membuka buku catatan lusuhnya, menatap tulisan-tulisan lama. Mulai dari nol. Ia hampir tersenyum getir. Sepertinya hidupnya memang dirancang untuk terus-menerus dimulai dari nol.
Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia simpan, tapi yang membuat seluruh tubuhnya menegang ketika ia membacanya. Nomor yang ia kenal dulu, bertahun-tahun lalu, sebelum semuanya berantakan.
Pesan itu pendek. "Man, ini Bayu. Aku tahu kamu lagi nyari sesuatu. Aku masih nyimpen yang dulu nggak pernah aku kasih ke siapa-siapa. Aku mau ngomong. Kalau kamu masih mau dengerin aku."
Arman menatap layar itu lama sekali, jantungnya berdebar oleh perasaan yang ia sendiri tak bisa namai—antara amarah lama, luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan secercah harapan yang datang dari arah paling tak terduga.