Mereka bertemu di sebuah warung kopi sederhana di pinggir kota, bukan kafe mahal, bukan restoran rooftop. Tempat netral, tempat orang kecil. Arman datang sendiri, meski Nadia sempat memaksa ikut. "Ini harus aku selesaikan sendiri," kata Arman. "Sebagian."
Bayu sudah menunggu di pojok, dan Arman hampir tidak mengenalinya. Pria di hadapannya itu lebih kurus, lebih tua, dengan kerut di dahi yang dulu tidak ada. Tapi yang paling berbeda adalah caranya menatap—dulu Bayu selalu menghindari mata, sekarang ia menatap Arman lurus, walau dengan rasa bersalah yang kentara.
"Man," kata Bayu, suaranya bergetar. "Makasih udah mau datang."
Arman duduk. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Terlalu banyak yang menggantung di antara mereka—pengkhianatan, kode yang dicuri, malam-malam hancur, tahun-tahun yang hilang.
"Aku dengar kamu lagi lawan Pak Wira," kata Bayu akhirnya. "Soal data UMKM itu. Aku baca artikelnya."
"Dari mana kamu tahu detailnya?" tanya Arman, hati-hati. Kepercayaannya pada Bayu sudah lama mati, dan ia tidak akan dengan mudah menghidupkannya.
Bayu tersenyum pahit. "Karena dulu aku kerja buat dia, Man. Setelah aku... setelah aku bawa kode kalian ke dia, aku kerja di lingkaran dalam dia selama beberapa bulan. Aku lihat banyak hal. Aku simpan banyak hal—dokumen, percakapan, perintah-perintah yang dia kasih. Aku simpan bukan buat senjata. Aku simpan karena takut. Takut suatu hari dia buang aku, dan aku nggak punya apa-apa buat lindungin diri."
Ia mengeluarkan sebuah flash disk tua dari saku, meletakkannya di meja, tapi belum mendorongnya ke arah Arman. "Di sini ada bukti, Man. Termasuk soal rencana dia ngumpulin data lewat perusahaan-perusahaan cangkang. Aku udah dengar rencana itu dari dua tahun lalu, jauh sebelum jadi proyek pemerintah. Dia udah merancangnya lama."
Arman menatap flash disk itu, lalu menatap Bayu. "Kenapa sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Kamu tahu apa yang dia lakuin ke kami, dan kamu diam aja selama ini."
Pertanyaan itu menghantam Bayu seperti pukulan. Ia menunduk, dan ketika ia bicara lagi, suaranya parau. "Karena aku pengecut, Man. Karena aku takut. Karena aku mikirin keluargaku dulu, kayak waktu aku ngkhianatin kamu. Aku pikir, kalau aku diam, aku aman. Anakku aman." Ia mengangkat kepala, matanya basah. "Tapi anakku udah gede sekarang. Dia mulai nanya, Bapak kerjanya apa, Bapak orang baik nggak. Dan aku... aku nggak bisa jawab. Aku nggak mau dia gede dengan bapak yang ngebantu orang jahat ngerampok orang kecil."
Arman terdiam. Ia teringat masa-masa tergelap dalam hidupnya, teringat bagaimana ia dulu mendatangi rumah kontrakan Bayu dan melihat istri serta bayinya, teringat bagaimana ia—dengan susah payah, bertahun-tahun—belajar memaafkan tanpa melupakan. Memaafkan bukan untuk Bayu, kata Nadia dulu, tapi agar Arman sendiri bebas.
"Kamu tahu," kata Arman pelan, "dulu aku benci kamu setengah mati. Lama. Bertahun-tahun aku nggak bisa percaya siapa pun gara-gara kamu."
"Aku tahu," kata Bayu. "Dan aku pantas dapat itu."
"Tapi aku juga belajar," lanjut Arman, "bahwa orang bisa berubah. Aku berubah. Mungkin kamu juga." Ia menatap flash disk di meja. "Kamu sadar konsekuensinya? Kalau kamu serahin ini dan bersaksi, Pak Wira nggak akan diam. Dia bisa hancurin hidup kamu lagi. Keluarga kamu lagi."
Bayu mengangguk pelan. "Aku udah pikirin itu siang malam. Tapi aku udah capek lari, Man. Aku udah capek jadi orang yang malu sama diri sendiri. Kalau aku harus bayar buat dosa lama aku dengan cara ini, biarlah. Setidaknya anakku nanti tahu, bapaknya akhirnya berani benar."
Ia mendorong flash disk itu menyeberangi meja, sampai menyentuh tangan Arman.
Arman menatapnya. Dalam dadanya bergolak—luka lama, kemarahan yang belum sepenuhnya padam, tapi juga sesuatu yang lebih kuat: pengakuan bahwa di depannya duduk seorang manusia yang akhirnya memilih jalan benar, betapapun terlambat. Penebusan yang ia tunggu bertahun-tahun, datang bukan dengan kemenangan, tapi dengan keberanian seorang ayah yang malu di hadapan anaknya.
Arman mengambil flash disk itu, menggenggamnya erat. "Bayu," katanya, suaranya tenang tapi penuh, "ini nggak akan ngehapus yang dulu. Kamu tahu itu. Tapi ini... ini cukup buat aku berhenti benci kamu. Dan mungkin, cukup buat kamu mulai berhenti benci diri sendiri."
Untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu, Bayu menangis—bukan tangis ketakutan seperti malam ketika ia mengirim pesan pengkhianatan dulu, tapi tangis seorang yang akhirnya meletakkan beban yang ia panggul terlalu lama.
Ketika Arman keluar dari warung kopi itu, sore sudah turun, langit jingga di atas kota. Flash disk kecil itu terasa berat di sakunya—seberat semua yang dipertaruhkan, dan seringan harapan yang baru menyala. Ia menelepon Nadia, dan ketika Nadia mengangkat, ia hanya berkata satu kalimat:
"Nad, kita dapat buktinya. Dan kali ini, dari orang terakhir yang kuduga."
Di seberang telepon, Nadia terdiam sejenak, lalu suaranya bergetar antara tak percaya dan haru. "Bayu?"
"Bayu," kata Arman. Ia menatap langit jingga, dan untuk pertama kalinya sejak Pak Wira muncul kembali, ia merasakan sesuatu yang lama tak ia rasakan dalam pertarungan ini—bukan ketakutan, bukan kelelahan, tapi keyakinan. Orang yang dulu meruntuhkannya, kini menyerahkan kunci untuk menjatuhkan dalang dari semuanya.
Badai belum berakhir. Justru sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Tapi malam itu, dengan flash disk di saku dan tim yang setia menunggu, Arman tahu satu hal dengan pasti: mereka tidak lagi melawan dalam gelap.