Pagi itu kantor Stok Pintar—ruko tiga lantai di pinggir jalan yang dulu mereka sewa dengan tangan gemetar—penuh oleh orang-orang yang tidak biasanya berkumpul di satu ruangan. Arman berdiri di pojok, menyandar ke tembok, mengamati. Di meja panjang yang biasanya dipakai Reza dan timnya menulis kode, kini duduk Bu Wati dari koperasi pedagang, Citra dengan map tebal berisi catatan investigasinya, Pak Gunawan yang baru selesai menelepon entah pengadilan mana, dan Bu Linda yang datang langsung mewakili investor sosial. Bahkan Pak Damar, eksekutif Garda yang dua tahun ini selalu bicara dalam bahasa korporat yang licin, hadir lewat layar besar di dinding.
Arman tidak pernah membayangkan ruangan seperti ini. Dulu ia dan Nadia sendirian melawan satu miliar. Sekarang, melawan Pak Wira yang menyusup ke proyek UMKM nasional, mereka tidak lagi sendirian.
"Saya akan jujur," kata Pak Damar dari layar, wajahnya serius tanpa senyum korporat yang biasa. "Garda tidak ikut campur urusan kecil. Tapi yang dilakukan Pak Wira—membajak data jutaan pedagang lewat pintu belakang proyek pemerintah—itu bukan urusan kecil. Itu meracuni seluruh ekosistem. Kalau pasar percaya data UMKM bisa dicuri, semua orang rugi. Termasuk kami."
Nadia, yang duduk di seberang Arman, menyilangkan tangan. "Jadi Garda berpihak karena hitungan bisnis."
"Saya tidak akan berbohong dan bilang ini soal idealisme, Bu Nadia," jawab Pak Damar. "Tapi kadang hitungan bisnis dan hal yang benar kebetulan searah. Kali ini begitu. Kami punya tim hukum, kami punya data forensik, kami punya akses ke regulator. Itu semua kami tawarkan."
Arman menatap Nadia. Mereka berdua sudah cukup lama di dunia ini untuk tahu bahwa aliansi yang lahir dari kepentingan bisa berubah arah kapan saja. Tapi mereka juga tahu, kali ini mereka butuh setiap tangan yang terulur.
Bu Wati mengangkat suara, logat kampungnya kontras dengan ruangan penuh istilah. "Saya nggak ngerti hukum, nggak ngerti forensik. Tapi saya ngerti satu hal. Pedagang di koperasi saya udah dengar kabar data mereka mau dicolong. Mereka marah. Tiga ribu lebih pedagang siap teken surat, siap datang ke mana pun kalau diminta. Mereka nggak punya pengacara. Tapi mereka punya suara, dan mereka punya cerita."
Citra membuka mapnya. "Dan saya punya tempat buat suara itu. Tulisan saya soal Pak Wira yang lalu udah bikin investornya gerah. Kalau tiga ribu pedagang bicara, dan saya yang tulis, itu nggak bisa dibungkam pakai uang."
Arman merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya. Selama bertahun-tahun, kekuatan selalu berada di sisi Pak Wira—uang, koneksi, pengacara, kemampuan memutarbalikkan kenyataan. Untuk pertama kalinya, ada kekuatan tandingan yang berkumpul di pihaknya. Bukan dari satu sumber besar, tapi dari banyak sumber kecil yang menolak ditindas.
"Saya cuma mau memastikan satu hal," kata Arman akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. Semua mata menoleh padanya. "Kita di sini bukan buat menghancurkan Pak Wira. Kita di sini buat melindungi pedagang. Begitu kita lupa bedanya, kita jadi seperti dia. Garda punya kepentingan, koperasi punya kemarahan, Citra punya berita—itu semua boleh. Tapi kompasnya tetap satu: pedagang nggak boleh jadi korban, baik dari Wira maupun dari kita."
Ruangan hening sejenak. Lalu Bu Linda, yang sejak tadi diam mengamati, mengangguk pelan. "Itulah kenapa kami mendanai kalian dua tahun lalu," katanya. "Bukan karena produk. Karena kalimat seperti itu."
Pertemuan berakhir dengan pembagian tugas. Pak Gunawan menyiapkan berkas hukum. Citra melanjutkan investigasi. Bu Wati menggerakkan koperasi. Garda menyiapkan data forensik. Dan Arman serta Nadia—mereka yang akan berdiri di depan, karena ini cerita mereka, dan cerita itulah senjata paling tajam yang mereka punya.
Setelah semua pergi, Arman dan Nadia tinggal berdua di ruangan yang mendadak sunyi. Nadia menghela napas panjang.
"Aneh ya," katanya. "Dulu kita dikhianati dari dalam. Sekarang kita dibantu dari segala arah."
"Karena dulu kita nggak punya apa-apa selain kode," jawab Arman. "Sekarang kita punya kepercayaan. Dan kepercayaan itu, ternyata, menular."
Nadia tersenyum tipis. Tapi di balik senyum itu, keduanya tahu—Pak Wira tidak akan menyerah tanpa serangan terakhir. Dan serangan itu, mereka yakin, sedang disiapkan.