Forum besar itu dijadwalkan dua minggu lagi. Sebuah dengar pendapat terbuka yang digagas lembaga pemerintah, mengundang dewan pengarah proyek UMKM nasional, perwakilan pers, dan publik—untuk menentukan apakah skema kemitraan yang melibatkan subkontraktor milik Pak Wira layak diteruskan. Arman tahu, di forum itulah semuanya akan ditentukan. Bukan di pengadilan yang berlarut-larut, tapi di hadapan mata banyak orang sekaligus.
"Lima belas menit," kata Pak Gunawan, mengetuk meja di ruang rapat ruko. "Itu yang kalian dapat. Setelah presentasi pihak proyek, kalian diberi kesempatan menyampaikan keberatan. Lima belas menit untuk membongkar skema yang Pak Wira sembunyikan bertahun-tahun."
Arman dan Nadia saling pandang. Lima belas menit. Angka itu menghantam mereka dengan gema yang aneh. Dua tahun lebih yang lalu, di hotel berpendingin terlalu dingin, mereka punya lima belas menit untuk meyakinkan investor bahwa warung kecil layak diselamatkan. Slide pertama mereka bukan grafik, melainkan foto warung tua di gang sempit. Kini, lingkarannya menutup: lima belas menit lagi, dengan taruhan yang jauh lebih besar.
"Kita harus susun semuanya," kata Nadia, menggulung lengan baju. "Tiap detik harus berarti."
Dua minggu itu menjadi minggu-minggu paling padat sejak mereka menulis ulang mesin dari nol. Reza dan timnya menyusun bukti teknis: log akses, jejak waktu, pola aliran data yang membuktikan subkontraktor Pak Wira merancang sistem untuk menyedot data pedagang ke server di luar kendali pemerintah. Garda mengirim dua analis forensik yang bekerja semalaman memverifikasi temuan Reza, dan ketika hasil keduanya cocok sampai ke detail terkecil, Arman tahu bukti ini tidak bisa dibantah dengan retorika.
Citra menyusun kronologi—dari pencurian kode oleh Bayu bertahun-tahun lalu, StokJaya, gugatan palsu yang berbalik, sampai penyusupan ke proyek nasional. Disusun berurutan, pola itu terbaca jelas: bukan kebetulan, melainkan satu metode yang sama dipakai berulang. Madu, lalu kail.
Tapi Nadia bersikeras pada satu hal. "Bukti teknis bikin orang ngerti. Tapi yang bikin orang peduli, itu cerita." Ia menggelar foto-foto pedagang di meja. "Kita nggak ngomong soal data dan server doang. Kita ngomong soal Bu Sari yang dagangannya busuk gara-gara salah kulak, sebelum dia pakai Stok Pintar. Kita ngomong soal Pak Haji. Kita kasih wajah ke angka."
Arman mengangguk. Itu kalimat yang Nadia ucapkan padanya bertahun-tahun lalu, malam sebelum pitch pertama. Angka bikin mereka mikir. Cerita bikin mereka percaya. Kamu butuh dua-duanya.
Mereka berlatih sampai larut, persis seperti dulu. Bedanya, kali ini ruangan tidak sempit, dan mereka tidak sendirian. Reza memeriksa setiap klaim teknis. Sinta, yang sehari-hari dekat dengan komunitas, melatih mereka mengantisipasi pertanyaan dari pedagang yang akan hadir. Pak Gunawan memerankan lawan, melontarkan bantahan paling kejam yang mungkin dilontarkan tim hukum Pak Wira, memaksa mereka menutup setiap celah.
Suatu malam, di tengah latihan, Arman berhenti di tengah kalimat. Ia menatap layar slide pertama yang baru saja Nadia buat. Sebuah foto: warung tua di ujung gang, dengan seorang pria tua tersenyum di depannya. Pak Haji.
"Kenapa?" tanya Nadia.
"Nggak apa-apa," kata Arman pelan. "Cuma... rasanya kayak balik ke awal. Tapi awal yang lebih berat."
Nadia berjalan mendekat, berdiri di sampingnya menatap layar yang sama. "Bedanya," katanya, "dulu kita lima belas menit buat dapat uang. Sekarang lima belas menit buat jaga prinsip. Aku lebih suka yang sekarang."
"Aku juga," jawab Arman.
Tapi di balik kepercayaan diri itu, ada keraguan yang tidak ia ucapkan. Pak Wira tidak pernah kalah dengan mudah. Setiap kali mereka pikir sudah memojokkannya, ia selalu menemukan jalan keluar—memutus jejak, membeli orang, memutarbalikkan kenyataan. Dua minggu terasa terlalu pendek, dan Arman tahu, di suatu tempat di kota ini, Pak Wira juga sedang menyiapkan lima belas menitnya sendiri.
Malam itu, pukul dua dini hari, ketika semua orang sudah pulang, Arman masih duduk sendirian di ruko, menatap slide yang sama. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan buku catatan lusuh yang selalu ia simpan. Halaman pertama, tulisan pudar: bantu warung kecil jangan rugi. Mulai dari nol. Ia menutup buku itu pelan. Garis akhir persiapan sudah hampir terlewati. Yang tersisa hanya badai.