Kabar pertama datang dari Citra, lewat pesan singkat yang membuat Arman hampir menjatuhkan kopinya. "Cek berita pagi ini. Investornya Wira mulai kabur."
Arman membuka tautan yang dikirim Citra. Sebuah artikel di media bisnis terkemuka—bukan tulisan Citra, melainkan media arus utama—memberitakan bahwa salah satu dana investasi besar yang selama ini berdiri di belakang Pak Wira menarik diri dari beberapa proyeknya. Alasan resmi yang disebut "evaluasi portofolio". Tapi di antara baris-baris bahasa korporat itu, Arman membaca yang sebenarnya: mereka mencium bau busuk, dan tidak mau namanya ikut tenggelam.
Nadia membaca di balik bahunya. "Ini gara-gara investigasi Citra yang lalu," katanya. "Reputasi Wira udah retak. Orang kaya nggak takut sama hukum. Mereka takut sama nama mereka ikut kotor."
Dalam beberapa hari, retakan itu melebar. Satu per satu, mitra Pak Wira mulai menjaga jarak. Sebuah perusahaan yang sebelumnya akan menggandeng StokJaya—atau apa pun sisa yang masih ia kendalikan—membatalkan pembicaraan secara diam-diam. Pak Damar mengirim kabar dari Garda: di kalangan eksekutif, nama Pak Wira mulai disebut dengan nada hati-hati, seperti orang menyebut barang yang sebaiknya tidak disentuh.
Arman tahu betul apa yang sedang terjadi, karena ia pernah melihatnya dari sisi sebaliknya. Bertahun-tahun lalu, ketika Bayu mengkhianati mereka dan StokJaya muncul dengan modal raksasa, justru Arman dan Nadia yang ditinggalkan—investor kecil mundur teratur karena mereka "sudah kalah duluan". Dunia ini bekerja dengan logika dingin: orang berbondong-bondong mendekati yang menang, dan kabur secepat mungkin dari yang akan tenggelam.
Kini logika dingin itu berbalik menimpa Pak Wira.
"Ironis," kata Nadia, saat mereka makan siang sederhana di warung dekat ruko. "Dia bikin nasib itu buat kita dulu. Sekarang nasib yang sama balik ke dia."
"Aku nggak senang," kata Arman, mengaduk soto di mangkuknya. Nadia menoleh, sedikit terkejut. "Maksudku—aku lega. Tapi aku nggak mau merasa menang gara-gara orang lain hancur. Aku udah lihat gimana rasanya ditinggalin pas jatuh. Itu nggak enak buat siapa pun."
Nadia menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. "Itu sebabnya kamu beda sama dia, Man. Dia akan menari kalau kita jatuh. Kamu malah kasihan pas dia jatuh."
Tapi Arman tahu, kegoyahan ini berbahaya justru karena membuat Pak Wira putus asa. Orang yang merasa masih punya banyak untuk dipertahankan akan berhati-hati. Orang yang merasa sudah kehilangan segalanya akan nekat. Dan Pak Wira, dengan kerajaan yang mulai runtuh di sekelilingnya, kini menjadi yang paling berbahaya.
Sore itu, dugaan Arman terbukti. Pak Gunawan datang ke ruko dengan wajah tegang.
"Salah satu saksi kita," katanya, meletakkan map di meja, "mantan staf administrasi proyek yang mau bersaksi soal aliran data—dia mendadak menarik kesaksiannya. Bilang dia 'salah ingat'. Telepon nggak diangkat, alamatnya kosong."
Ruangan hening. Arman merasakan firasat lama yang dingin merayap di tengkuknya. Ini bukan kebetulan. Ini cara kerja Pak Wira—ketika ia mulai goyah, ia tidak menyerah, ia memutus jejak dan menakuti siapa pun yang berani bicara.
"Dia mulai bersih-bersih," kata Nadia pelan, menyuarakan apa yang dipikirkan semua orang. "Dia tahu forum tinggal seminggu lagi. Dia goyah, tapi dia nggak akan jatuh sendirian."
Arman menatap map di meja, lalu menatap kalender yang menandai hari forum. Satu minggu lagi. Dan kekuatan mereka, yang tadi terasa kokoh, baru saja kehilangan satu pilar penting. Kerajaan Pak Wira retak—tapi dari setiap retakan, ia mengeluarkan cakar.