Tawaran itu datang pada saat yang paling tidak diduga—dan paling licik waktunya. Lima hari sebelum forum, ketika seluruh tim sudah kelelahan dan firasat buruk menggantung di udara ruko, sebuah pesan masuk ke ponsel Nadia. Bukan dari Pak Wira. Justru dari pihak yang sama sekali tak terduga: sebuah perusahaan teknologi besar dari luar negeri, yang sedang membangun divisi desain produk untuk pasar Asia Tenggara.
Nadia membaca pesan itu di pojok ruko, jauh dari yang lain. Tawaran untuk memimpin tim desain di perusahaan kelas dunia. Gaji yang angkanya membuat seluruh perjuangan bertahun-tahun di Stok Pintar terlihat seperti uang receh. Kantor di luar negeri. Nama besar di kartu nama. Dan—ini yang membuat tangannya dingin—mereka memintanya mulai dalam dua minggu. Tepat setelah forum. Seolah seseorang tahu persis kapan harus melempar umpan ini.
Ia tidak langsung memberitahu Arman. Selama dua hari ia menyimpannya sendiri, dan dua hari itu menjadi siksaan. Bukan karena ia tergoda meninggalkan misi—ia tidak. Tapi karena ia tahu, kapan tawaran ini datang bukan kebetulan. Ini diatur. Untuk memecah konsentrasi mereka menjelang forum, atau untuk menggoyahkan kepercayaan, atau—yang paling menyakitkan—untuk menanam keraguan di antara dirinya dan Arman.
Arman yang akhirnya menyadari ada yang salah. Ia mengenal Nadia terlalu baik setelah bertahun-tahun; ia tahu cara perempuan itu menggigit bibir ketika ada sesuatu yang dipendam.
"Kamu kenapa, Nad?" tanyanya suatu malam, ketika mereka berdua tinggal di ruko sambil menyusun naskah presentasi. "Dari kemarin kamu beda."
Nadia menarik napas, lalu menyerahkan ponselnya. Arman membaca pesan itu dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tidak juga ketakutan. Hanya kelelahan yang dalam.
"Mereka pilih waktunya pas banget," kata Arman akhirnya, pelan.
"Aku tahu," jawab Nadia. "Itu sebabnya aku marah. Ini bukan tawaran kerja. Ini umpan. Mungkin Wira, mungkin bukan—tapi tujuannya jelas. Bikin aku ragu. Bikin kita pecah pas paling butuh nyatu."
Arman meletakkan ponsel itu di meja. Untuk sesaat ia tidak berkata apa-apa. Ada bagian kecil dalam dirinya—bagian yang takut, yang selalu ingat bagaimana Bayu pergi—yang berbisik: bagaimana kalau ia pergi juga? Bagaimana kalau angka itu terlalu besar untuk ditolak?
Tapi ia menelan bisikan itu. Karena Nadia bukan Bayu. Karena dua tahun lebih mereka membangun kepercayaan yang ditempa badai, bukan dijual murah.
"Nad," katanya, memilih kata-katanya hati-hati. "Apa pun yang kamu pilih, aku nggak akan nyalahin kamu. Tawaran itu... itu masa depan yang kamu pantas dapat. Aman, besar, nggak harus terus-terusan perang kayak gini. Kalau kamu ambil, aku ngerti."
Nadia menatapnya, lalu menggeleng, dan ada air mata di sudut matanya—bukan air mata sedih, melainkan air mata orang yang lelah tapi yakin.
"Kamu tahu kenapa aku marah banget sama tawaran ini?" katanya. "Bukan karena godaannya. Tapi karena mereka pikir aku bisa dibeli. Mereka pikir prinsip itu cuma soal harga yang belum cukup tinggi." Ia mengusap matanya kasar. "Aku co-founder, Man. Bukan tukang gambar. Aku yang bilang itu pas pertama ketemu kamu, inget? Stok Pintar ini separuh aku. Pedagang itu juga punyaku. Aku nggak akan ninggalin mereka—dan aku nggak akan ninggalin kamu—lima hari sebelum perang."
Arman merasakan sesuatu mengetat di dadanya. Bukan lega semata. Sesuatu yang lebih dalam, yang sudah tumbuh sejak malam di trotoar Kafe Tanduk dan tak pernah berani ia beri nama.
"Aku tetap," kata Nadia tegas, seolah memutus pita keraguan terakhir. "Bukan karena aku nggak punya pilihan. Tapi karena aku milih ini. Milih kamu. Milih mereka. Itu pilihanku, dan nggak ada angka yang bisa beli."
Ia mengetik balasan singkat ke perusahaan itu, menolak dengan sopan, lalu meletakkan ponselnya menelungkup di meja. Lega yang aneh menyelimuti ruangan.
Arman menatapnya. Kalimat yang dulu menggantung di trotoar, yang tertunda oleh undangan raksasa bertahun-tahun lalu, kembali naik ke tenggorokannya. Tapi ia menahannya. Bukan sekarang. Bukan dengan badai yang tinggal lima hari lagi. Kalimat itu pantas mendapat waktu yang lebih baik dari ini.
"Makasih, Nad," hanya itu yang ia ucapkan. Tapi cara ia mengucapkannya membuat Nadia tahu, ada lebih banyak kata yang tertahan di baliknya.