Malam terakhir sebelum forum, ruko Stok Pintar tetap menyala lewat tengah malam, tapi suasananya berbeda. Tidak ada lagi kepanikan menyusun bukti, tidak ada lagi latihan presentasi. Semua sudah siap—sesiap yang mereka bisa. Reza sudah pulang setelah memastikan setiap berkas teknis tersimpan di tiga tempat berbeda. Sinta sudah mengabari Bu Wati bahwa rombongan pedagang akan berangkat subuh. Pak Gunawan sudah memeriksa naskah keberatan untuk terakhir kalinya. Yang tersisa hanya menunggu.
Arman duduk sendirian di mejanya, ditemani secangkir kopi sachet yang sudah mendingin—kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia membuka laci, mengeluarkan buku catatan lusuh itu, dan membukanya di halaman pertama. Tinta yang sudah pudar termakan waktu, tapi tulisannya masih terbaca: Stok Pintar. Bantu warung kecil jangan rugi. Mulai dari nol.
Ia mengusap kata terakhir dengan jempolnya. Mulai dari nol. Dua kali ia mulai dari nol—sekali di kos sempit ini, sekali lagi di trotoar Kafe Tanduk setelah semuanya runtuh. Besok, dalam cara yang berbeda, ia akan mulai dari nol untuk ketiga kalinya. Bukan membangun produk, tapi mempertaruhkan segalanya yang sudah dibangun dalam lima belas menit di hadapan orang-orang yang punya kuasa menghancurkannya.
"Masih melekuk-melekuk di buku tua itu?"
Arman menoleh. Nadia berdiri di ambang pintu, dua bungkus nasi kucing di tangan dan dua es teh di tangan satunya. Ia tersenyum lelah, lalu masuk dan meletakkan semuanya di meja.
"Nasi kucing," kata Arman, hampir tertawa. "Sama persis kayak malam pertama kita ngerancang versi ringan."
"Aku sengaja," kata Nadia, duduk di kursi seberang. "Biar kita inget dari mana kita mulai. Besok bakal gede banget, Man. Forum, pers, pemerintah, Wira. Gampang lupa kalau semuanya tuh berawal dari dua orang ngunyah nasi kucing di trotoar."
Mereka makan dalam diam yang nyaman, diam yang hanya bisa ada di antara dua orang yang sudah melewati terlalu banyak bersama. Di luar, kota mulai sepi, suara kendaraan menipis menjadi sesekali. Lampu jalan menyiram jendela ruko dengan cahaya kuning yang sama dengan cahaya di trotoar Kafe Tanduk dulu.
"Kamu takut?" tanya Nadia akhirnya, memecah hening.
Arman berpikir sejenak sebelum menjawab. "Takut," akunya jujur. "Tapi bukan takut kalah. Aku takut kita menang, tapi caranya bikin kita jadi kayak dia. Aku takut besok, di tengah forum, aku kebawa amarah, terus aku nyerang Wira buat balas dendam, bukan buat lindungi pedagang." Ia menatap kopi dinginnya. "Garisnya tipis banget, Nad. Antara nuntut keadilan sama haus balas dendam."
Nadia mengulurkan tangan ke seberang meja, menyentuh tangan Arman. "Itu sebabnya kita berdua di sana besok. Kalau kamu mulai nyebrang garis, aku tarik kamu balik. Kalau aku yang nyebrang, kamu tarik aku. Kita jaga satu sama lain. Kayak selalu."
Arman menggenggam tangan itu, dan untuk sesaat mereka hanya diam, dua siluet di ruko yang menyala di tengah kota yang tidur. Ada banyak hal yang ingin Arman katakan—kalimat yang sudah tertunda bertahun-tahun, yang nyaris terucap di trotoar dan tergantung oleh satu undangan. Ia merasakan kalimat itu mendesak lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
Tapi sekali lagi, ia menahannya. Bukan karena takut. Tapi karena ia ingin mengucapkannya saat badai sudah lewat, saat ia bisa menatap Nadia tanpa bayang-bayang Pak Wira di antara mereka. Ia ingin kalimat itu jadi milik mereka sepenuhnya, bukan milik ketegangan menjelang perang.
"Besok," kata Arman pelan, melepas genggaman dengan enggan, "habis semua ini selesai. Aku punya sesuatu yang mau aku omongin sama kamu. Sesuatu yang udah lama banget aku tunda."
Nadia menatapnya, dan untuk sesaat tembok terakhir di matanya runtuh sepenuhnya. Ia tahu. Ia selalu tahu. "Aku tunggu," bisiknya.
Mereka tidak tidur banyak malam itu. Tapi ketika subuh mulai menyingsing dan azan terdengar samar dari masjid di kejauhan, keduanya merasa siap. Bukan siap tanpa takut—tapi siap dengan takut yang dipikul bersama. Arman menutup buku catatan lusuhnya, memasukkannya ke tas. Ia akan membawanya ke forum. Karena di hari paling besar dalam hidupnya, ia ingin mengingat dari mana semuanya berasal.
Dari nol. Selalu dari nol.