Serangan itu datang tiga jam sebelum forum dimulai, persis seperti yang dikhawatirkan Arman. Ia sedang mengenakan kemeja terbaiknya—yang kali ini benar-benar baru, dibelikan Nadia—ketika ponselnya mendadak dibanjiri notifikasi. Lalu Citra menelepon, suaranya cepat dan tegang.
"Man, ada yang nyebar tulisan soal kalian. Pagi ini, sengaja, biar maksimal pas forum. Buka grup-grup pedagang, buka media kecil. Cek sekarang."
Arman membuka tautan yang dikirim Citra, dan perutnya mengejang. Sebuah artikel di portal abal-abal, ditulis tanpa nama, dengan judul yang dirancang untuk menusuk: dugaan bahwa Stok Pintar diam-diam menjual data pedagang ke perusahaan asing, bahwa "idealisme" mereka hanya topeng, bahwa Arman dan Nadia sudah menerima uang besar dari pihak luar negeri untuk menjatuhkan proyek nasional. Tulisan itu bahkan menyertakan tangkapan layar—pesan tawaran kerja yang diterima Nadia lima hari lalu—sebagai "bukti" bahwa mereka kaki tangan asing.
Tangan Arman mendingin. Tawaran kerja Nadia. Hanya segelintir orang yang tahu soal itu. Yang berarti sumbernya bukan kebetulan—ini bocoran yang sengaja ditanam, dipelintir, dan diledakkan di waktu paling mematikan.
Nadia, yang membaca di balik bahunya, wajahnya memucat lalu memerah oleh marah. "Mereka muter balik tawaran yang justru aku tolak," katanya, suaranya bergetar. "Mereka pakai bukti aku setia buat tuduh aku khianat. Ini—ini kejam banget."
Dalam setengah jam, tulisan itu menyebar ke mana-mana. Beberapa pedagang yang akan berangkat ke forum mengirim pesan ragu ke Sinta. Seorang pejabat di panitia forum menelepon Pak Gunawan, nadanya berubah dingin. Bahkan dua media yang tadinya simpatik kini menahan diri, menunggu klarifikasi. Dalam hitungan menit, badai yang sudah mereka antisipasi berubah bentuk—bukan datang dari depan, tapi dari belakang, menikam reputasi yang selama ini jadi senjata utama mereka.
Tim berkumpul tergesa di ruko. Reza mengusulkan menyerang balik, membongkar siapa pemilik portal abal-abal itu. Sinta panik memikirkan pedagang yang mungkin batal datang. Pak Gunawan berdebat soal apakah harus menuntut pencemaran nama baik. Suasana nyaris kalut, dan untuk sesaat, Arman merasakan tanah goyah di bawah kakinya—perasaan lama yang sama dengan malam ketika ia tahu Bayu mengkhianatinya.
"BERHENTI." Suara Nadia memotong kekalutan. Semua menoleh. Ia berdiri, masih pucat, tapi matanya menyala dengan ketenangan yang aneh. "Kalian semua main di lapangan dia. Wira mau kita panik. Mau kita sibuk membela diri sampai lupa tujuan. Mau kita nyerang balik sampai keliatan kayak orang bersalah yang ketakutan."
Ruangan hening. Arman menatap Nadia, dan pelan-pelan, kekalutan dalam dirinya mereda. Nadia benar. Ini taktik yang sama. Selalu sama. Pancing lawan ke lapangannya, pakai senjatanya. Dan dua tahun lalu mereka belajar—main di lapangan sendiri, di lapangan yang lawan tidak bisa masuk.
"Lapangan dia itu fitnah dan kepanikan," kata Arman, suaranya kembali mantap. "Lapangan kita kebenaran dan keterbukaan. Kita nggak akan ladenin tuduhan satu-satu kayak orang kepojok. Kita bawa semuanya ke forum, terang-terangan, di depan semua orang."
Pak Gunawan mengernyit. "Itu berisiko, Man. Kalau kalian nggak bantah sekarang, banyak yang udah telanjur percaya."
"Kalau aku bantah sekarang di portal abal-abal," jawab Arman, "aku ngasih panggung ke kebohongan. Aku mau panggung yang lebih besar. Forum itu. Di sana ada pers, ada pemerintah, ada pedagang, ada Garda. Di sana aku nggak cuma bantah—aku tunjukkin siapa yang nyebar, dan kenapa." Ia menatap Nadia. "Tawaran kerja kamu, yang mereka jadiin bukti khianat—itu justru bukti kita ditarget. Kita balik senjatanya."
Nadia mengangguk pelan, dan senyum tipis muncul di sudut bibirnya meski matanya masih basah. "Mereka kasih kita amunisi sendiri," katanya. "Mereka kira bocoran ini bakal nenggelamin kita. Padahal mereka baru aja nunjukkin ke semua orang seberapa takutnya Wira sama lima belas menit kita."
Arman mengambil tasnya, memastikan buku catatan lusuh itu masih di dalam. Ia menatap timnya satu per satu—Reza, Sinta, Pak Gunawan, dan Nadia di sampingnya. Bocoran terakhir Pak Wira sudah dilemparkan. Madu, lalu kail—tapi kali ini, mereka melihat kailnya sebelum menggigit.
"Ayo," kata Arman. "Kita punya forum buat didatangi."