Gedung tempat forum diadakan jauh lebih besar dari hotel tempat mereka pitching dulu. Aula utamanya bisa menampung ratusan orang, dan pagi itu hampir penuh: anggota dewan pengarah proyek di meja depan, barisan wartawan dengan kamera, pejabat pemerintah, dan—yang membuat dada Arman menghangat—rombongan pedagang yang dibawa Bu Wati, duduk berdesakan di kursi belakang dengan baju terbaik mereka, banyak yang baru pertama kali masuk gedung semegah itu.
Arman dan Nadia masuk berdampingan. Di antara kerumunan, mata Arman langsung menemukannya: Pak Wira, duduk di barisan tamu kehormatan, mengenakan jas abu-abu mahal yang sama seperti dua tahun lalu, dengan senyum hangat yang sama. Tapi kali ini Pak Wira tidak datang sebagai investor yang menawarkan satu miliar. Ia datang sebagai pihak yang reputasinya sedang retak, yang baru saja melempar bocoran terakhirnya, dan yang—Arman bisa membacanya dari cara pria itu menatap—tahu bahwa ini pertaruhan terakhir bagi mereka berdua.
Sebelum acara dimulai, seorang panitia menghampiri Arman, suaranya canggih. "Pak Arman, mengingat... pemberitaan pagi ini, beberapa anggota dewan mempertanyakan apakah keberatan Anda masih relevan. Ada usulan agar slot Anda dibatalkan."
Arman merasakan jantungnya melompat. Inilah maksud sebenarnya dari bocoran itu—bukan sekadar mengotori reputasi, tapi mencabut panggung mereka sebelum sempat bicara. Ia menatap Nadia. Nadia mengangguk, tenang.
"Justru karena pemberitaan pagi ini," kata Arman, suaranya jelas, cukup keras untuk didengar wartawan terdekat, "saya minta slot saya tetap diberikan. Kalau dewan membatalkan kesempatan saya bicara tepat di pagi ketika fitnah disebar tentang saya, publik akan bertanya: siapa yang takut pada kebenaran?"
Beberapa wartawan mencatat cepat. Panitia itu ragu, lalu mundur. Slot tetap ada. Pancingan pertama gagal.
Forum dimulai. Pihak proyek memaparkan rencana kemitraan dengan penuh percaya diri, menyebut subkontraktor yang—Arman tahu betul—terhubung diam-diam ke Pak Wira sebagai "mitra teknologi terpercaya". Slide demi slide menampilkan janji indah tentang digitalisasi UMKM nasional. Madu, lagi. Disampaikan dengan lancar, meyakinkan, dan dengan istilah-istilah keren yang membuat sebagian besar hadirin mengangguk-angguk.
Lalu nama Arman dipanggil.
Ia berjalan ke depan bersama Nadia, jantungnya berdebar persis seperti dua tahun lalu, tapi langkahnya lebih mantap. Ia tidak langsung menyerang. Ia tidak membantah fitnah dengan panik. Sebaliknya, slide pertamanya muncul di layar besar, dan seluruh aula terdiam.
Bukan grafik. Bukan diagram aliran data. Sebuah foto: warung tua di ujung gang, dengan Pak Haji tersenyum di depannya.
"Sebelum saya bicara soal data, server, dan kontrak," kata Arman, suaranya tenang menyapu ruangan, "saya mau kenalin satu orang. Namanya Pak Haji. Warungnya hampir tutup beberapa tahun lalu, karena dia selalu salah nebak stok. Sama seperti warung ibu saya, yang beneran tutup, dan ibu saya nggak pernah tahu kenapa dia selalu rugi."
Aula sunyi. Bahkan wartawan berhenti mengetik.
"Pagi ini," lanjut Arman, "ada tulisan yang bilang saya jual data pedagang seperti Pak Haji ke asing. Buktinya: tawaran kerja yang diterima rekan saya, Nadia, dari perusahaan luar negeri." Ia menatap langsung ke arah dewan, lalu ke arah Pak Wira. "Saya nggak akan membantah dengan kata-kata. Saya akan tunjukkan faktanya."
Nadia mengambil alih, menampilkan tangkapan layar pesan itu—lengkap, tidak dipotong seperti di portal abal-abal—termasuk balasannya. "Ini tawarannya," kata Nadia, suaranya jernih. "Dan ini jawaban saya. Saya tolak. Lima hari lalu. Saya tolak karena saya nggak mau ninggalin pedagang yang percaya sama kami, tepat sebelum forum ini." Ia berhenti, membiarkan aula membaca. "Orang yang nyebar tulisan tadi pagi punya akses ke pesan pribadi ini. Pertanyaannya: siapa yang bisa tahu tawaran ini, dan kenapa dia nyebarnya tepat tiga jam sebelum forum?"
Gumaman menjalar di ruangan. Beberapa kepala menoleh, tanpa sengaja, ke arah barisan tamu kehormatan. Arman melihat senyum Pak Wira menegang sedikit—hanya sedikit, tapi ia melihatnya.
"Kami nggak datang ke sini buat membela diri," kata Arman, kembali mengambil alih. "Kami datang buat menjawab satu pertanyaan yang lebih besar: siapa yang sebenarnya mau jual data jutaan pedagang Indonesia? Dan jawabannya," ia mengeklik slide berikutnya, dan layar berganti menjadi diagram aliran data yang disusun Reza dan diverifikasi Garda, "ada di sini."
Aula menahan napas. Arman menatap Nadia sekilas; Nadia mengangguk. Mereka sudah melewati pancingan, sudah membalikkan fitnah jadi senjata. Sekarang, lima belas menit yang sebenarnya baru saja dimulai.