Layar besar di aula menampilkan diagram itu—garis-garis aliran data yang bagi orang awam mungkin terlihat rumit, tapi Arman akan membuatnya sejelas matahari. Ia menarik napas. Lima belas menit. Dua tahun lebih perjuangan, semua pengkhianatan, semua kekalahan, semua kebangkitan—semuanya menyempit menjadi lima belas menit di hadapan ratusan pasang mata.
"Proyek ini," Arman memulai, menunjuk satu titik di diagram, "rencananya menyimpan data jutaan pedagang UMKM di sistem yang dikelola subkontraktor 'mitra teknologi terpercaya' tadi. Yang nggak disebut di presentasi tadi adalah: data itu nggak berhenti di server pemerintah. Lihat garis ini." Ia menunjuk sebuah cabang yang menjulur keluar. "Data mengalir ke server kedua. Server yang nggak dikendalikan pemerintah. Server yang dimiliki—lewat tiga lapis perusahaan kertas—oleh satu orang."
Ia mengeklik. Sebuah bagan kepemilikan muncul, disusun rapi oleh Pak Gunawan, dilacak dari satu perusahaan ke perusahaan lain sampai ke nama di puncak. Aula menahan napas serentak. Nama itu, dicetak besar di layar: Wira.
Gumaman pecah seperti gelombang. Kamera berputar ke arah barisan tamu kehormatan. Pak Wira duduk tegak, senyumnya masih ada, tapi tangannya yang mencengkeram sandaran kursi memutih di buku-bukunya.
"Ini bukan tuduhan kosong," kata Arman cepat, sebelum keraguan sempat tumbuh. "Setiap garis di diagram ini bisa diverifikasi. Tim teknis kami menyusunnya, dan—ini penting—dua analis independen dari Garda memverifikasi hasilnya tanpa kami pengaruhi. Hasilnya cocok sampai detail terkecil." Ia menatap dewan. "Bapak-Ibu nggak perlu percaya kami. Bapak-Ibu cukup minta verifikasi ketiga, dan hasilnya akan sama."
Nadia mengambil alih, dan layar berganti—dari diagram dingin menjadi wajah-wajah. Foto demi foto pedagang. "Di balik tiap titik data itu," katanya, suaranya bergetar oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar argumen, "ada orang. Ada Bu Sari, penjual sayur, yang dulu buang dagangan busuk tiap minggu karena salah kulak. Ada Pak Haji. Dan ada puluhan perwakilan yang hari ini berdiri di belakang ruangan ini, mewakili tiga ribu pedagang yang menitipkan suaranya pada mereka." Ia menunjuk ke barisan belakang, dan ratusan kepala menoleh ke para pedagang yang berdiri kikuk dalam baju terbaik mereka. "Mereka bukan angka. Mereka manusia yang datanya mau dicuri, biar nanti mereka bisa diperas pelan-pelan. Itu pola yang sama yang kami lihat bertahun-tahun ini. Madu dulu, baru kailnya."
Lalu Pak Wira berdiri. Suaranya, ketika ia bicara tanpa diminta, sehalus dan sehangat dulu, tapi kali ini ada retak tipis di dalamnya.
"Ini menyentuh," katanya, tersenyum ke arah dewan. "Tapi anak-anak muda ini punya dendam pribadi pada saya. Diagram bisa dibuat-buat. Mereka programmer—mereka bisa menggambar apa saja. Dan pagi ini sendiri sudah terbukti mereka punya hubungan dengan asing—"
"Yang mana, Pak?" potong Arman, dan untuk pertama kalinya suaranya naik. Bukan oleh amarah—ia ingat janji Nadia, ingat garis tipis yang harus dijaga—tapi oleh ketegasan yang dingin. "Hubungan dengan asing yang Bapak maksud, itu tawaran yang ditolak rekan saya, yang bocor cuma ke segelintir orang. Bapak baru saja menyebutnya. Pertanyaan saya cuma satu: dari mana Bapak tahu soal tawaran itu, kalau Bapak nggak ada hubungannya sama bocoran tadi pagi?"
Aula membeku. Pak Wira berhenti, dan untuk satu detik yang terasa panjang, senyumnya pudar. Wartawan mencatat dengan kalap. Ia baru saja, di depan ratusan saksi, menyebut sebuah informasi yang seharusnya tidak ia ketahui.
"Saya—" Pak Wira mencoba pulih, "—saya baca di berita pagi ini, seperti semua orang."
"Berita pagi ini nggak menyebut bahwa tawaran itu ditolak," kata Nadia pelan, tapi setiap kata terdengar jelas di aula yang sunyi. "Yang tahu soal penolakannya cuma kami dan orang yang bocorin pesannya. Bapak barusan bilang 'tawaran yang ditolak'. Bapak tahu lebih banyak dari yang Bapak akui."
Hening. Hening yang berat, yang membongkar. Arman melihat ke barisan dewan—wajah-wajah yang tadi ragu kini mengeras, menatap Pak Wira dengan tatapan baru. Ia melihat ke barisan pers—pena bergerak liar. Ia melihat ke barisan belakang, ke wajah Bu Wati dan para perwakilan pedagang, dan ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di wajah mereka ketika berhadapan dengan kuasa: bukan takut, tapi marah yang tenang.
"Lima belas menit," kata Arman, suaranya kembali tenang, menutup. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—buku catatan lusuh itu—dan meletakkannya di podium, tidak untuk dibaca, hanya untuk diingat. "Dua tahun lalu kami punya lima belas menit buat minta orang percaya bahwa warung kecil layak diselamatkan. Hari ini kami punya lima belas menit lagi. Bedanya, hari ini kami nggak minta uang. Kami cuma minta satu hal: jangan biarkan data jutaan pedagang jadi madu di ujung kail. Mereka udah cukup sering rugi. Mereka nggak boleh rugi lagi karena dijual diam-diam oleh orang yang seharusnya melindungi mereka."
Ia melangkah mundur. Nadia berdiri di sampingnya. Aula sunyi total selama tiga detik penuh—lalu di barisan belakang, satu pedagang tua mulai bertepuk tangan. Lalu satu lagi. Lalu Bu Wati. Lalu seluruh barisan pedagang berdiri, tepuk tangan menggemuruh mengisi aula megah itu, suara orang-orang kecil yang untuk pertama kalinya didengar di ruangan tempat keputusan besar dibuat.
Arman menatap Pak Wira di tengah gemuruh itu. Pria berjas abu-abu itu berdiri kaku, senyumnya sudah hilang sepenuhnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka berhadapan, Arman tidak melihat ancaman di matanya. Ia melihat seseorang yang baru saja kehilangan satu-satunya senjata yang ia punya: kemampuan menyembunyikan diri.
Lima belas menit telah lewat. Tapi kali ini, tidak seperti dulu, Arman tahu—mereka tidak hanya bertahan. Mereka menang. Dan badai yang sebenarnya, badai yang akan meruntuhkan segalanya yang Pak Wira bangun, baru saja dimulai.