Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang bisa dikendalikan siapa pun. Bukan karena Stok Pintar membayar iklan—mereka tidak pernah punya uang untuk itu—tapi karena video forum itu beredar dari ponsel ke ponsel, dari grup pedagang ke grup pedagang. Dalam dua hari, potongan Pak Wira berdiri tanpa jawaban di tengah ruangan dewan sudah ditonton jutaan kali. Orang-orang memberinya judul sendiri: "Detik-detik Sang Pemberi Madu Kehabisan Madu."
Arman menonton runtuhnya dari kantor mereka, ruko kecil yang sudah mereka tempati bertahun-tahun, dengan perasaan yang tidak ia duga. Satu per satu kabar masuk. Mitra-mitra yang dulu antre untuk berfoto dengan Pak Wira kini mengeluarkan pernyataan menjaga jarak. Dana kelolaan yang ia bangun selama puluhan tahun mulai ditarik investornya—orang-orang kaya yang menanamkan uang bukan karena percaya pada Pak Wira, tapi karena ia selalu menang. Dan kini ia tidak lagi menang.
"Reza, matiin dulu videonya," kata Arman pelan. Engineer muda itu menurut, menutup laptop. Di ruangan kecil itu, tim lengkap mereka berkumpul—Reza, Sinta, beberapa karyawan baru, dan Bu Linda yang datang sebagai penasihat. Tidak ada pesta. Hanya keheningan orang-orang yang baru saja menyaksikan raksasa tumbang dan tidak tahu harus merasa bagaimana.
"Aku kira aku bakal senang," kata Nadia, duduk di kursi kayu, memeluk lututnya. "Tapi aku malah cuma capek."
Bu Linda, perempuan berkacamata yang selama ini jadi suara waras mereka, mengangguk. "Itu wajar. Kalian habiskan bertahun-tahun melawan satu orang. Sekarang orang itu jatuh, dan kalian sadar perang itu nggak pernah benar-benar soal dia. Soal apa yang kalian jaga."
Arman teringat kalimat Pak Wira di lantai dua puluh, bertahun-tahun lalu: idealisme tidak bisa dimakan. Pria itu salah, tapi tidak sepenuhnya. Idealisme memang tidak bisa dimakan—tapi ia bisa bertahan, mengakar, dan tumbuh di tanah yang uang besar tidak sudi sentuh. Dan pada akhirnya, aturan main yang sama yang dulu Pak Wira langgar dengan tenang—kontrak yang dijebak, kode yang dicuri, data yang dibajak—justru aturan itulah yang menjeratnya. Bukan keajaiban. Bukan tangan Tuhan yang turun. Hanya bukti yang terkumpul sabar, saksi yang berani bicara, dan publik yang akhirnya menolak ditipu.
Sore itu, Pak Gunawan datang membawa map tebal. Pengacara muda yang dulu ragu menerima kasus mereka kini bicara dengan keyakinan yang berbeda. "Berkasnya sudah masuk ke penyidik," katanya. "Pencurian data, persekongkolan, penyalahgunaan dalam proyek negara. Aku nggak janji dia masuk penjara—orang seperti dia punya pengacara terbaik, dan hukum kita tidak sempurna. Tapi yang pasti, dia nggak akan pernah lagi bisa duduk di meja yang sama dengan pejabat dan disebut terhormat. Itu sudah hukuman yang tidak bisa dibeli."
Arman mengangguk. Ia tidak pernah mengejar penjara untuk Pak Wira. Yang ia kejar adalah agar tidak ada lagi pedagang kecil yang dijebak madu di ujung kail, agar tidak ada lagi anak muda idealis yang dibeli dan dibuang seperti Bayu. Kalau kerajaan Pak Wira runtuh, runtuh oleh tangannya sendiri, itu sudah cukup.
Malam harinya, ponsel Arman bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir tidak mengangkat. Tapi sesuatu membuatnya menekan tombol hijau.
"Anak muda." Suara itu masih ada, tapi madunya sudah kering. "Saya cuma mau bilang satu hal. Kalian menang kali ini. Tapi dunia ini tidak berubah karena dua orang idealis dari kos sempit."
Arman menatap keluar jendela ruko, ke jalanan yang basah oleh hujan. "Bapak benar, Pak. Dunia nggak berubah. Tapi satu gang berubah. Terus satu pasar. Terus satu kota. Saya nggak butuh ngubah dunia. Saya cuma butuh warung-warung kayak punya ibu saya nggak rugi terus."
Hening panjang di seberang. Lalu sambungan terputus, tanpa salam, tanpa ancaman. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal Pak Wira, pria itu tidak punya kalimat terakhir yang dingin dan tajam. Ia hanya pergi—seperti orang yang akhirnya kehabisan kail, dan menyadari madunya tidak pernah cukup untuk siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Arman meletakkan ponsel. Nadia berdiri di ambang pintu, menatapnya. "Dia?" tanyanya.
"Dia," jawab Arman. "Tapi udah selesai, Nad. Beneran selesai kali ini."
Nadia tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berjalan mendekat, berdiri di sampingnya, dan ikut menatap hujan. Di luar, kota bergerak seperti biasa, tidak peduli bahwa malam ini sebuah kerajaan baru saja runtuh tanpa suara. Hanya mereka berdua yang tahu betapa besarnya yang baru saja berakhir—dan betapa mahal harga yang sudah mereka bayar untuk sampai ke sini.