Kemenangan, Arman belajar, tidak pernah datang dalam keadaan utuh. Beberapa hari setelah Pak Wira runtuh, ketika euforia mereda dan kantor kembali sunyi, ia mulai menghitung apa saja yang hilang di sepanjang jalan.
Proyek pemerintah itu, yang sempat mereka perjuangkan, akhirnya batal sepenuhnya. Bukan karena mereka kalah, tapi karena seluruh tender itu busuk dari dalam dan harus diulang dari nol. Berbulan-bulan kerja, ratusan jam negosiasi, semua menguap. Stok Pintar tidak mendapat kontrak nasional yang dulu mereka impikan. Mereka kembali ke ukuran semula—perusahaan kecil yang melayani warung-warung kecil. Sebagian orang akan menyebut itu kekalahan.
Lebih berat dari itu, dua karyawan mengundurkan diri. Bukan pengkhianatan seperti Bayu dulu—mereka pergi baik-baik, dengan air mata bahkan—tapi tekanan berbulan-bulan melawan kekuatan sebesar Pak Wira telah menguras mereka. "Aku capek, Mas Arman," kata salah satunya, seorang engineer yang ikut sejak ekspansi ke timur. "Aku mau kerja yang biasa-biasa aja. Yang nggak tiap hari kayak perang." Arman tidak menahannya. Ia memeluk anak muda itu, mengucapkan terima kasih, dan membiarkannya pergi. Karena ia tahu betul rasanya lelah sampai ke tulang.
Lalu ada Nadia. Arman menemukannya suatu malam masih di kantor, kepala tertelungkup di meja, lampu satu-satunya menyala redup. Untuk sesaat ia takut Nadia sakit. Tapi ketika perempuan itu mengangkat kepala, yang Arman lihat bukan sakit fisik—melainkan kelelahan yang jauh lebih dalam, jenis yang tidak bisa disembuhkan tidur semalam.
"Aku baik-baik aja," kata Nadia, suaranya parau.
"Nggak," sahut Arman, menarik kursi, duduk di sampingnya. "Kamu nggak baik-baik aja. Dan itu nggak apa-apa."
Nadia diam lama. Lalu, pelan, ia mulai bicara—tentang berbulan-bulan ia memikul komunitas pedagang, menenangkan mereka tiap kali StokJaya menyerang dengan perang harga, menjadi wajah yang harus selalu kuat di depan ribuan orang yang bergantung pada mereka. Tentang bagaimana ia mulai lupa kapan terakhir kali ia menggambar sesuatu hanya karena senang, bukan karena harus. Tentang malam-malam ia menangis di kamar mandi kantor agar tidak ada yang melihat.
Arman mendengarkan tanpa memotong. Ia teringat pelajaran pahit dulu—bagaimana ia kehilangan Bayu karena terlalu sibuk mengejar mimpi sampai lupa pada manusia di sekitarnya. Ia tidak akan mengulang kesalahan itu. Tidak dengan Nadia.
"Kita berhenti dulu," katanya akhirnya.
Nadia mengangkat alis. "Kita nggak bisa berhenti, Man. Pedagang—"
"Pedagang bisa nunggu seminggu," potong Arman, tegas tapi lembut. "Sinta bisa pegang komunitas sebentar. Reza pegang teknis. Kamu istirahat. Bukan saran. Ini keputusan dibagi dua, dan separuh keputusan ini bilang kamu harus berhenti sebelum kamu hancur."
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Nadia tertawa kecil. "Kamu mencuri kalimat 'keputusan dibagi dua' buat maksa aku istirahat. Curang."
"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Arman.
Mereka duduk dalam diam yang nyaman. Di luar, lampu jalan menyala satu per satu. Arman menyadari sesuatu yang tidak pernah ia mengerti di tahun-tahun awal: bahwa membangun perusahaan yang berprinsip tidak ada gunanya kalau ia menghancurkan orang-orang di dalamnya untuk mempertahankannya. Grafik bisa naik turun. Pengguna bisa datang dan pergi. Tapi manusia—Nadia, Reza, Sinta, para pedagang—mereka bukan angka di laporan.
Kemenangan atas Pak Wira nyata. Tapi harganya juga nyata: kontrak yang batal, orang-orang yang pergi, dan perempuan di sampingnya yang nyaris patah karena terlalu lama menanggung beban yang seharusnya dibagi. Arman tidak akan pura-pura semua baik-baik saja. Ia hanya bertekad, mulai malam ini, untuk menghitung manusia sebelum menghitung angka.
"Besok kita nggak ke kantor," kata Arman. "Kita ke pasar. Bukan buat kerja. Buat beli pisang goreng Pak Haji, terus duduk di trotoar, nggak ngomongin apa-apa soal aplikasi."
Nadia menatapnya, dan di mata yang lelah itu, sesuatu yang hangat menyala kembali. "Deal," katanya.